
Wedding Day
"Saya terima nikah dan kawinnya, Alana Putri Zahran dengan emas kawin tersebut dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.",
Kata sakral diucapkan lancar oleh Dava.
Ya! Hari ini adalah hari pernikahaan Alana dan Dava mereka sudah sah menjadi suami istri.
Alana mencium punggung tangan Dava, dan di usap kepala Alana dengab lembut. Dava membekap dua pipi Alana dan mencium kening Alana dengan sayang.
Kedua orang tua mempelai duduk dan menangis terharu, Alana dan Dava melakukan sungkeman.
Alana dan Dava memeluk kaki sang ibunya.
"Bunda, Ayah maafkan kesalahan Alana selama ini." ucap Alana memeluk kaki Sari sambil terisak haru.
Sari mengusap punggung Alana menenangkannya.
"Kami memaafkanmu dengan setulus hati." ucap Sari.
"Maafkan saya belum bisa membahagiain kalian." ucap Dava menggenggam tangan sang ibu.
"Bimbinglah istrimu, jaga dia seperti menjaga kamu." ucap Jihan mengusap kepala Dava.
"jadikan istrimu sebagai rumah, jadikan istrimu sebagai tempat kamu pulang. Cintai dia sebagaimana kamu mencintai kami." Ucap Ayah Dava.
Setelah acara sungkeman, mereka berfoto ria. Tamu yang datang cukup ramai, tamu yang paling banyak yaitu teman-teman Dava.
"Samawa ya bro! Gile bini lu cakep juga. Diem-diem merit." ucap rekan Dava, ia menepuk bahu Dava.
Kebimbangan pernah menghampiri Alana, ia sempat ragu untuk melanjutkan pernikahaan. Setelah berperang dengan egonya, banyak masukan dan saran yang ia terima dari orang-orang terdekatnya, akhirnya Alana menemukan jalan dan keputusannya.
Kaki Alana sangat keram, daru tadi banyak sekali yang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
"kamu pegel?" tanya Dava khawatir.
Alana mengangguk meng-iyakan.
"Duduk aja gapapa." ucap Dava menuntun Alana duduk.
Alana merasa sangat lelah, ia menatap kue pengantin disampingnya. Kue dengan ukuran cukup besar memiliki banyak coklat disetiap sudutnya.
Alana menarik lengan baju Dava, membuat sang empu menengok.
"Kenapa hm?" tanya Dava ikut duduk disamping Alana.
"Alana pengen kue itu." bisik Alana di telinga Dava sambil menunjuk kue.
Dava terkekeh dan mencubit pipi Alana gemas. Entah mengapa disetiap ekspresi Alana tunjukan membuatnya ingin tertawa dan mencubit kedua pipi gembulnya.
"Cuma mau kue itu harus bisik-bisik ya." goda Dava membuat pipi Alana bersemu merah.
"Ih kakak!" ucap Alana merengek.
Dava berjalan untuk mengambil kue dengan ukuran besar.
Alana mengambil nya dengan sumringah. Dan segera ingin melahapnya, baru saja hendak mendarat di mulutnya Dava langsung mencegah nya.
"kenapa?" tanya Alana.
"Berdoa dulu,"
Alana mengangguk dan berdoa. Setelah berdoa ia langsung memakannya dengan lahap.
Dava tersenyum melihat tingkah Alana, wajah cantiknya terdapat coklat yang merusak riasannya.
__ADS_1
"Makannya pelan-pelan, kuenya gak akan lari kok." ucap Dava sambil membersihkan noda coklat di sudut bibir Alana.
Alana mematung, jantungnya berdegup kencang.
"Ehem." dehem seseorang membuat Alana meletakkan kuenya.
"Rika!" teriak Alana langsung memeluk Rika erat.
Pasalnya, Rika baru saja pergi ke Amerika sehari setelah kelulusan. Rika bilang ia tak akan bisa datang ke perbikahan Alana membuat Alana sangat sedih.
Tapi sekarang, ia datang tanpa memberi tahu dirinya.
"katanya Rika ngga bisa datang, tapi sekarang ada."
Rika sadar bahwa Alana tengah menangis, dengan segera ia melepaskan pelukannya.
"kalo lu nangis lagi gua balik ke Amerika lagi nih." ancam Rika membuat Alana menggeleng
"Happy wedding day ya Alana, sorry gue gak bisa dateng pas akad." ucap Rika merasa bersalah.
"Gapapa kok yang penting Rika dateng."
Nadia dateng dengan membawa sebuah kado, saat mata Nadia menemukan keberadaan Rika ia merasa bahagia dan langsing memberikan kadonya kepada Dava.
"Eh," Dava sedikit terkejut menerima kado itu.
Tanpa memperdulikan para tamu Nadia langsung memeluk Alana dan Rika.
Dava terkekeh melihat persahabatan mereka. Bahkan mereka berfoto ria tanpa mengajak Dava.
®®®®
Alana dan Dava sudah selesai melaksanakan resepsi, dan saat ini mereka Sedang berada di kamar hotel.
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Badan Alana terasa remuk, kakinya sangat pegal.
Alana mengangguk dan berjalan mengambil handuk.
Alana berjalan kearah kamar mandi.
Dava duduk di kasur dan mengambil handphone nya, membuat chat room banyak notif yan ia terima berisikan ucapan selamat atas pernikahannya.
Sedangkan di kamar mandi Alana sedang resah karena ia tak membawa baju ganti.
"Apa aku minta tolong kak Dava aja kali ya?" Alana menimbang-nimbang.
Alana membuat pintu kamar mandi sedikit, melihat Dava yang sedang duduk santai di atas kasur.
"Kak~" ucap Alana lirih.
Dava menutup handphone nya dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
"Ada apa?" Dava menempelkan telinganya ke pintu.
"Bantuin Alana dong, Alana lupa bawa baju ganti,"
"Iya, baju kamu dimana?" Tanya Dava.
"Di lemari,"
Dava berjalan ke lemari untuk mengambil baju Alana.
Betapa terkejutnya ia melihat pakaian Alana. Mengapa semuanya pakaian berupa lingre?
"Gak mungkin ini bajunya Alana." pikir Dava heran.
__ADS_1
"Kakak buruan Alana dingin~" teriak Alana di kamar mandi.
"iya sebentar." Dava mengambil baju asal.
Dava mengetuk pintu kamar mandi Alana, dan Alana membuka pintu langsung mengambil bajunya cepat.
Dava baru saja hendak duduk seketika ia langsung berlari ke arah kamar mandi karena Alana berteriak di dalam.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Dava khawatir.
"Kenapa bajunya model begini."
"Di lemari bajunya kayak gitu semua." balas Dava.
'Aneh' batin Alana. 'Perasaan Alana gak punya baju kayak begini. Atau jangan-jangan, Nadia, Rika awas kamu ya!'
"Yaudah makasih kak."
Alana mengintip dari balik pintu kamar mandi melihat situasi kamar. Setelah dirasa aman, melihat Dava sedang sibuk dengan laptop ia berjalan mengendap seperti maling.
"kenapa jalannya ngendap gitu?"
Alana menghentikan langkahnya berbalik ke arah Dava dan menghampirinya.
"kakak punya baju lain?" ucap Alana sambil berusaha menutupi pahanya.
Astaga, ini membuat Dava tidak fokus. Dava langsung berjalan ke arah lemarinya dan mengambil hoodie miliknya.
Alana langsung memakainya dan langsung bernafas lega.
"makasih ka maaf ngerepotin."
"Gapapa. Oh iya kita kan sudah menikah yakin mau manggil kakak?"
"Alana bingung mau manggil apa." ucap Alana sambil menggaruk tengkuknya.
"yaudah deh, aku mau mandi dulu."
Dava berjala ke arah kamar mandi, Alana duduk di kasur dan memainkan handphone nya.
Betapa ramainya grup chat kelasnya yang membicarakan tentang Alana yang memutuskan menikah muda.
Tangannya beralih ke instagram, ia terkejut saat ia melihat banyak yang mengikutinya di instagram.
Pantas saja, rupanya Nadia meng-tag nya di instagram.
Nadia merupakan selebgram, ia memiliki banyak pengikut di instagram.
Alana merasa gerah, padahal Ac sudah hidup.
"kayaknya hujan mau turun, Alana gerah banget,"
Alana membuka hoodie yang ia kenakan.
Tanpa dirasa Alana sudah menjelajahi dunia mimpi dengan handphone yang masih di genggam olehnya.
Dava berjalan ke arah kasur sambil mengeringkan rambutnya dengabmn handuk.
"Astagfirullah, kenapa hoodie nya dibuka astaga." ucap Dava saat melihat Alana tidur menggunakan lingre.
Dava mengambil handphone Alana dan meletakan di nakas, meluruskan kaki Alana agar tidur dengan posisi yang baik. Menutup badan mungil Alana dengan selimut sampai menutupi dadanya.
Ia tidur di sebelah Alana, mengamati wajah Alana dengan seksama. Senyuman terukir di wajah Dava.
"Good sleep my wife." Dava mencium kening dan kedua pipi gembul Alana.
__ADS_1
Dan pada akhirnya mereka tertidur dengan pulas.