Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 63


__ADS_3

"Aku seneng Kamu mau Jenguk makam Diana." ucap Alana membuat Dava menoleh.


"Makasi ya udah bujuk aku." ucap Dava


sambil mengusap rambut Alana.


"Iya."


Setengah jam berlalu, Alana dan Dava sudah sampai di kantor polisi.


Dava memarkirkan mobilnya lalu turun.


Alana menghampiri Dava dan masuk kedalam sama-sama.


Dava dan Alana berjalan menghampiri polisi untuk meminta izin. Sebenarnya mayat Diana bisa saja dimakamkan di pemakaman keluarganya, namun sayang saat hari dimana Diana dieksekusi mati


keluarga Diana tak ada satupun yang datang.


"Permisi pak." ucap Alana.


"lya, silahkan duduk." ucap polisi, Alana dan Dava duduk.


"Kami kesini minta izin buat ke makam tahanan yang bermama Diana. Tiga bulan lalu dieksekusi mati." ucap Alana membuat polisi itu mengangguk.


"Atas nama siapa?" tanya Polisi itu.


"Alana dan Dava." ucap Dava membuka suara.


"Baiklah, ikut saya." ucap Polisi dan mereka berdua mengikuti dari belakang.


Alana menatap Dava yang memancarkan kesedihan di matanya. Alana menggenggam tangan Dava menyalurkan kekuatan untuknya.


"lni makamnya." ucap Polisi dan diangguki oleh Alana.


Setelah polisi itu pergi, Dava langsung duduk di depan makam Diana.


Diana aurelia.

__ADS_1


Nama itu yang tertulis di papan nisan makam Diana. Dava mengusap papan itu sambil menangis.


"Ana, baik-baik aja kan disana?"


"Maafin aku ya, aku sama sekali gak ada saat kamu butuh aku."


Alana menahan tangisnya saat melihat adegan di depannya, ini benar-benar membuat hati siapapun yang melihatnya ikut teriris.


"Aku gak nyangka kita dipertemukan lagi setelah sepuluh tahun." Alana hanya diam tak menanggapi apapun.


Seorang polisi datang dan memegang bahu Dava. Merasa ada yang memegang, Dava menoleh ke belakang.


"Kenapa pak?" tanya Dava sambil mengusap air matanya.


"Sudah tiga bulan saya nunggu kamu. Nyonya Diana ngasih saya surat untuk bapak." Pak polisi itu memberikan amplop surat untuk Dava.


"Makasih pak." ucap Dava.


Setelah Pak polisi itu pergi, perlahan Dava membukannya. Air mata terus menetes saat membaca kalimat pertama yang ada dalam kertas surat itu.


Halo Dav, apa kabar? Tau gak, aku tuh kangen banget. Untuk Alana maafya, aku ngangenin suami kamu.


Untuk kejadian itu aku benar-benar sadaryang aku lakuin itu saah, aku bukanlah orang yang berarti lagi buat kamu. Aku ngerasa kamu udah gak butuh aku lagi hehe.


Kalo kamu baca surat ini berarti aku


udah gak ada, raga aku aja yang gak ada, tapi perasaan aku ke kamu masih ada.


Makasih banget udah maujadi teman baik aku Dav. Aku rasa waktu itu sangat singkat, maafjuga udah ninggalin kamu tanpa alasan.


Orang tua aku pisah saat aku berumur 12 tahun. Aku tinggal sama mama disini selama dua tahun. Saat aku ulang tahun yang ke 14 papa bawa aku pergi dari negara ini, papa ba wa aku ke Prancis.


Waktu itu kamu lagi pergijalan-jalan sama keluarga kamu. Tadinya aku mau pamit tapi papa gak bolehin aku buat ketemu kamu.


Sepuluh tahun aku di Prancis gak ada satu orang pun yang mau berteman sama aku. Papa menikah Iagi saat umur aku 17 tahun,


dan setelah papa menikah aku kehilangan kasih sayang.

__ADS_1


*Aku pernah masuk penjara saat umur aku 18 tahun karena aku membunuh 3 orang dalam satu waktu.


Aku membunuh karena mereka sering banget ngerndahin aku, dan suka bully aku saat SMA*.


*Entahlah aku mendapatkan keberanian dari mana. Setelah semuanya terungkap aku divonis hukuman 12 tahun penjara.


Baru 5 tahun aku dipenjara, saat ulang tahun aku yang ke 23 aku melarikan diri untuk cari kamu. Selama dipenjara papa gak pernah dateng buat sekedar jenguk*.


*Saat aku sampai di Indonesia aku seneng banget, aku sogok orang biar aku kerja di rumah sakit kamu.


Saat aku denger kamu punya istri, aku kelipungan cari cara supaya kamu menikah sama aku*.


Namun, rencana yang aku buat musnah saat kamu kecelakaan dan melupakan semua kenangan kamu bersama Alana. Antara sedih dan senang, sedih karena kamu terluka, dan senang saat kamu mengingat aku saja.


*Sekuat tenaga aku tutupi supaya kamu gak inget sama Alana. Emosi aku semakin tak terkendali saat kamu berusaha menerima kenyataan bahwa, Alana adalah istri kamu.


Tekad aku supaya tak membunuh itu musnah kala itu. Aku berambisi buat dapetin kamu dan akhirnya aku masuk kedalam lubang yang sama*.


Oh iya, kamu pernah mengurusi korban mutilasi di rumah sakit kamu kan? Orang yang membunuhnya adalah aku.


*Mungkin cukup buat ceritain itu semua, aku cuma mau bilang.


-Bahagia terus ya Dav, aku senang anak kamu Iahir dengan selamat.


Andai hari itu... Ah, sudahlah mari lupakan*.


-*Jaga Alana ya Dav, jaga anak kamu yang lucu itu. Kalo aku ada kesempatan aku bakal mampir ke  mimpi kamu hehe.


-Aku sayang kamu, kali ini sebagai sahabat*.


***Selamat bahagia Dava Putra Mahesa.


Salam perpisahan dari, Diana***.


Dava menangis setelah membaca surat itu, begitu juga Alana.


"Selamat jalan Diana.”

__ADS_1


__ADS_2