
Orang tua Dava dan Alana datang dengan tergesa-gesa. Sri langsung memeluk Alana dan mencium seluruh wajah Alana. Sari sangat khawatir dengan Alana, bukan hanya Sari tapi semuanya.
Perlahan mata Alana terbuka, pertama yang Alana lihat adalah cahaya lampu yang menyoroti matanya.
"Kamu sudah sadar sayang?" tanya Sari membuat semuanya mendekati Alana.
Dava langsung memeriksa Alana. Dava tersenyum melihat Alana yang baik-baik saja.
"Mas, anak kita gapapa kan?" tanya Alana.
Dava menggeleng dan mengecup tangan Alana. Alana tersenyum, ia sangat senang karena ia tak apaapa.
"Mas Dia--"
"Sudah ditangkap polisi." ucapan Dava membuat Alana tersenyum lega.
Pintu kamar rawat Alana terbuka menampilkan Clara dan Aldi. Alana tersenyum ke arah mereka berdua.
"Kak Alana gapapa kan? Aku takut kakak kenapa-napa." Clara langsung memeluk Alana erat.
Alnaa hanya tertawa kecil melihat kekhawatiran di wajah Clara.
"Aku gapapa." ucap Alana.
Semuanya tersenyum dan menghela nafas lega melihat Alana baik-baik saja.
Dava melepaskan selang dari hidung Alana agar ia bisa bernafas lega.
"Oh iya Di. Kita ucapin makasih banyak, mungkin kalo lo gak ada Alana sudah gak ada sekarang." ucap Malvin kepada Aldi.
"Sans." jawab Aldi seadanya sambil menatap Alna.
Jam menunjukan pukul 8 malam, Alana masih asik ngemil kentang goreng sambil menonton televisi.
Dava kagum dengan Alana, dengan cepatnya ia melupakan kejadian tadi siang.
"Mas, kalo kamu pengennya cewek apa cowok?" tanya Alana.
__ADS_1
"Apanya?" tanya Dava gak mudeng.
"kamu mau anak kita cewek apa cowok?" tanya Alana.
"Apa aja, yang penting ibu dan anaknya sehat." ucap Dava sambil mencomot kentang goreng.
"Ouh. Kamu udah kepikiran nama buat anak kita?" tanya Alana.
"Belum." ucap Dava.
"lh kok belum sih. Harusnya kamu udah siapin jauh-jauh hari." ucap Alana cemberut.
"Gimana aku mau nyiapin, kan aku gak tau anak kita cewek apa cowok." ucap Dava berusaha sabar.
"Iya juga ya." ucap Alana nyengir tanpa dosa.
Di ruangan ini hanya ada mereka berdua, yang lain sudah pulang. Dava yang meminta agar dirinya saja yang menjaga Alana.
"Maafin mas ya, gak jaga kamu baik baik." ucap Dava merasa bersalah.
"Gak mau."
"Beliin Alana coklat dulu baru dimaafin." ucap Alana.
"Kebiasaan." jawab Dava.
"Mau dimaafin gak?" tanya Alana membuat Dava mengangguk.
"Makannya beliin."
"Kamu makan coklat terus, mah nanti anak nya item?" tanya Dava membuat Alana menggeleng cepat.
"Makannya jangan makan coklat." ucap Dava.
"Tapi aku mau makan coklat putih biar anaknya putih."
Sepicles, Dava tak bisa berkata apa apa lagi. Ucapan Alana membuat Dava terdiam.
__ADS_1
"Kenapa diem?"
"Hah?"
"Cepet beliin coklat!" ucap Alana geram.
"Hah?"
"Ih, hah-hah terus kayak tukang keong." ucap Alana menatap Dava sebal.
"Hehe, iya aku beliin. Pake gofood aja ya. Aku gak tega ninggalin kamu sendiri." ucapan Dava membuat pipi Alana memerah.
"lh sosweet."ucap Alana mencubit pipi Dava gemas.
Dava hanya tertawa lalu kembali menonton televisi setelah memesan coklat untuk Alana.
Setengah jam berlalu, akhirnya abang gofood datang dengan membawa dua batang coklat putih berukuran sedang.
Alana senang saat melihat dua coklat itu, tanpa baca doa Alana langsung membukanya dan melahap.
Dava hanya tersenyum melihat Aina. Radit membayarnya cas. (iya lah masa ngutang).
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam tapi Alana belum merasa ngantuk. Berbeda dengan Dava yang susah payah menahan matanya agar tetap terbuka.
"Tidur aja kalo ngantuk." ucap Alana.
"Kalo kamu udah sembuh dan anak kita udah lahir aku bakal ajak kamu ke Lombok lagi." ucap Dava tanpa sadar membuat Alana membulatkan matanya.
"Kamu udah ingat semuanya?" tanya Alana membuat Dava bingung sendiri.
"Mungkin." jawab Dava.
"Yey mas Dava udah inget semuanya." teriak Alana membuat Dava tertawa.
Alana juga ikut tertawa saat melihat Dava tertawa.
__ADS_1
"Sekarang kamu tidur." ucap Dava sambil mengusap pipi dan perut Alana.
"lya papa." Alana menirukan suara anak kecil membuat Dava tertawa.