
"Ayah pulang, bawa uang!"
Kirana girang bukan main saat Malvin pulang ke rumah, ini tidak seperti biasanya. Biasaya, kalau Kirana sudah seperti ini berarti dia punya keinginan.
"Ayah gak bawa uang," ucap Malvin sambil mencium pipi Kirana.
"Hah gak bawa duit? Ngapain balik?" ucapan Kirana sangat menoth Qolbu, Malvin.
"Astagfirullah, gada sopan-sopannya sama orang tua," ucap Malvin sambil mengusap dadanya.
"Yang sopan mah daun salam," ucap Kirana membuat Malvin beriikir iya juga ya.
"Mama mana?" tanya Malvin sambil duduk di kursi ruang tamu.
"Mama lagi kerokin ikan," jawab Kirana sambil duduk di pangkuan Malvin.
"Kerokin?" tanya Malvin lagi.
"Kata mama ikannya kembung, makannya dikerok biar gak masuk angin," ucap Kirana membuat Malvin terdiam.
"Yha itu emang ikan kembung Maemunah!" ucap Malvin ngegas, salah gak sih ngegas sama anak sendiri?
Lagian tipe anak kayak Kirana itu kebal sama yang namanya bentakan, buktinya sekarang bukannya mikir malah, nyengir. Ini anak emang minta dirukiyah.
"Yah, Ira mau makan cimoy dong," ucap Kirana membuat Malvin mengalihkan perhatiannya dari heandpone ke Kirana.
"Cimoy?"
"Iya cimoy," ucap Kirana.
"Yang ini?" malvin memberikan foto wanita tercantik angkatan 2020 itu kepada Kirana.
"Astagiirullah saha eta?" ucap Kirana shock melihat pemandangan glowing di heandpone ayahnya.
"Ini cimoy, katanya mau cimoy," ucap malvin sambil menutup heandpone miliknya.
"Bukan itu, yang bulet-bulet kenyel itu Yah,"
"Itu Cimol woy Cimol. Ce ici momo el, Cimol," ucap Malvin sambil mengeja.
"Nah itu maksud Ira, sekarang kan ada pasar malem Yah," ucap Kirana.
"Dimana?" tanya Malvin, setau dia tidak ada pasar malam di daerah sini.
"Di Bandar Gebang,"
"Jauh amat yaelah," ucap Malvin geregetan, jadinya geregetan gausah nyanyi.
__ADS_1
"Pokonya Ira mau cimoy sama mojarela!" ucap Kirana lalu pergi meninggalkan malvin.
"Ya Allah, kuat kanlah mental hamba menghadapi titipanmu ya rabb. "ucap Malvin lalu pergi menuju kamarnya.
®®®™
"Gimana sekolah kamu Ano?"
"Lancar kok pa,"
Saat ini Alana dan keluarga kecilnya sedang berkumpul di ruang keluarga. Dava sedang menanyakan apa saja yang terjadi di sekolahnya.
"Kamu jangan nakal ya, jagain Dila nya," ucap Dava menggoda.
"Iya pa," ucap Keano mengangguk.
"Mas, jajan keluar yuk. Bete banget, kamu gak pernah ngajak aku keluar akhir-akhir ini," ucap Alana.
"Makanan di luar gak sehat buat bayi kita," ucap Dava membuat Alana melirik malas.
"Kenapa sih, kamu ngelarang aku terus? Aku mau ini gak boleh, mau itu gak boleh. Terserah lah," ucap Alana.
Baru kali ini Alana membentak Dava, sampai-sampai Keano saja kaget. Dia tidak pernah menggunakan nada keras jika sedang marah, bahkan jika KeNo melakukan kesalahanpun Alana akan membicarakannya baik-baik.
Alana pergi meninggalkan ruang keluarga, Dava yang melihat itu jadi kelimpungan sendiri. Dava langsung mengejar Alana yang hendak menutup pintu, namun, buru-buru ia tahan.
Alana membelakangi Dava, ia enggan menatapnya. Dava hanya menghela nafas berat melihat tingkah Alana yang masih kekanakan.
"Liat mas sini," ucap Dava masih dengan nada lembut.
Sepertinya Alana berpura-pura tuli, ia enggan membalikan tubuhnya untuk menatan Dava.
"Alana liat mas!" ucap Dava menaikan satu oktaf suaranya, membuat Alana langsung menangis.
Dava merasa bersalah, jujur perkataan itu keluar begitu saja tanpa aba-aba. Dava membalikan tubuh Alana lalu memeluknya erat. Alana memberontak, mungkin ia masih sakit hati dengan hentakan Dava.
"Aku kayak gini bukan karena aku larang kamu," ucap Dava sambil mengusap rambut Alana lembut.
"Cukup, biar dulu aja aku gak ada saat awal-awal kehamilan kamu. Aku cukup menyesal, aku gak mau hal itu terjadi lagi," ucapan Dava membuat Alana semakin terisak, ia merasa bersalah.
"Aku larang kamu gak keluar rumah karena aku gak mau terjadi sesuatu lagi sama kamu. Maaf kalo perhatian aku itu berlebihan, larangan aku bikin kamu gak nyaman. Cukup hari itu aja kebodohan aku, aku gak mau lagi terjadi apa-apa sama kamu," ucap Dava sambil melepaskan pelukannya danmengusap air mata Alana yang mengalir deras.
Alana kembali memeluk Dava, ia menangis di dada bidang Dava.
"Ma--maaiin, ak-ku hiks, aku egois hiks," ucap Alana membuat Dava tersenyum.
"Gapapa, wajar kok. Kamu mau beli apa keluar? Aku siap-siap dulu," ucap Dava.
__ADS_1
"Gak usah," ucap Alana pelan.
"Aku juga kangen keluar bertiga, eh, ralat sekarang kita berempat," ucap Dava membuat Alana tertawa.
"Yuk," ucap Alana semangat.
"Keano cepet siap-siap kita mau keluar," ucap Dava di balik pintu.
"Siap Pa," ucap Keano langsung berlari ke kamarnya.
Tidak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Setelah semuanya siap mereka turun menuju mobilnya. Dava mengunci pintu rumahnya.
"Pa kalo Ano aj-"
"Ajak aja," ucap Alana cepat, karena ia tau kemana arah pembicaraan Keano.
Mereka masuk ke dalam mobil,lalu Dava menjalankannya menuju rumah Dila.
Alana dan Keano turun menuju pintu depan rumah Dila.
Tok tok tok.
'Assalamualaikum," ucap Keano.
Ketukan pertama tidak ada yang menjawab, setelah ketukam ke tiga pintu rumah Dila terbuka.
"Waalaikumsalam, eh Keano, Alana," ucap Irma-ibu Dila.
"Lala nya ada tante?" tanya Keano.
"Ada, emang ada apa Al? Dila ngelakuin kesalahan ya?" tanya Irma pada Alana.
"Enggak kok, kita mau ajak Dila keluar buat jajan. Biasa, Keano kan udah nempel banget sama Dila," ucap Alana membuat Irma mengangguk.
"Kila keluar sini ada Keano," teriak Irma.
Dila keluar dengan membawa boneka kecil pemberian Keano waktu ulang tahunnya yang ke tujuh tahun.
"Ada apa Ano? Eh ada mama Alana," Dila mencium punggung tangan Alana sopan.
"Kita keluar yuk La," ucap Keano membuat Dila menoleh ke arah ibunya.
"Yaudah sana, jangan nakal ya," ucap Irma.
"Iya Bu, Dila berangkat ya," Dila memberikan boneka itu pada ibunya.
Setelah menjemput Dila mereka langsung berangkat. Tujuannya saat ini ke sebuah mall.
__ADS_1
Mobil Dava terparkir di parkiran mall, Keano turun bersama Dila, dan Dava membuka kan pintu untuk Alana dan menggenggam tangannya.