Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 22


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 malam, namun Alana masih belum tidur. Ia menatap Dava yang sudah terlelap.


Dari tadi ia menahan sakit di perutnya.


Alana turun dari kasurnya menyibakkan selimutnya.


"Tuh kan Alana haid." gumamnya pelan lalu berjongkok di lantai sambil memegangi perutnya.


"Mas~" lirih Alana.


Dava terusik saat Alana memanggil dirinya. Betapa terkejutnya saat ia melihat darah di kasurnya.


"Alana kamu kenapa." Dava panik langsung bangkit dari kasurnya.


"Perut Alana sakit."


"Kamu ada stok softex?" tanya Dava.


Alana menjawab dengan menggeleng kan kepalanya.


"Aku ke mini market dulu beliin kamu softex sama obat pereda datang bulan oke."


"iya mas, maaf ngerepotin."


"yaudah aku jalan dulu ya,"


Pamit Dava mengambil kunci mobilnya berjalan menuju mini market.


Langkahnya berhenti di tempat pembalut wanita. Matanya melirik-lirik apakah ada yang melihatnya atau tidak.


"Gue baru tau kalo softex banyak varian rasanya." gumam Dava mengangkat dua buah pembalut berwarna hijau dan pink.


"Alana pake yang mana ya, aku ambil yang gede aja ah." tangannya mengambil benda yang ia kira pembalut itu kedalam keranjang.


"Sama yang kecil juga dah." ia mengambil pembalut yang warna pink tadi.


Ia berkeliling ke tempat minuman.


"Kalo orang sakit karena kena mens itu biasanya minum apa sih? Kira-kira apa ya lupa." Dava menggaruk tengkuknya bingung.


"Ah namanya kirana."


Dava menghampiri pegawai yang ada di mini market itu.


"Mbak minuman yang namanya kirana itu di mana ya?" tanya Dava.


"Hah? Kirana?"


"Iya obat sakit perut saat datang bulan." jelas Dava.


Pftt!

__ADS_1


Mbak-mbak penjaga mini market pun tertawa ngakak, membuat Dava bingung sendiri jadinya.


"Kiranti mas namanya bukan kirana." ucapnya lalu tertawa kembali.


"Oh udah ganti nama ya?"


"Dari dulu namanya kiranti bukan kirana."


Mbak-mbak itu pun mengambilkan dua botol kiranti yang berbeda warna.


Mau yang jeruk apa stroberi?" tanya sang penjaga mini market.


"Dua-duanya aja deh."


Dava berjalan ke arah kasir untuk membayar.


"mas nya punya ibu yang lansia ya?" tanya sang kasir menatap heran barang yang di beli Dava.


"kenapa emangnya?"


"oh gapapa." ucap sang kasir


"Semuanya tujuh puluh lira ribu mas."


Dava membayarnya dan keluar dari minimarket.


Dava masuk kedalam rumahnya, mencari Alana.


"iya mas." balas Alana dari kamar mandi.


Dava berjalan ke arah dapur untuk menaruh sprei yang kotor tadi.


"mas!" teriak Akana dari kamar.


Dava langsung berlari ke arah kamar menemukan Alana yang shok sambil memegang barang yang Dava beli tadi.


"kenapa kamu teriak?"


"Kenapa kamu beli pempres buat orang tua?!" tanya Alana kepada Dava yang masih diam di ambang pintu.


Dava berjalan menghampiri Alana dan mengambil alih pempres dari genggaman Alana.


"Maaf mas ngga ngeh hehe, tapi mas beli kok yang satunya." ucap Dava sambil mengambil pembalut yang ia beli tadi.


"Terus ini siapa yang mau pake?" tanya Alana sambil menunjuk pempres itu.


"ya kamu lah, masa mas yang pake." ucap Dava santai.


"MAS!.."


Begitulah malam pertama di rumah baru mereka, tingkah Dava membuat Alana gedek setengah mati.

__ADS_1


®®®®


"Bun rumah sepi ya gak ada Alana." Malvin galau karena ia merasa kesepian.


"kamu tuh yan Vin giliran ada Alana aja ribut terus."


"Ya makanya itu Malvin kesepian karena gak ada temen ribut."


"Bentar lagi juga dia kesini."


Ucapan sang Bunda membuat mata Malvin berbinar mendengar itu.


"yang bener bun?"


"Hooh Malvin." ucap Sari mengelurkan logat sundanya.


Tok-tok


Ketukan pintu membuat Malvin langsung berlari untuk membukakannya.


"Abang!" ucap Alana ceria di ambang pintu.


"Ayo masuk." ajak Malvin kepada Alana.


"Kamu kesini sama siapa?"


"Sama suami Alana bun."


Alana mendudukan diri di sofa.


"Bunda Alana mau belajar masak dong."


"Sini atuh,"


Alana menghampiri sang bunda untuk belajar masak.


"kamu coba masak ikan ya. Bunda tinggal bangunin ayah."


Sari meninggalkan putrinya.


Alana memasukkan ikan kedalam wajan yang sudah panas, betapa kagetnya ia ketika minyak menciprat kemana-mana.


Dengan sigap Alana berlari untuk mengambil jas hujan dan helm lalu memakainya.


Bayangkan hanya menggoreng ikan saja Alana sudah seperti maling.


"Astagfirullah, Alana kamu ngapain pake kayak gitu!" Sari terkejut begitupun dengan Malvin.


Alana membuka helm nya, dan tersenyum gak jelas ke arah bundanya.


'Biar aman bun.' ucap Alana tanpa dosa.

__ADS_1


__ADS_2