
14:00 Wib
"Berarti nanti kamu nyuci sendiri? Nyetrika sendiri? Tidur sendiri? Dan apa-apa sendiri." tanya Alana bertubi -tubi.
"Enggak lah, gunanya Iaundry apa? "
"Jadi kamu mau tidur sama tukang laundry. " tanya Alana spontan.
"Ya enggak sayang, maksud aku yang nyuci dan setrika baju aku tuh tukang Iaundry."ucap Dava menahan agar tidak ngegas.
"Oh..." ucap Alana mengangguk paham lalu kembali menonton.
Dava berjalan ke kamar dan Alana ikut menyusul. Dasar Alana seperti bayangan Dava.
Dava menarik koper dan membukannya, berjalan ke lemari baju dan mengambilnya dengan jumlah yang cukup banyak.
"sini biar aku aja yang siapin, kamu ganti baju gih." ucap Alana mengambil alih pekerjaan Dava.
"Yaudah, mas pengen mandi gerah banget soalnya." ucap Dava sambil membuka kancing kemeja.
Alana mengangguk dan kembali memasukan baju Dava kedalam koper
"Mas sepatunya mau bawa yang mana?" tanya Alana.
"Mas mau bawa yang hitam semua." ucap Dava dari dalam kamar mandi.
"Jangan bawa item semua! Nanti dikira kamu gak ganti sepatu." omel Alana membuat Dava pasrah.
"Yaudah pilihin aja sama kamu, aku terserah kamu aja." ucap Dava.
"Jangan jawab terserah, Alana bingung." ucap Alana.
"Cowok emang selalu salah. "-bati n Dava lalu kembali melanjutkan mandinya.
Selesai mandi dan berganti pakaian Dava menghampiri Alana yang sedang rebahan di kasur sambil memainkan heandponenya.
"Lagi liat apa sih asik banget." sindir Dava yang ikut bergabung di samping Alana.
"Aku lagi baca chat grup alumni, ngakak banget." ucap Alana masih fokus memainkan heandpone.
Dava memjamkan mata dan menjadikan Alana sebagai guling. Tentu saja, Alana terkejut lalu kembali melanjutkan untuk memainkan heandponenya.
"Uh gemes sama bayi besar ini." ucap Alana sambil mencium rambut Dava yang masih basah dan tercium aroma samponya.
Alana meletakan heandpone miliknya di nakas lalu ikut menyusul Dava ke alam mimpi.
16. 00 Wib.
Alana mengucek matanya dan melihat Dava yang masih tertidur pulas didalam pelukannya. Alana menarik dirinya pelan agar Dava tak bangun.
Alana merasa tak tega untuk membangunkannya, Alana berjalan ke bawah untuk membereskan rumah dan memasak untuk makan malam.
Setelah menyapu dan mengepel Alana berjalan ke kulkas untuk mencari apa yang akan dimasak hari ini.
Saat Alana sedang memotong sayuran tiba-tiba saja ada yang memeluk pinggang Alana erat.
"Mas aku masak dulu." ucap Alana namun, tak di gubris oleh Dava.
Dava meletakan dagunya di bahu Alana membuat Alana merinding geli.
"mas geli." komentar Alana.
"Kangen." ucap Dava berbisik ditelinga Alana, membuat Alana tersenyum baper.
"Apa sih, alay banget." ucap Alana sok cuek, padahal hatinya berbungabunga.
__ADS_1
"Kangen sama istri sendiri kok dibilang alay, aneh." setelah mengatakan itu, Dava melepaskan pelukannya dan duduk di meja
makan.
"Enggak gitu maksud aku." ucap Alana menghampiri Dava.
"Cepet masaknya abis itu kamu mandi!" titah Dava membuat Alana langsung mengangguk.
Dava kembali ke kamar untuk shalat ashar, dan Alana baru saja menyelesaikan masaknya dan kembali ke kamar untuk mandi.
Setelah mandi Alana melaksanakan shalat ashar. Alana melipat kembali mukenanya dan meletakannya di tempat semula.
Alana paham jika sore-sore begini Dava akan menghabiskan sorenya dengan memberi makan ikan dan duduk di teras depan rumah.
Alana menghampiri Dava dengan membawa kopi dan roti. Alana dan Dava sangat suka senja.
Alana dan Dava menatap senja bersamaan. Keduanya salinh melemparkan senyum.
"Aku suka senja." ucap Alana kepada Dava.
"Aku suka Alana." ucap Dava membuat Alana merona.
Tanpa mereka sadari, di sebrang rumah mereka ada yang menatap keduanya dengan tatapan kebencian. Lebih tepatnya tatapan itu ia lemparkan kepada Alana.
'bersenang-senang dahulu, menangis- nangis kemudian, wait for my game Alana.'
®®®®
"Alana,jas mas mana?"
"Alana, kaos kaki mas ditaro dimana?"
"Dasi item mas mana?"
Pagi sekali Alana sudah dibuat pusing oleh Dasar, Alana serasa dikejar serigala.
Dava berusaha memakai dasinya, mereka kesiangan karena aktivitas semalam yang membuat mereka lupa waktu. Dan berakhirlah mereka yang telat bangun.
"Bantuin mas pake dasi dong. Mas mau sisir rambut." ucap Dava sambil meraih sisir.
Bukannya Dava tak bisa memakai dasi, hanya saja ia modus agar bisa dekat dengan Alana.
"Nunduk! Alana gak sampe."
"Dasar pendek." ucap Dava sambil mengacak rambut Alana gemas.
"Ck,jangan ngeledek." ucap Alana.
Dava menundukan sedikit tubuhnya agar Alana bisa meraih dasinya.
Dava menatap Alana lekat membuat istrinya salah tingkah. Dava terlihat sangat tampan saat rambutnya begitu urak-urakan.
"Jangan natap aku gitu." ucap Alana.
"Siapa yang natap kamu, orang aku natap tetangga." ucap Dava membuat Alana menghentikan aktivitas nya.
"Oh, ngeliatin Diana?" ucap Alana lalu pergi menjauhi Dava.
Dava menepuk bibirnya karena salah ucap, dengan segera Dava memeluk Alana agar tak marah padanya.
"Maaf, mas salah ngomong tadi. lya mas natap kamu kok." ucap Dava sambil memeluk tubuh mungil Alana.
"Udah cepetan pakejas nya." Ucap Alana sambil melepaskan pelukannya dari Dava.
__ADS_1
Dava hanya pasrah jika Alana sudah seperti ini, ingin rasanya Dava membujuk Alana. Hanya saja waktu tidak pas untuk membujuk Alana.
Setelah beres, Dava segera memanaskan mobil dan Alana membawakan koper milik Dava.
Dava tersenyum melihat Alana yang sepertinya masih mengantuk, Dava segera memasukan kopernya ke bagasi mobilnya.
"Kamu baik-baik di sini. Kalo ada apa-apa telepon mas." ucap Dava sambil memegang kedua pipi Alana.
Dava mengecup kening dan kedua pipi Alana.
"Jangan lupa kabarin aku." ucap Alana.
"Siap nyonya Mahesa."
Alana mencium punggung tangan Dava, lalu Dava segera masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan pada Alana.
"Hati-hati mas. Jangan lupa jaga hati." ucap Alana lirih lalu masuk kedalam rumah.
Alana membereskan rumah dan mandi. Setelah semuanya beres Alna akan menginap di rumah Sari untuk 3 bulan kedepan.
Alana tak berani tinggal sendiri di rumah yang sebesar ini. Setelah memasukan beberapa baju dan sepatu Alana mengambil heandpone untuk menelpon Malvin.
Alana menunggu Abangnya mengangkat teleponnya. Panggilan pertama tak terjawab, Alana yakin pasti Malvin belum bangun.
"*E*nguh, ada apa sih? Ganggu banget."ucap Malvin dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Jemput Alana! Mas Dava pergi ke Jakarta tiga bulan."
"*R*ibet lo. Bukannya ikut sama Dava.”
"Alana bilangin bunda ya. Kalo abang gak mau jemput Alana." ancam Alana.
"*G*ue mandi dulu. Tunggu bentar." ucap Malvin sambil memutuskan telepon.
Alana terkekeh membayangkan wajah Malvin yang menahan kesal karena Alana ganggu tidurnya.
Alana menunggu Malvin hampir 40 menit, mengapa malvin begitu lama. Biasanya,jarak dari rumah Alana ke rumah Malvin hanya membutuhkan waktu 10menit saja.
Tin-tin.
Aina segera menarik koper, ia yak itu suara klakson mobil Kevin. Aina membuka pintu dan melihat Malvin yang sedang melipat kedua tangannya di depan dada, dengan badan yang menyender di mobil.
"Lama sekali nyonya Alana." cibir Malvin.
"Lah yang lama kan situ, kok saya yang disalahin?" ucap Alana sambil memberikan koper kepada Malvin.
"Yaelah, pake bawa koper segala." ucap Malvin sambil memasukan koper Alana ke bagasi mobil.
Malvin ikut menyusul Alana kedalam mobil. Malvin mengerutkan alisnya menatap wajah Alana seperti orang yang gelisah.
"Napa wajah ditekuk kayak kertas lecek aja." sindir Malvin sambil memundurkan mobilnya.
"Enak aja."
Keadaan mobil sangat hening, hanya musik Justin-Yummyyang mengalun di mobilnya.
"Bang time zone yuk." ajak Alana.
"Gak lah. Tekor gue kalo jalan sama lo." ucap Malvin membuat Alana mendecak.
"Lah aku kalo kemana-mana sama abang cuma jadi tukang foto." ucap Alana tak mau kalah.
"Ya itu kan tugas seorang Adik." ucap Malvin.
"Ayolah bang~" ucap Alana merengek.
__ADS_1
Ini adalah salah satu kelemahan Malvin. Ia paling tidak bisa mendengar adiknya merengek seperti itu.
"Hm." balas Malvin membuat Alana senang.