
Sedangkan Alana memilih tidak pulang ke rumah, ia pulang ke rumah Nadia. Nadia memang sedang kosong hari ini atau tidak ada kelas.
Rumah Nadia memang selalu sepi, karena kedua orangtuanya bekerja. Mama Nadia bekerja di butiknya dan Ayah Nadia bekerja sebagai Manager.
"Pasti masih tidur." gumam Alana menaiki tangga rumah Nadia.
Benar saja, Nadia tengah tidur dengan posisi yang bukan cewek banget. Ia tidur dengan posisi terlentang dan kaki yang naik ke atas tembok.
"Bangun! Kebakaran!" teriak Alama langsung membuat Nadia berlalri kucar-kacir.
"Mama kebakaran. Huaaa...." Nadia masih dengan mata tertutup dan menutupi diri dengan selimutnya.
"Hahahaha." Alana tertawa kencang membuat Nadia membuka matanya.
"Bangs*t lo Al. Ganggu gua lagi mimpi bareng oh Sehun aja lo." ucap Nadia memajukan bibirnya.
"Astagfirullah, Nadia mimpi apa bareng dia?"
"Gua mimpi dibeliin mobil sama dia, di ajak nikah, dia peluk dan cium gue"
"Untung Alana bangunin Nadia."
"Kenapa?"
"Ya karena itu cuma mimpi, nanti kalo Nadia mati karena ketabrak mobil bareng Sehun kan bahaya." ucap Alana.
"Sialan lo." ucap Nadia melempar bantal ke Alana.
"Ada apa lo pagi-pagi ke sini?" tanya Nadia sambil mengucek matanya dengan tangannya.
"Pagi? Ini udah mau jam duabelas." balas Alana sambil berdecak.
"Apa?!"
"plis, jangan kayak di seinetron." Nadia menatap mata Alana yang bengkak seperti orang habis maraton drakor tapi sad ending.
"Lo abis nangis?" tanya Nadia.
"Enggak." ucap Alana cepat.
"Gak usah bohong. Gua sahabat lo, gua tau lo abis nangis." ucap Nadia membuat Alana skatmat.
"Alana kangen Nadia." ucap Alana berbohong.
Sebenarnya Nadia tak percaya dengan ucapan Alana.
"Gua kan emang ngangenin. Btw, lo kangen Rika gak?" tanya Nadia.
"Banget. Sepi ya gak ada Rika." ucap Alana dan di angguki oleh Nadia.
"Lo tau gak ada toko eskrim baru deket sini?" tanya Nadia membuat Alana menggeleng.
"Yaudah gua mandi dulu abis gua traktir lo." ucap Nadia membuat Alana berbinar dan sedikit melupakan kejadian tadi di rumah sakit.
"Jangan lama-lama." ucap Alana.
Tak butuh waktu lama, Nadia hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mandi.
__ADS_1
Sekarang mereka sudah berada di mobil Nadia.
Berulang kali heandpone Alana berdering tapi Alana seolah-olah tuli.
"So ngartis banget mbaknya gak ngangkat telepon suami, di azab tau rasa." cibirNadia membuat Alana cemberut.
"Alana lagi marahan."
"Enak ya lo kalo lagi ngambek di spam telepon sama doi, lah gua kalo ngambek doi ikutan ngambek." curhat Nadia membuat Alana tertawa.
"Ketawa lo." cibir Nadia saat mobilnya sudah terparkir di depan toko eskrim.
Sedangkan di rumah Dava tengah uring-uringan mencari Alana. Tadi ia datang ke rumah mertuanya tapi tak ada satu orang pun disana.
Sudah dari 10 kali Dava menelpon Alana tapi tak ada balasan, sampai akhirnya terdengar suara operator nomoryang anda tuju sedang tidak aktif.
Berulang kali Dava memukul stir mobilnya dan melampiaskan emosi. Dava hanya takut Alana melakukan hal di luar nalar, seperti bunuh diri akibat cemburu.
"Kamu dimana Alana." ucap Dava mengacak rambutnya gusar.
Sampai akhirnya Dava melihat dua wanita yang tengah makan eskrim dan tertawa membuat hati Dava sedikit tenang. Setidaknya Alana sekarang aman bersama Nadia.
Dava membuka aplikasi berwana hijau dan menulis pesan untuk Nadiaa meminta tolongnya untuk menjaga Alana. Dava akan menjemput Alana saat ia tertidur,
Jam menunjukan pukul 10 malam, setelah selesai bekerja Dava buruburu untuk menjemput Alana. Dava yakin Alana pasti sudah tidur, Alana tak akan bisa begadang.
Dava sudah menghubungi Nadia tadi, dan benarAlana sudah terlelap.
Dava memijat pangkal hidungnya, kepalanya sangat pening. Dirinya merasa tak enak badan, mungkin Dava masuk angin karena memaksakan untuk bekerja.
Mobilnya terparkir rapi dikediaman keluarga Nadia, Dava segera membuka pintu mobilnya dan berjalan ke pintu depan rumahnya.
"Tadi Alana udah tidur udah ngorok malah, eh pas ditinggal ngambil air bangun lagi dia." ucap Nadia berbisik.
"Sekarang dia dimana?"
"Dia lagi di ruang tamu lagi nonton tv." ucap Nadia.
Dava nekat mendatangi Alana, masalah marah atau tidaknya urusan belakangan. Dava tak akan bisa tidurjika tak ada Alana, ia akan insomnia jika Alana tak disisinya.
"Astagfirullah." pekik Dava pelan saat melihat Alana menggunakan bantal hiu dan tetap fokus melihat acara tv.
"Hm, maaf bang Alana gak mesen makanan." ucap Alana tanpa menatap Dava.
"Ini mas Dava bukan abang gofood." ucap Dava membuat Alana membuka bantal hiunya.
Alana menatap Dava garang, wajah Alana menjadi lebih sangar daripada hiu.
"Pulang yuk." ajak Dava jongkok di hadapan Alana.
Alana tetap mengabaikan Dava memeluk kedua lututnya, Alana masih enggan bertemu Dava.
Nadia hanya menatap keduanya tertawa, betapa lucunya pasutridi depannya ini. Berulang kali Dava membujuk Alana tapi, Alana tetap menggeleng tak mau.
Dengan paksa Dava mengangkat tubuh mungil Alana membuat si empu meronta-ronta di gendongan Dava.
"Gak mau pulang!" ucap Alana memukul dada bidang Dava.
__ADS_1
"Maunya di goyang." balas Nadia membuat Dava tertawa.
"Nadia makasi ya udah mau direpotin Alana. Kita pulang." ucap Dava mendudukan Alana di kursi penumpang dan Dava segera menjalanka mesin mobilnya.
Di dalam mobil Alana sama sekali enggan menatap Dava, matanya menatapjalanan dengan bibir manyun.
Saat ini Dava dan Alana sudah merebahkan diri di kasur.
"Alana." panggil Dava pelan.
"hm" jawab Alana sekenannya.
"Maafin mas ya."
"hm."
"Jangan hm-hm terus, mau gantiin Nisa sabyan?" sindir Dava.
"Kenapa gak suka?" balas Alana galak membuat nyali Dava menciut. Ternyata Dava tipe suami takut istri.
"Bukan gitu--"
"Aku mau tidur." potong Alana dengan posisi tidur membelakangi Dava.
"Pernah denger azab istri kalo tidur ngebelakangin sua--" ucapan Dava terpotong saat Alana membalikan badan dan tidur menghadap Dava, karena Alana takut azab.
Dava terkekeh dengan tingkah Alana yang unik, apalagi Alana yang sedang ngambek gini membuat Dava ingin memeluknya.
Tak sengaja tangan Alana menyentuh tangan Dava yang panas membuat Alana segera bangun, refleks Dava ikut bangun.
"Kamu sakit? Kenapa gak bilang dari tadi. So strong banget sih, mentang-mentang dokter gak inget sama kesehatan sendiri. lnget dokter gak bisa nyembuhin diri sendiri." Alana mengomel panjang lebar membuat Dava tersenyum.
"Tapi kan dokter punya istri buat rawat suaminya." balas Dava membuat Alana berdecak.
"Mana yang sakit? Kepala kamu sakit?"
Dava memegang hatinya dengan wajah seperti orang yang menahan sakit.
"Kenapa?" tanya Alana panik.
"Hati aku sakit." ucap Dava.
"Kamu liver?" tanya Alana polos membuat Dava mengetukan jari dari kepala ke nakas.
"Amit-amit. Hati aku sakit kalo kamu cuekin kayak tadi." ucap Dava membuat Alana memutar bola matanya malas.
“Aku serius mana yan--"
"Tapi kan kamu udah aku seriusin."
"Mas." ucap Alana kesal dengan sikap Dava, bisa-bisanya dia bercanda di keadaan begini.
"Biasanya kalo aku sakit di kerok." ucap Dava.
"Dikerok pake apa? Pisau?" tanya Alana masih asing dengan kata kerok.
"Pake koin Alana, abis kulit punggung mas kalo kamu kerok pake pisau."
__ADS_1
Setelah perdebatan panjang saat Alana mengerok kulit punggung Dava, mereka sudah terlelap dalam tidurnya.
\