
"Mas aduh duh."
"kenapa lagi Alana mas capek loh."
"Ini liat gak ih, kerannya colop bantuin. Baju aku basah semua nih."
Dava segera mematikan listrik agar tidak keluar dan menyiprat kemana-mana.
"Mas kok lampunya dimatiin sih. Gelap, gak keliatah. Hua... Bunda."
Dava kaget saat Alana malah menangis membuat Dava langsung berlari ke arah Alana.
"Hei kamu kenapa?"
Tangan Alana menggapai dan mencari keberadaan Dava. Dan tepat! Tangan Alana malah memegang aset milih Dava.
"ini apa ya?" tanya Alana lugu.
"Alana kenapa megang itu mas." Dava langsung melepaskan tangan Alana dari sana. Bisa bahaya.
Alana langsung memeluk Dava dengan kencang.
"Emang tadi Alana megang apa mas?"
"Enggak bukan apa-apa. Duduk disini, mas benerin keran dulu. Abis itu kamu ganti baju dan tidur."
Dava berjalan untuk memperbaiki keran yang rusak, menghidupkan flash handphone miliknya
"mas udah belum?"
"Baru juga mulai."
"Alana dingin."
"Kamu ganti baju gih sana."
"Alana takut."
"Nah selesai." Dava menghela nafas lega saat keran sudah selesai di perbaiki.
Dava berjalan ke saklar listrik dan menghidupkannya. Berjalan menghampiri Alana yang katanya tadi kedinginan.
"malam tidur."
Dava menggendong Alana ala bridal style, menaiki tangga satu persatu. Menidurkan Alana di ranjang mereka.
"Alana ganti baju dulu." Dava menepuk pipi Alana.
"Umm, gantiin mas!" ucap Alana dengan entengnya.
Ucapan Alana membuat Dava melongo, shock, jantungan, dan terkejod.
Gila, apa Alana bilang? Minta Dava yang gantiin? Gak tau apa, susah payah dia nahan pas tadi Alana gak sengaja megang anu Dava, dan sekarang minta Dava buat gantiin bajunya.
"Mas ngga bisa gantiin Alana."
"ish, yaudah lah."
Alana bangun dan pergi untuk mengganti bajunya. Dava menghela nafas lega agar dirinya tak kebablasan.
3 bulan berlalu, Dava sama sekali belum pernah menyentuh Alana. Dava tak mau menodai wanita sepolos Alana walaupun ia istrinya.
Alana datang ke arah ranjang di mana Dava berada, setelah mengganti baju nya tadi.
"Mas."
"iya?"
"Maaf aku gak cukup peka."
"kenapa ngomong gitu?"
"Maafin Alana gak bisa jadi istri yang baik. Alana gak bisa layanin kamu. Kenapa kamu gak pernah minta?"
"mas masih gak paham maksud kamu?"
"kenapa kamu gak pernah minta hak itu ke aku?"
"Alana, mas-.."
"karena Alana masih kecil? Karena Alana gak tau apa-apa? Hiks."
Dava jadi bingung sendiri, maksud Dava tidak seperti itu. Ia hanya tak ingin Alana merasa kehilangan mahkotanya di umur yang masih muda. -Sisain dong cowok kayak gini satu buat author :')
"Oh apa karena Alana gak seksi?"
__ADS_1
"Ngga-"
"Alana tepos ya, hiks"
"Alana dengerin mas." Dava memegang bahu Alana dan menatap Alana lekat.
"Mas cuma gak mau kamu ngerasa kehilangan mahkota kamu." lanjutnya.
"Tapi itu udah kewajiban aku." Alana membalas ucapa Dava.
"Apa mas gak mau punya dede vayi yang lucu-lucu? Alana jadi kesepian kalo sendirian terus di rumah."
Dava tak tau harus menjawab apa, pasti ada seseorang yang mempengaruhi otak Alana. Siapapun orang yang buat Alana seperti ini, ingin rasanya Dava sungkeman.
"Alana mau punya bayi?"
Alana mengangguk antusias sambil tersenyum, matanya berbinar.
"Kalo mas minta sekarang Alana keberatan?"
"Kenapa harus keberatan."
Dava memegang kepala Alana dan merapalkan doa. Alana hanya diam mengikutin alur Dava.
Sedetik setelah membaca doa Dava mencium kening Alana, selanjutnya kedua pipi Alana dan terakhir bibir Alana.
Adegan selanjutnya hanya Author, Dava, Alana dan Tuhan yang tau.
®®®®
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, hari ini adalah hari minggu. Dava bangun dan menatap wajah istrinya yang terlihat menggemaskan saat tidur.
Ingatannya kembali pada adegan semalam. Melihat Alana membuatnya tak fokus dipagi hari.
"Astaga mikirin apa sih gue?" Dava langsung menggelengkan kepalanya dan berjalan ke kamar mandi.
Sedangkan Alana sudah mulai mengerjapkan matanya perlahan. Perlahan pula ia menyingkapkan selimutnya.
"Aaa..." teriak Alana mungkin terdengar sampai rumah tetangga.
Dava yang kaget langsung membuka pintu kamar mandi dan memunculkan kepalanya yang masih banyak busa sampo.
"kenapa?"
"gapapa." ucap Alana cuek, Dava hanya mengangguk dan melanjutkan mandinya yang sempat terjeda tadi.
Alana langsung memungut baju dan memakainya, berjalan ke arah kamar mandi tamu untuk mandi.
"Awh, sakit banget." ringis Alana merasa bagian pahanya terasa ngilu.
Setelah mandi Alana berjalan ke dapur untuk memasak. Sedikit demi sedikit Alana sudah mulai mahir memasak.
"pa pa gi." sapa Dava kikuk.
"Hm."
Jujur Alana rasanya ingin menggelamkan diri di danau. Ia snagat malu atas kejadian semalam.
"Mau kopi mas?" tawar Alana masih belum berani menatap wajah Dava.
"Boleh."
Keheningan melanda, selesai masak Alana menaruh makannanya di meja makan.
Masih dalam keadaan hening Dava dan Alana mulai makan.
"Alana kita jalan-jalan yuk." ajak Dava berusaha memecahkan keheningan.
"kemana?"
"Mas denger ada toko buku yang lagi diskon gede-gedean."
"Wah! Ayo cepetan makannya abis itu kesana."
Akhirnya Dava bisa mengembalikan Alana yang ceria setelah mereka berdiam diri.
"Masih pagi Al"
"Yaudah aku beres-beres rumah dulu deh." saat Alana hendak berdiri Dava menahan tangannya.
"Alana mas ada niatan mau mindahin Derry kesini boleh gak?" tanya Dava.
"Gak mau. Alana jadi takut sama dia mas."
Alana masih trauma kejadian waktu itu, dimana jempolnya dibuat berdarah oleh Derry, sebenarnya Alana masih memiliki dendam pribadi pada Derry.
__ADS_1
"yaudah deh," ucap Dava pasrah.
Alana bangkit dari duduknya dan berjalan untuk mengambil sapu.
Alana sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah, ia sudah mulai menikmati hidupnya sebagai ibu rumah tangga.
"Alana buruan." teriak Dava dari bawah.
"Tunggu mas,"
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, Alana masih belum turun entah apa yang ia lakukan di dalam kamar.
Dava terpukau dengan kecantikan, Dava baru menyadari istri kecilnya ini sudah semakin dewasa.
"Jangan ngeliatin gitu, aku jadi malu!"
"Cantik." ucap Dava tanpa sadar sambil tersenyum menatap Alana.
"Apa, kamu ngomong apa aku gak denger?" ucap Alana sambil mendekatkan telinganya ke depan dada Dava.
"Enggak, Ayo berangkat." ajak Dava berjalan terlebih dahulu, sedangkan Alana sedang cemberut.
Alana merasa sebal karena jelas-jelas Alana mendengar Dava memuji dirinya. Tapi Dava tak mau berbicara langsung padanya.
"Eh kenapa berdiri aja, ayo!"
Alana berjalan sambil cemberut mengikuti Dava. Sedangkan Dava yang melihat itu merasa sangat gemas, susah oayah ia menahan agar tawanya tak lepas begitu saja.
"Kalo mau ketawa ya ketawa aja, gausah ditahan."
"kamu lucu kalo lagi ngambek gitu." ucap Dava smabil mencubit pipi gembul Alana.
Alana tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Pipi Alana bersemu merah, itu semakin membuat Dava merasa sangat gemas.
Dava menarik tangan Alana menuju mobilnya, Alana langsung bergelayut manja di lengan Dava.
"Kamu kalo lagi manja gini mirip kayak Derry." ucap Dava sambil tersenyum, sedangkan Alana ingin mencakar wajah Dava.
"jadi menurut kamu aku mirip monyet?"
"Eh ngga git-"
"udahlah Alana gak mau berangkat! Alana sebel sama kamu." ucap Alana sambil pergi meninggalkan Dava.
"Alana tungguin mas!" Dava mengejar Alana yang masuk kedalam rumah.
"Astaga mulut lemes amat ya, nyama-nyamain Alana sama Derry." Dava memukul mulutnya sendiri, dan langsung menyusul Alana ke kamar.
Alana langsung merebahkan diri di kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Alana jangan marah sama mas." Dava berusaha membujuk Alana yang sedang merajuk padanya.
"Gak mau, kamu bilang aku mirip monyet." ucap Alana masih tetap menutup wajahnya.
"mas ngga sengaja."
"Bohong! Mas pasti sengaja."
Dava mengacak rambut kasar, sudah kehilangan cara untuk membujuk Alana lagi. Baru saja mereka berdamai sudah ada masalah lagi.
Beginilah keseharian Dava, ia harus berusaha sabar dengan sikap kekanakan Alana yang masih belum hilang sepenuhnya.
Dengan segera Dava menggunakan kembali jaketnya dan berjalan meninggalkan Alana.
Hanya satu-satunya cara agar mengembalikan mood Alana. Apalagi kalau bukan coklat kesukaannya.
"Noh kan abis bikin aku kesel ninggalin gitu aja. Dasar cowok!" ucap Alana snagat kesal dan meninju-ninju angin saking kesalnya.
Alana berjalan mengambil cemilan dan membuka laptopnya jalan satu-satunya adalah nonton drakor.
Sepuluh menit Alana bersantai menikmati drama yang ia tonton. Dava datang dan mengucapkan salam di ambang pintu.
"Alana."
Alana berbalik menatap Dava yang membawakan Alana sebuket coklat kesukaanya.
Alana tersenyum kepada Dava.
"nih... Maafin mas ya.. Jangan marah lagi oke."
Alana mengangguk antusias dan mengambil alih coklat yang dipegang Dava.
__ADS_1
'Kalo kayak gini, Alana gak bisa marah sama kamu.'