
Ujian Nasional telah usai, antara lega dan sesak. Lega karena ujian sudah di lalui, dan sesak karena harus siap berpisah dengan teman-teman.
Lupa sekolah mengadakan acara promnight, acara dimana yang mereka nantikan.
Alana juga ikut meramaikan acara promnight, ia akan membacakan puisi. Alana akan bekerja sama dengan grup band ter-hits di SMA Garuda, siapa lagi kalo bukan Alvano dan kawan-kawan.
Alana sangat suka membuat puisi, ia sedih karena hanya mendapatkan satu kali kesempatan untuk membacakan puisi khusus untuk angkatannya.
Saat ini Alana baru selesai berlatih dengan Alvano cs.
"Puisi lu keren Al," puji Ali, sahabat Alvano.
"Ya pasti keren lah, cewek gue bakatnya gausah diraguin lagi. Iya gak?" ucap Alvano membuat Alana meliriknya dengan tajam.
Alvano tertawa membuat matanya menyipit, Alana mengambil ranselnya.
"Alana pulang ya, bye," ucap Alana, baru saja akan membuka pintu lengannya di tahan oleh Alvano.
"Gue anter ya?" ajak Alvano.
"Eh, gausah Alana mau dijemput Abang," tolak Alana halus.
"please lah Al, kali ini aja ya?" bujuk Alvano.
Alana mengangguk pasrah, ia sudah sangat lelah jika harus menunggu abangnya yang super ngaret itu.
Satu kata yang Alvano rasakan yaitu 'senang' kareba setelah sekian lama akhirnya Alana mau menerima ajakannya.
Alvano mengikuti Alana dari belakang.
"Sukses ya bro!" teriak Dian kepada Alnvano. Alvano yang mendengarnya langsung mengacungkan jempolnya ke atas.
"Akhirnya sahabat kita bisa bersama dengan doinya," ucap Ali menatap punggu Alvano.
"Iyah lah, emang lu jomblo," ucap Dian.
"Aku kan nunggu kamu sayang," ucap Ali kepada Dian.
Plakk!
Dian mengetok kepala Ali dengan tangannya.
"Kok kamu jahat sih," ucap Ali sok sedih, membuat Dian menggedik jijik.
"jijik gue ****," ucap Dian meninggalkan Ali.
"Tungguin aku bep!" teriak Ali membuat Dian mempercepat langkahnya.
"Napa gua mau temenan ama anak dajjal, astagfirullah," ucap Dian bermonolog.
__ADS_1
®®®®
"Tuhan ku cinta diaaa," teriak Nadia memvuat Rika melemparkan bantal ke arahnya.
"Berisik ****! Dirumah orang ini, bukan hutan," ucap Rika sambil ngemil kacang.
Nadia dan Rika sedang menginap di rumah Alana, munhki ini terakhir kali mereka menginap bertiga.
Dalam waktu singkat mereka akan menemukan jalan hidup masing-masing. Persahabatan mereka mungkin tak selalu bersama, namun mereka tetap bertekad bahwa 'jadikan pundak sahabatmu sebagai penopang jalanmu,'.
Alana datang dengan membawa makanan ringan, membuat Nadia girang.
"Asique,makan lagi," ucap Nadia menghampiri Alana.
Rika, Nadia, dan Alana duduk lesehan di bawah.
"Makan terus lu, tadi sore makan nasi padang satu bungkus. Punya gua juga di embat," ucap Rika menyinyir.
"Dari pada mubazir, iya gak Al?" ucap Nadia meminta pembelaan.
Alana mengangguk.
"iya nanti nasinya nangis," ucap Alana sambil mengambil cemilan. "Lagian Nadia mau makan satu liter nasi per hari juga gak bikin dia gemuk," lanjutnya.
"iyahin aja dah," ucap Rika.
Jam menunjukan pukul 22:00 namun mereka masih belum tidur.
Benar kata orang, masa SMA adalah masa yang paling singkat, masa yang paling bersejarah.
"Hiks, Alana gak mau pisah dari kalian," Alana memang termasuk yang paling cengeng.
"kita juga ngga mau," ucap Nadia memeluk Alana.
Rika hanya diam, di antara mereka Rika lah yang paling kuat.
Rika berusaha menahan agar tidak meneteskan air matanya. Namun nihil, Rika tak bisa berpura-pura tegar. Ia lemah karena sahabatnya.
Rika ikut memeluk kedua sahabatnya, mereka terisak bersama.
"Uluh-uluh macam teletabis,"
Entah dari kapan Malvin bersandar dan melipat tangannya di tengah pintu kamar Alana.
Mereka bertiga Langsung melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"Jadi abang nguping?" Tanya Alana memandang nya dengan tatapan ingin menguliti hidup-hidup.
"Enggak! Tapi bang kesini mau-"
__ADS_1
"mau ngintip! Yah?".
"Enggak, sumpah gua kesini cuma mau ngambil power bank yang dicopet ama ade gue," jawab Malvin membela diri.
Alana bangun dan mengambil power bank milik abangnya.
"nih", Alana memberikannya kepada Malvin. "Udah kan? Sono pergi, dasar perusak suasana," lanjut Alana langsung menutup pintu kamarnya.
"Ayo kita tidur," ajak Alana.
®®®®
Dava sedang lari pagi, ia tak ada jadwal hari ini.
Ia berlari pelan mengelilingi komplek perumahannya.
"Itu anaknya bu Jihan yakan?"
"iya, ganteng mana dokter lagi,"
"pengen rasanya jodohin anak saya sama dia, tapi usianya masih dua tahun,"
Begitulah ucapan memuji yang Dava dengar dari ibu-ibu komplek yang sedang membeli sayuran.
Dava hanya membalas dengan senyuman
"Permisi bu," ucap Dava sopan saat melewatinya.
"kak Dava!"
Adiknya Tania datang menghampirinya menggunakan sepeda miliknya.
Tania turun dari sepedanya dengan nafas yang tersenggal.
"Pul,,, pul,,"
"Apaan pul-pul, ipul?"
Tania menggeleng, dan menarik nafas panjang.
"Pulang! Ada calon kakak ipar di rumah," ucap Tania membuat Dava kaget.
Dava langsung menaiki sepeda Tania dan pergi begitu saja, sedangkan Tania di tinggal olehnya.
"Kak Dava!" panggil Tania berteriak.
Dava segera memberhentikan sepedanya, menengok ke arah Tania yang naik ke boncengan sepedanya.
"maaf, lupa," ucap Dava menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Dasar. Yaudah ayo berangkat!"
Dava mengayuh sepedanya sampai rumahnya.