Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 42


__ADS_3

11.02 wib.


Keadaan Dava semakin membaik. Sedikit demi sedikit badannya bisa di gerakan.


"Ma, Diana mana? Dia gak pergi lagi kan ma?"


Jihan kesal dengan pertanyaan yang terus saja di ajukan oleh putranya.


"Mama gak tau." ucap Jihan ketus.


Sejak kedatangan Liona waktu itu, membuat Jihan tak suka. Menurut Jihan, Diana datang di waktu yang salah.


"Kok mama kayak gak suka sih sama Diana? Padahal waktu dulu mama seringsuruh Diana buat main ke rumah." ucap Dava menatap Jihan yang sedang memotong buah apel untuknya.


"Ya itu dulu, sebelum kamu menikah." ucap Jihan tanpa sadar.


"Menikah? Dava belum menikah ma. Jangan ngaco." ucap Dava menatap Jiahan yang acuh padanya.


"Terserah Dav. Mama cape yakinin kamu." ucap Jihan.


Pintu ruangan Dava terbuka dan memunculkan Diana disana. Dava tersenyum manis kepada Diana, senyuman yang pernah Dava beri untuk Alana.


Diana datang membawakan bubur buatannya untuk Dava. Jihan sampai pusing sendiri kepada Dava yang tak ingin makan kecuali


dengan bubur buatan Diana.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Diana sambil meletakan bubur di nakas.


"Baik. Lebih baik kalo ada kamu." ucap Dava membuat Diana tersipu.


Mata Dava menyipit melihat lengan dan pipi Diana yang memerah seperti sebuah tamparan dan pukulan.


Dava memegang tangan Diana dan mengusap lengan Diana lembut.


"Pipi sama tangan kamu kenapa?" ucap Dava menyelidiki.


"Gapapa kok." ucap Diana memalingkan wajah.


"Jujur! Aku tau kamu bohong." ucap Dava membuat Diana tersenyum dalam hati.


"Kamu ingat perempuan kemarin?" tanya Diana dan Dava mengangguk.


Jihan hanya diam mendengarkan apa yang selanjutnya Diana katakan.


"Dia sepertinya gila. Dia tampar pipi aku dan pukul lengan aku. Dia bilang aku ngerebut kamu dari dia." ucap Diana sambil menangis.


"Enak aja. Gak mungkin Alana ngelakuin itu. Pasti cuma akal akalan kamu aja." Jihan membantah ucapan Diana.


"Alana?" gumam Dava yang sepertinya tak asing dengan nama itu.


"Kamu ingat?" ucap Jihan senang.


Senyuman Jihan seketika pudar saat Dava menggelengkan kepalanya.


"Aku bakal kasih pelajaran sama dia! Karena dia udah bikin gadis aku kayak gini." ucap Dava membuat Diana tersenyum kecil.


"Kamu mau kasih pelajaran sama istri kamu sendiri?" tanya Jihan membuat Dava semakin bingung.


"Kenapa mama selalu sebut dia istri aku? Udah berapa kali aku bilang aku beluk menikah." ucap Dava menahan amarah.


"Sabar Dav." Diana mengusap lengan Dava pelan.


Jauh dari lubuk hati Diana ia tersenyum penuh arti. la merasa telah unggul,dan menang.

__ADS_1


"Oh iya, gimana kalo nanti kamu udah sembuh total kita cari baju buat acara pernikahan kita?" ucap Diana sambil menyuapi Dava.


"Tapi apa harus secepat itu?" tanya Dava.


"Lebih cepat kan lebih baik." ucap Diana.


'Kita harus menikah sebelum kamu sadar.’-batin Diana tersenyum.


"Hm." jawab Dava.


Jihan geram bukan main mendengar perbincangan tersebut. Bisa-bisanya Diana mengambil kesempatan dalam kehancuran.


Jihan pura-pura menaruh pisau di dekat Diana dan mendekati telinganya.


"Saya gak akan pernah sudi nikahin anak saya dengan wanita jahat seperti kamu, pe.la.kor." bisik Jihan menekan kata pelakor dalam ucapannya lalu pergi meninggalkan ruangan.


Perkataan Jihan membuat Diana marah. lngin rasanya Diana menjambak rambut Jihan kasar.


Diana tersenyum ke arah Dava dan dibalas senyuman pula oleh Dava.


"Aku gak akan biarin siapapun ngehancurin rencana aku. Termasuk ibu kamu sendiri Dit "


®®®®


Alana dan Malvin sedang bermain monopoli. lni terpaksa Malvin lakukan untuk menghibur Alana agar tidak terus melamun.


"Yey abang masuk penjara." ucap Alana girang melihat Malvin mendapatkan angka tiga dari dadunya membuat Malvin harus mendekam di penjara.


"Seneng amat liat gue tersiksa." gerutu Malvin.


Teroret teroret tereroret. (Anggap ini suara tukang eskrim yap).


"Bang mau eskrim." ucap Alana membuat Malvin menghentikan kocokan dadunya.


"Yaudah hayu beli." ajak Malvin disambut senyuman oleh Alana.


’Gapapa yang penting dia seneng.’ batin Malvin menyemangati dirinya. I


"Iatrinya lagi ngidam ya mas?" ucap tukang eskrim membuat Malvin melotot.


"Emang muka kita gak keliatan mirip apa?" tanya Mvin.


"Mirip. Biasanya kalo mirip itu jodoh." ucap mamang eskrim.


"Kalo mirip berarti adik kakak mang." ucap Malvin sambil membayar eskrim yang di pesan.


Alana sudah duduk manis di alam rumah sambil menikmati eskrim coklat. Malvin datang menghampiri Alana yang sedang menikmati eskrimnya.


Saat Malvin hendak mengambil sebungkus eskrim di meja, tangannya langsung di tepis oleh Alana.


"Gak boleh minta." ucap Alana galak.


"Pelit banget." gumam Malvin tapi masih terdengarjelas oleh Alana.


"Apa? Ngomong apa tadi?" tanya Alana memicingkan matanya.


"Enggak. Alana cantik banget hari ini." ucap Malvin.


"Udah tau." ucap Alana membuat Malvin geram.


’Sabar-sabar. Orang sabar pacarnya banyak.'


®®®®

__ADS_1


Hari ini, Dava sudah dibolehkan pulang. Sejak pagi Alana sudah menata kamarnya seperti dulu saat Dava masih mengingatnya.


"Bang jangan di situ."


Alana sangat kesal dengan Malvin yang menaruh barang nya asal. Mana Malvin belum mandi, masih muka bantal.


"Sama aja ini. Ribet banget dah lo sumpah." gerutu Malvin sambil menaruh Vas bunga di dekat jendela kamarnya.


Malvin duduk di kasur Alana. Malvin menatap Adiknya yang antusias menata barang-barang sebaik mungkin. Tadi pagi, Alana membangukan Malvin hanya untuk mencuci foto pernikahannya dengan Radit.


"Yey selesai." ucap Alana antusias.


Alana berjalan menuju nakas dan mengambil heandpone miliknya. Alana menekan nomor Jihan, ia akan menanyakan jam berapa Dava pulang.


”Assalamualaikum Alana. ”


"Waalaikumsalam Ma."


"Ada apa?"


"Mas Dava pulang kesini kan Ma?"


"lya, nanti Mama antar dia pulang kesitu."ucapan Jihan membuat Alana tersenyum senang.


"Jam berapa pulangnya ma?"


"Sebentar Iagi. lni lagi beres-beres, abis itu langsung pulang.”


”Gimana kondisi kehamilan kamu?"


"Alhamdulillah baik ma."


"Syukurlah. Yaudah, Assalam ualaikum ”


"Waalaikumsalam ."


Bip.


Alana mematikan sambungan teleponnya dan ikut duduk bersama Malvin. Alana menatap dirinya di depan cermin.


"Abang pulang gih." ucap Alana membuat Malvin menggelengkan kepalanya.


"Gue nunggu sampe Dava balik." Putus Malvin.


"Gak. Abang harus pulang." ucap Alana galak membuat Malvin tak berkutik.


"Yakin lo baik-baik aja?" ucap Malvin waspada.


"hmm."


Setelah berdebat akhirnya Malvin mengalah dan pamit untuk pulang.


Sebenarnya Alana tak yakin akan baik-baik saja. Tapi, mau gimana lagi? Alana tak ingin Malvin khawatir padanya.


"Jaga diri baik-baik. Kalo ada apaapa telepon gue." ucap Malvin memperingati dan dibalas acungan jempol oleh Alana.


Setelah Malvin pergi Alana duduk termenung menunggu kepulangan suaminya. Alama sangat rindu Dava.


"Mas, Alana bakal tunggu kamu sembuh. Aku akan bertahan kalau aku mampu, aku bertahan demi anak kita." ucap Alana menguatkan dirinya.


Matanya menatap foto pernikahan. Betapa indahnya dulu, baru beberapa kali bertemu Alana sudah dibuatjatuh cinta oleh Dava.


"Aku yakin, seberat apapun nantinya, kalo Allah udah bilang kita jodoh siapapun gak bakal bisa menyangkal." ucap Alana sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik ya di sana. Kuatin mama ya." ucap Alana berinteraksi dengan bayinya, yang mungkin sekarang masih segumpal darah.


Mata Alana mulai mengantuk, semenjak hamil Alana menjadi cepat lelah bahkan turun tangga pun membuat kaki Alana sakit.


__ADS_2