
Alana naik ke mobil Dava, dengan hati-hati Dava mengangkat tubuh Alana.
Dava ikut naik ke mobil. Sedangakan Tania, Malvin, lisa , Sari, dan Jihan naik ke mobil Malvin.
Dava menjalankan mobil dengan kecepatan rata-rata. Alana menatap Dava lekat, ia masih tak menyangka, hal apa yang membuat Dava percaya bahwa ia adalah istrinya? Padahal, kemarin-kemarin Dava menentang perkataan mamanya sendiri.
"Mas." panggil Alana membuat Dava melirik.
"Iya?"
"Hal apa yang bikin kamu percaya kalo aku istri kamu?" ucap Alana.
Dava diam sebentar, lalu tangannya terulur memegang tangan Alana dan menggenggamnya.
"Saya hanya ingat kamu adalah gadis SMA yang takut jarum suntik." ucap Dava membuat Alana tersenyum.
"Selain itu?" tanya Alana lagi.
"Tak ada. Hal yang buat saya percaya kamu istri saya itu, saat saya melihat wallpaper heandpone kamu dan notes di dalamnya." ucapan Dava membuat Alana melotot.
Alana sangat malu, saat ia tau Dava membaca notes di heandpone miliknya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Keduanya sama-sama cangung, seperti orang yang baru saja kenal.
Mobil Dava terparkir di halaman rumah mereka, disusul mobil Malvin yang berada di belakangnya.
Dava memapah Alana saat ia turun dari mobilnya. Sebenarnya Alana bisa berjalan, sedikit modus agar ia lebih dekat dengan Dava.
Alana duduk di sofa ruang tamu dan Dava duduk di sampingnya.
Mereka selalu tersenyum melihat tingkah Malvin yang terlalu bar-bar.
®®®®
Rumah Diana sudah seperti gudang, kamarnya sudah tak berbentuk lagi. Tangan Diana sudah berdarahdarah karena menonjok kaca meja dasnya.
__ADS_1
”ngh! Bangs*at.” Diana semakin naik pitam saat melihat di kaca kamarnya Dava membantu Alana saat turun dari mobil.
Diana mengambil heandpone miliknya. Diana membaca beberapa artikel tentang dirinya.
Mrs. Diana the cold blood killer disappeared without a trace. (Nyonya Diana si pembunuh darah dingin hilang tanpa jejak) -Artikel Perancis.
Tak
Diana melemparkan heandponenya asal dan hancurseketika. Dengen mata yang tajam Diana berjalan turun tangga.
Diana membuka kamar rahasianya, disana sudah banyak kelinci yang mati karena ulahnya.
Diana membuka kandang kelinci dan mengambil seekor kelinci.
Diana mengambil pisau lipat disaku celanannya. Diana membuka pisaunya dan perlahan-lahan menggesekan pisaunya ke leher kelinci.
Diana seperti orang kesetanan. la membabi buta kelinci itu, memotong beberapa bagian tubuh kelinci itu.
"Ini adalah Alana."
Diana terus memotong kelinci itu sampai tak berbentuk lagi. Tangannya sudah penuh oleh darah, ini yang ia suka saat melihat darah segar menempel di tangan dan bajunya.
"Gue benci dia! Dia harus mati." ucap Diana mengeluarkan senyuman devil miliknya.
Diana berjalan ke arah lemari dan membukanya, ia sudah menempelkan foto Alana disana.
"Beberapa bulan yang lalu gue bunuh orang, tanpa ketahuan. Kalo Alana udah mati, gue yang akan nyerahin diri gue ke polisi." ucap Diana.
Srek srek
Diana menggoreskan pisaunya berbentuk silang di foto Alana. Bisa dibayangkan betapa menyeramkannya Diana saat ini.
Diana mengunci ruangan rahasianya dan berjalan menuju wastafel dapurnya untuk mencuci tangannya.
Diana berjalan ke kamar untuk mengganti bajunya yang penuh darah. Setelah berganti baju dan mandi, Diana memgambil korek untuk membakar baju miliknya.
__ADS_1
Diana membakar bajunya di dalam kamar. Diana mengambil beberapa pil yang takjelas asal usulnya meneguknya hingga tiga pil.
Diana memejamkan matanya, mencoba menikmati pil itu. Tanpa itu, mungkin Diana sudah tak bisa menahan diri untuk membunuh orang dimanapun.
Diana menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya.
'Gue gak boleh kalah!’
®®®®
Alana merasa kesal dengan Dava. Pasalnya, Alana bersusah payah untuk membuat jus apel untuknya. Tapi, dengan entengnya Dava meminumnya hingga kandas.
"Kita beli lagi aja ya?" ucap Dava membujuk Alana yang cemberut.
"Gak mau beli. Alana mau bikin dirumah." ucap Alana membuat Dava frustrasi.
"Yaudah saya beli ap--"
"Panggilnya Aku-kamu. Jangan saya, formal banget." ucap Alana membuat Dava mengangguk.
"Yaudah, Aku beli apelnya dulu oke." ucap Dava sedikit gugup.
"hm." jawab Alana singkat.
Dava mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar rumah. Saat Dava hendak pergi Alana segera berlari.
"Mas. Aina gak mau apel." ucap Alana membuat Dava senang.
Namun, ucapan Alana tersembunyi rahasia. Alana tak akan mungkin membatalkan permintaannya itu jika tak ada hal lain.
Dava datang menghampiri Alana dan mengajaknya masuk ke dalam Rumah.
"Yuk masuk." ajak Dava.
"Gak. Alana mau mangga itu." tunjuk Alana pada pohon mangga milik tetangganya.
__ADS_1
"Beli aja ya?" tawar Dava.
'*A*lana mau mas Dava manjat pohon mangga itu demi dede bayi.’