
Diana sudah pulang. Kini, hanya Alana dan Dava saja di rumah.
Bahkan saat ini Alana masih saja menangis. Bagaimana tidak? Alana melihat suaminya lebih percaya kepada wanita lain selain dirinya.
Semakin Alana bertahan semakin Alana menderita.
Tadi Dava menolak tidur bersamanya. Dava lebih memilih tidur di kamar tamu daripada di kamarnya. Alana tak berhenti terisak melihat keadaan rumah tangganya yang seperti ini.
Jam sudah menunjukan pukul 1 malam, namun, Alana masih belum bisa memejamkan matanya. Alana masih terus memikirkan cara agara Dava bisa mengingatnya.
"Apa aku harus pergi?"
"Tapi, kalo aku pergi aku kalah. Gak. Aku gak akan biarin dia menang."
Dari tadi Alana hanya bermonolog, berusaha menguatkan hatinya yang mulai hancur.
Alana bangkit dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering akibat menangis berjam-jam.
Namun saat Alana bangun, perutnya terasa keram dan sakit. Alana meremas perutnya dan meringis.
"Awh. Pe-perut aku sa-sa-sakit." ucap Alana terbata dan kesakitan.
Dengan sekuat tenaga Alana berjalan menuju kamar Dava, hanya ia yang dapat menolongnya saat ini.
Tok tok tok
Alana mengetuk pintu Dava secara brutal, seperti orang yang hendak menagih hutang.
"Mas, awh." ucap Alana menahan rasa sakit di perutnya.
Ceklek.
Pintu kanar Dava terbuka, menampilkan Dava yang menahan kantuknya.
"Ada apa sih?" tanya Dava tak suka.
"Tolong aku. Perut aku sakit." ucap Alana membuat Dava langsung membuka matanya.
Ada sedikit kekhawatiran dari raut wajah Dava. Dengan segera Dava menggendong tubuh Alana yang menahan sakit di perutnya.
Setelah mendudukan Alana di kursi samping pengemudi, Dava segera menyalaka mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Ada rasa senang di hati Alana. Dava memiliki keperdulian padanya, Dava tidak sejahat yang Alana kira.
"Awh, sakit hiks." Alana mulai meringis saat kontraksi pada perutnya semakin menjadi-jadi.
"Tahan, sebentar lagi kita sampai." ucap Dava.
Alana menatap wajah Dava sebentar lalu tersenyum. Alana mengusap perutnya, semoga saja kontraksi nya mereda.
Mobil Dava berhenti disebuah rumah sakit. Dava membuka pintu mobilnya dan berlari memutari mobil untuk membuka pintu Alana.
Dengan segera Dava menggendong Alana ala bridal style membuat Alana sedikit terkejut. Dalam keadaan panik saja Dava terlihat sangat tampan. Alana sampai bingung dengan dirinya, satu sisi perutnya terasa sakit, disisi lain hatinya merasa sangat bahagia.
"Suster." panggil Dava kepada suster yang berjaga malam.
Suster itu peka, dengan segera suster itu mengambil kursi roda. Dava mendudukan Alana di kursi roda.
__ADS_1
Alana kaget saat melihat darah mengalir di kakinya. Alana menyesal telah mengabaikan kehamilannya, malah memikirkan hal lain yang membuat Alana setres.
Alna dibawa ke ruang khusus ibu hamil. Di sana Alana bertemu lagi dengan dokter yang pernah memeriksanya.
Dokter itu tersenyum melihat Alana. Dengan segera dokter memeriksa keadaan Alana yang meringis kesakitan. Dokter itu takut sebenarnya, apapun yang dihadapinya seorang dokter tak boleh panik di depan pasien.
Dokter itu mengambil sebuah suntikan untuk meredakan rasa sakit yang Alana alami.
"Jangan suntik saya dokter."
Deg.
Dava yang mendengar perkataan itu langsung memegang kepalanya yang terasa pusing.
Memori Dava berputar, pikirannya malah saling dorong.
'Aaaaaa.’
'Kamu takut disuntik?’
'Jalan kenangan.‘
" nomor dua belas."
"Wanita itu..." Dava duduk di kursi. Pikirannya berperang.
"Wanita itu bukannya gadis SMA yang dulu takutjarum suntik?" ucap Dava bermonolog.
Kepalanya semakin pusing, Dava memukul kepalanya kencang supaya meredakan rasa sakit dikepalanya.
Dava mengingat Alana walau sedikit. Sakit di kepalanya mulai mereda, barulah Dava menghela nafas lega.
"Dia tak ada hubungannya dengan saya." Eava berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tak memiliki hubungan apa-apa.
Dokter yang memeriksa Alana keluar, entah dorongan dari mana Dava langsung menghampiri dokter itu dan bertanya.
"Bagaimana kondisi dia? Dokter Layla? " ucap Dava spontan.
"Pak Dava?" ucap dokter itu dan diangguki oleh Dava.
"lkut saya." ucap dokter yang dipanggil Layla itu.
Dava mengikuti langkah Layla dan masuk kedalam ruangannya. Dava menarik kursi di depan Layla.
"Bapak harus jaga istri bapak sebaik mungkin. Kandungannya lemah, karena dia masih sangat muda." ucap Lalyla membuat Dava menautkan alisnya.
"Dia bukan istri saya." ucap Dava masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Bagaimana mungkin. Seminggu yang lalu dia datang kesini mengaku istri bapak." ucap Layla membuat Dava semakin bingung.
"Dokter Layla mungkin salah orang. Mungkin bukan saya, nama Dava bukan satu aja di dunia ini." ucap Dava membuat dokter Layla bingung.
"Saya yakin dia istri kamu. Saya bisa liat betapa khawatirnya dia saat tak mendapatkan kabar dari kamu. Sampai dia menanyakan pada saya." ucap Layla membuat kepala Dava semakin sakit.
'ada apa sama gue?’ batin Dava.
"Saya dengar bapak mengalami kecelakaan ya?" ucap Layla membuyarkan lamunan Dava.
__ADS_1
"lya. Tapi saya tak ingat mengapa saya bisa kecelakaan." ucap Dava membuat Layla paham.
"Apa kamu percaya amnesia?" tanya Layla membuat Dava bingung.
"Tidak. Menurut saya, amnesia hanya ada di sinetron saja." ucap Dava.
"Tapi saya percaya bahwa amnesia itu ada. Dan itu terjadi pada kamu." ucap Layla membuat Dava mematung.
Dava semakin bingung, setelah berbicara banyak hal dengan dokter Layla, Dava berjalan menuju ruangan Alana.
Dava menatap Alana lekat, mencoba mengingat wanita di depannya ini.
Namun, hasilanya nihil Dava tak mengingat siapa dia selain gadis SMA yang takut jarum suntik.
'Apa mungkin gue bener amnesia?" tanya Dava bergulat dengan ego nya.
Dava berjalan menghampiri Alana lebih dekat, menatap wajah Alana lekat. Dava duduk di dekat ranjang pasien Alana.
Tes
Air mata luruh dari sudut mata Alana. Hal itu membuat Dava khawatir, Alana bergerak gelisah.
"Suttt, saya di sini." ucap Dava sambil mengusap tangan Alana.
Hebat, setelah Dava mengusap tangan Aina, Alana langsung tenang tak gelisah lagi.
Dava melihat heandpone milik Alana, tangannya terulur begitu saja untuk mengambilnya.
DAVA membuka heandpone ALAna. Katakan saja Dava tak sopan, tapi sungguh Dava ingin memastikan bahwa Alana adalah istrinya.
Deg.
Jantung Dava kembali bergemuruh saat melihat wallpaper heandpone Alana. Sebuah foto dirinya dan Alana, disamping Alana adalah orangtua Alana dan disamping Dava adalah mama papa dan Dava.
"Di-dia bener istri gue? Tapi, kenapa gue gak inget dia?" ucap Dava.
Tak sampai disitu, Dava membuka heandpone Alana yang tak memakai pola atau sejenisnya. Jari Dava terulur menekan notes di heandpone Alana.
Dava menekan sebuah notes yang membuat dirinya tertarik.
09 Mei 2019
Hari ini, adalah hari dimana Alana akan menjadi seorang istri. Alana akan menjadi seorang istri dari dokter tampan, Dava namanya.
Entah dorongan dari mana Alana menerima perjodohan itu. Perjodohan yang membuat kami saling menyukai.
Sebenarnya Alana masih ingin menikmati masa muda Alana. Alana ingin berkuliah seperti Rika dan dan Nadia. Tapi, saat melihat Bunda senang saat aku menyetujinya membuat aku tak tega un tuk menolak.
Aku masih mengingat saat pertama kali aku dan pak dokter bertemu, aku menabrak bahunya tak sengaja. Itu semua gara-gara Raka.
Saat tahu akan ada penyuntikan di sekolah membuat aku enggan masuk sekolah.
Tapi hari itu Alana ketauan berbohong, akhirnya Alana memutuskan untuk sekolah meski terpaksa.
Alana masih tak menyangka, sekarang Alana harus patuh pada suami Alana. Alana tak bisa bermanja dengan Ayah Iagi, karena nan ti Alana sudah jadi tanggung jawab pak dokter.
Air mata Dava menetes, ia tak kuat membaca tulisan berikutnya. Dava bangkit dan menonjok dinding dengan keras.
__ADS_1
"Gue ****, brengsek, dan egois." Dava memaki dirinya sendiri.