Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 47


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.


Semuanya telah pulang satu jam yang lalu, kini hanya tinggal Alana dan Dava saja yang ada di rumah.


Alana tengah duduk santai sambil memperhatikan Dava yang tengah membawa piring bekas makan ketoprak.


Tadi, keluarga Dava datang kesini. Mereka sengaja datang hanya untuk melihat kondisi Alana.


"Mas, itu masih kotor." komentar Alana melihat Dava yang tengah mengepel rumahnya.


Alana geram ingin memgambil alih pekerjaan itu. Namun, Dava melarang keras agar Alana tidak melakukan hal apapun.


"Aku bantuin ya." tawar Alana membuat Dava menghentikan kegiatannya.


"Udah kamu diem aja. Minum susunya tuh." ucap Dava sambil melanjutkan acara mengepel lantainya.


"Gak ah. Alana mau susu rasa pepaya." ucap Alana membuat Dava menghela nafas gusar.


"Gak ada susu ibu hamil rasa pepaya Alana. Yang ada cuma coklat, vanila, stroberi, sama full cream."


Selama hamil permintaan Alana itu aneh-aneh. Seminggu yang lalu Alana meminta Dava membeli sate Padang jam 12 malam. Oke, Dava masih bisa mencari. Tapi hal yang paling menyulitkannya, Alana meminta Dava untuk membeli sate langsung ke padang.


"Monoton banget sih susunya rasa itu-itu terus. Gak kreatif." ucap Alana sambil meminum susunya.


Tadi katanya Alana gak mau minum susunya, tapi sekarang ia malah meneguknya hingga kandas.


"Emang pabrik itu punya bapak kamu apa. Minta orang bikin susu rasa yang lain." sindir Dava membuat Alana menatapnya tajam.


"Kamu diem. Kalo istrinya lagi ngomong ngejawab terus." ucap Alana membuat Dava diam.


"Mas, kok aku gak ngeliat Diana kemana dia?" tanya Alana.


Semenit berlalu tapi, Dava tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kalo istri nanya ya dijawab!" ucap Alana ngegas.


"Tadi katanya jangan ngejawab. Serba salah ya jadi aku." ucap Dava merasa tersakiti.


"Yha, beda lagi ceritanya." ucap Alana tak mau kalah.


Apa ini yang dinamakan perempuan selalu benar?


"Aku gak tau." jawab Dava seadanya.


Aina memicingkan matanya menatap Dava dengan tatapan mengintimidasi.


"Ngapain mata kamu kayak gitu?" tanya Dava sambil memeras pelan.


Semua pekerjaan sudah selesai, Dava menghampiri Alana yang sedang memakan salad buah.


"Mau dong."


"Nih." Alana memberikan wadah salad buahnya kepada Dava.


"Suapin." ucap Dava manja.


Alana mengarahkan sendoknya pada Dava. Dava menerimanya dengan senang hati.


"Mas, Alana mau nanas. " ucap Alana.


"Gak. lbu hamil gak boleh makan nanas." ucap Dava.


"Lha, siapa yang bilang aku yang makan? Aku cuma mau liat kamu makan nanas." ucap Alana membuat Dava bingung.


"Gak ah, aku ngantuk." ucap Dava sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alana.


"Hiks. Mas Dava pelit, huaa.... " Alana memangis membuat Dava langsung panik.


"Hey, yaudah mas beliin oke. Jangan nangis." ucap Dava membuat Alana langsung girang seketika.


"Yey."


Cup.


Alana mencium pipi Dava. Si empu terpaku atas perlakuan Alana padanya. Saat Alana mencium pipinya membuat hati Daba bergetar.


"Cepet berangkat." ucap Alana membuat Dava segera mengambil kunci mobilnya.


Dava berjalan keluar rumah dan menutup pintunya. Alana menyalakan televisi untuk membuyarkan rasa gelisah di hatinya.

__ADS_1


Alana sangat takut, Diana tak mungkin pergi begitu saja. Alana yakin, sewaktu-waktu Diana pasti datang untuk menghancurkannya.


Tok tok tok


"itu pasti mbak Mia."


Mbak Mia adalah pembantu yang akan bekerja dirumah ini. Davasengaja menyewa pembantu, karena besok Dava sudah mulai bekerja.


Alana berjalan menuju pintu sambil mengusap perutnya yang semakin hari semakin membesar.


"Hai mbak Mi--Dlamna?!" Aina memekik saat melihat Diana di depan pintu rumahnya membuat Alana mundur beberapa langkah.


"Hai, Alana." Diana melambaikan tangannya.


"Mau ap-mphh--" wajah Alana ditutup oleh kain yang membuatnya pusing.


"Cukup kan waktu tiga bulannya?" ucapan itu yang terakhir Alana dengar sebelum semuanya menggelap.


"the game has started”


®®®®


Dava turun dari mobil sambil menenteng buah nanas yang ia beli ditukang buah (Yaiyalah masa ditukang bawang)


Dava kaget saat melihat Mbak Mia duduk di teras depan rumahnya.


"Mbak, kok gak masuk kedalem?" tanya Dava.


"Pas tadi saya datang kesini, pintu rumah kebuka tapi gak ada orang." jelas Mbak Mia.


Dava heran, padahal tadi ia sudah menutup pintu rumahnya. Kalau pun Alana keluar pastri ia menutup pintu rumah.


"Yaudah mbak masuk." ajak Dava.


Dava meletakan buah nanas di meja makan, Dava berjalan ke kamarnya.


"Alna mbak Mia sudah datang, kenapa kamu gak suruh masuk?" tanya Dava sambil membuka pintu kamarnya.


Dava kaget saat tak mendapatkan Alana di kamarnya. Dava berlari ke bawah.


"Mbak gak liat istri saya? Tadi saya tinggal beli nanas doang, sekarang udah ngilang." ucap Dava.


Dava merongoh heandponenya yang baru ia beli sebulan yang lalu. Heandpone miliknya yang dulu tak tau dimana.


Dava mencoba menelepon Alana. Namun, di dekat meja ruang tamu ada suara heandpone yang berdering.


"Gak biasanya dia gak bawa hp." ucap Dava.


Dava memutuskan untuk menelpon Malvin, siapa tau Alana ada disana.


"Halo Dit, ada apa?”


"Vin, lagi dimana?"


"Di rumah. "


"Ada Alana gak?"


”Gada tuh."


"Jangan bilang Alana ilang?"


Dava tak tau harusjawab apa, ia tak bisa menyimpulkan Alana hilang. Bisa jadi Alama sedang ke warung.


"Tadi gue tinggalin dia buat beli nanas, karena dia pengen liat gue makan nanas. Pas balik dia gada." jelas Dava.


"Jangan-jangan Alana di culik. "


"Kita gak bisa nyimpulin kalo dia diculik. Karena belum dua puluh empat jam."


"Jadi, harus nunggu satu hari dulu buat mastiin? Gila ya lo. Gua kesana sekarang, kita cari barengan. ”


Malvin mematikan sambungan teleponnya sepihak, Dava mencoba menelpon Jihan menanyakan apakah Alana ada disana atau tidak. Nihil, Aina tak ada di rumah orang tuanya Dava.


Tak menunggu waktu lama, suara mesin mobil Kevin sudah terdengar di halaman rumahnya.


Dava langsung berjalan membuka pintu, ternyata Malvin tak sendiri. la mengajak Sari dan Zahran juga.


"Dimana Alana?" tanya Sari berapi api.

__ADS_1


"Enggak tau bun, sejam yang lalu masih ada disini." jelas Dava.


"Yaudah kita bagi tugas, Ayah sama Bunda. Malvin sama Dava." usul Zahran dan semuanya mengangguk.


malvin yang menyetir, melihat Dava yang begitu panik membuatnya tak yakin jika Dava yang menyetir.


"Lo gak punya musuh kan?" tanya Malvin membuat Dava menggleng.


"Enggak?


Semuanya fokus mencari, sampai ke warung-warung mereka tanyain. Namun, tak ada satupun yang melihat Alana.


Tempat rahasia Diana.


Diana tengah menatap Alana yang masih belum sadar dari pingsannya. Tangan dan kaki Alana diikat membentuk huruf X.


Diana tersenyum menatap Alana yang lemah itu. Diana melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat Alana diikat.


"Lo enaknya diapain ya?" tanya Diana sambil mengusap rahang Alana.


"Gue gak mungkin langsung bunuh lo sekarang, gak seru kalo gada pemberontakan."


"Nyuruh orang buat perkosa lo kayaknya seru tuh." ucap Diana


sambil menyelipkan rambut Alana kebelakang telinga.


Perlahan mata Alana terbuka. Alana mengerjapkan matanya, samar samar Alana melihat wajah Diana dengan senyuman liciknya.


"Sudah bangun rupanya. Mau minum apa? Darah? Atau air putih? Hm." tanya Diana dengan senyuman manis.


Diana sebenarnya cantik, namun sayang ia mengalami gangguan jiwa. Emosinya tidak stabil, sehingga cara untuk membuatnya tenang adalah dengan membunuh.


Ada rasa puas tersendiri, saat Diana memotong bagian tubuh manusia atau bahkan hewan.


"Diana lepasin aku!" ucap Alana gemetar.


"Hust, tenang. Sekarangtidur dulu yang puas, karena besok lo gak akan melihat dunia ini lagi." ucapan Diana membuat Alana takut.


"Tolong! Siapapun tolong Alana!" ucap Alana berteriak.


"Hahaha, sekuat apapun lo teriak gak akan yang datang nyelamatin lo. Ruangan ini kedap suara." ucap Diana.


Alana bergerak gelisah, mencoba melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.


"Lo gak akan bisa pergi dari sini!" ucap Diana sambil menarik rambut Alana kencang.


"Lepas! Awh, sakit." ucap Alana menahan rasa sakit dikulit kepalanya yang terasa ingin lepas.


"Ngeliat lo ketakutan gini bikin gue gak sabar buat menguliti tubuh lo." ucap Diana membuat Alana menangis.


Diana saat ini benar-benar seperti kesetanan.


"Tolong! Lepasin aku Diana. Jangan gila." teriak Alana.


Plak


Plak


Diana menampar kedua pipi Alana hingga berbekas. Alana semakin menangis, hatinya tak berhenti berdoa.


"Besok lo akan mendapatkan kepuasan biologis Alana." ucap Diana menatap Alana sambil tersenyum.


Diana benar-benar mengerikan! kenapa ada orang seperti Diana di dunia ini.


"Sekarang lo berhenti nangis! Gue benci tangis lo." ucap Diana berteriak.


"Siapapun tolong aku hiks." ucap Alana samar sambil menatap punggung Diana.


diana berjalan ke kandang kelinci, mengambil satu ekor lalu berialan ke arah Alana. Aina takut kelinci! Alana benci kelinci.


"Lo takut kelinci?" tanya Diana.


Diana meletakan kelinci itu disamping kepala Alana. Hal itu mlmbuat Aina berteriak karena takut.


Diana tertawa kencang, ia mengambil kelinci itu dan mengangkat di depan wajahnya.


Diana mengambil pisau lipat di saku celanannya. Diana membuka pisau itu dan mengarahkannya ke kelinci itu.


Srek.

__ADS_1


__ADS_2