
21:30
Beberapa kali Alana menguap, matanya lelah terus menatap bukunya.
"Aku tidur dulu ah sebentar,"
Alana mulai memejamkan matanya, tak perlu waktu lama Alana sudah jatuh ke alam mimpinya.
Dava membuka pintunya, menemukan Alana yang sudah tertidur pulas. Kedua sudut bibir Dava membentuk sebuah senyuman.
Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah berganti pakaian, Dava menghampiri Alana yang tak terusik dari tidurnya.
"Kasiannya," ucap Dava membelai pipi Alana. Mengambil Heandpone nya yang sudah di carger, membuka kamera untuk memfoto Alana.
"Alan, hei bangun," Dava menggoyangkan badan Alana pelan, membuat si empunya membuka matanya.
"Udah selesai?" Tanya Alana.
Dava tersenyum dan mengangguk. Membuat air di rambut Dava menetes ke lengan Alana.
"Ayo pulang sudah malam banget. Maafin kakak ya, bikin kamu nunggu lama,"
Alana dan Dava berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mata Akana bersinar saat memandang betapa bersihnya rumah sakit itu.
Dava membukakan pintu mobil untuk Alana, perlakuan kecil namun manis.
"Silahkan masuk calon nyonya Mahesa,"
Alana tertawa singkat, dan langsung masuk kedalam mobil milik Dava.
Mobil melaju menyusuri jalanan kota Bandung, melihat vabyaknya lampu yang bewarna warni membuat Alana merasa sangan senang, apalagi satu mobil dengan orang istimewah.
Di dalam mobil Alana ikut menyanyikan lirik lagu yang mengalun, lagu yang pas untuk mereka.
Akad-payung teduh
"Aku gak nyangka suara kamu sebagus itu," komentar Dava, membuat Alana berhenti bernyanyi.
"Tuh kan Alana bilang apa, suara Alana emang enak. Tapi Abang bilang suara Alana kayak kaleng rombeng. Mana kalo Alana nyanyi selalu tutup telinga lagi," Adu Alana kepada Dava membuat Dava tertawa.
__ADS_1
"Gimana rencana kamu setelah lulus sekolah?" tanya Dava melirik Alana lalu fokus untuk menyetir.
"Menikah dengan kakak," jawab Alana spontan.
"oh iyah," Dava menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Cita-cita kamu apa?" tanya Dava.
"Pengen jadi dokter,"
"Hah? Kan kamu takut sama jarum suntik," Dava heran.
"Alana cuma takut disuntik, bukan takut nyuntik orang kak. Lagian ngapain susah payah nyari gelar supaya dipanggil dokter. Setelah menikah dengan kakak, aku akan mendapatkan panggilan Ibu dokter,"
Daebak! Jawaban Alana membuat Dava tercengang.
"Tadi aja, suster manggil aku calon bu dokter,"
"Pemikiran yang bagus," jawab Dava dengan tawa.
Sepertinya hari ini Dava banyak tersenyum bersama Alana.
Mobil sampai di perkarangan rumah Alana. "Kakak mau dateng gak saat aku pelulusan?" tanya Alana sebelum turun.
Alana tersenyum dan turun dari mobil. Dava membuka kaca jendela mobilnya.
"Kakak ngga mau mampir dulu?" tanya Alana.
"Enggak deh udah malem banget, salam buat bunda ya. Kamu langsung tidur, jang lupa mimpiin aku. Aku pulang ya," ucap Dava.
"iya kak hati-hati,"
Setelah melihat mobil Dava sudah jauh, Alana melangkahkan kakinya menuju rumah. Saat ia membuka pintu.
"Astagfirullah," Alana kaget saat menemukan Malvin menggunakan masker wajah di depan pintu.
"Hahaha, gue pengen ketawa takut retak masker gue,"
"So so an pake masker," nyinyir Alana.
"Eh kita sebagai kaum lelaki juga gak mau kalah ya, masa cuma cewek aja yang boleh glowing," balas Malvin tak mau kalah.
__ADS_1
"Mana Alana gak pernah ngomong kalo cowok gak boleh glowing?" balas Alana tak mau kalah juga.
"Dasar cewe ngga pernah mau disalahin," ucap Malvin pelan, namun masih terdengar oleh Alana.
"Apa Abang ngomong apa? Siapa yang salah?!" tanya Alana nge-gas.
"iya Abang yang salah," ucap Malvin ngalah.
"Good," balas Alana meninggalkan Malvin yang masih kesal olehnya.
"Dasar kadal Afrika, gapernah mau kalah," ucap Malvin setelah Alana sudah masuk kedalam kamarnya.
Alana merebahkan tubuhnya di kasur, matanya terpejam. Bayangan Dava terus berputar di pikirannya.
Alana baru pertama merasakan hal seperti ini, hal yang membuat hati Alana berseru senang. Bahkan senyuman Dava serasa tersimpan di memori otaknya.
Ting
Satu notivikasi membuat lamunan Alana buyar, Alana segera mengambil Heandpone nya di nakas.
Alana tersenyum saat tau siapa yang mengirim pesan padanya.
Nama Pak dokter🐼 tertera disana, tapi tidak seperti biasanya Dava mengirim Alana foto.
Pak dokter🐼
Selamat tidur Alana:)
Alana kaget, kapan Dava mengambil gambarnya.
Alana
Iya, Alana jadi malu. Jelek banget itu
Pak dokter🐼
Kamu tetap terlihat cantik Alana, bahkan saat kamu tertidur sekalipun.
Ingin rasanya Alana jingkrak-jingkrak sekarang, saking bahagianya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain Dava, ia sedang memandang foto Alana yang ia ambil tadi.
'Sangat menggemaskan meskipun dalam keadaan tidur,'-batin Dava.