
Jam menunjukan pukul 10.30 tapi Dava belum ada tanda-tanda sudah datang.
Pintu rumah Alana terbuka menampilkan lelaki yang membuat Alana tak bisa tidur karena memikirkannya.
Alana tersenyum melihat Dava yang menatapnya dengan tatapan datar seolah-olah mereka tak saling kenal.
Sakit. Namun sekuat tenaga Alana menahan diri agar tidak memeluk Dava. Hati Alana semakin sakit saat melihat Diana menggandengtangan Dava ke dalam.
"Ini rumah siapa Diana?" tanya Dava menghentikan langkahnya.
"Ini akan jadi rumah kita." ucap Diana tanpa memikirkan perasaan Alana.
Dava masih menatap rumah ini bingung, matanya terpaku kepada bingkai besar yang berisi fotonya dengan Alana.
Alana bangkit menatap Dava sendu, Alana sangat merindukan Dava. lngin rasanya Alana memeluk Dava, namun waktunya tidak tepat. Kalaupun Alana memeluk Dava, pasti Dava akan menepisnya atau mungkin mendorongnya.
"Selamat datang mas." ucap Alana dengan senyuman semanis mungkin, senyuman ini pernah menjadi candu bagi Dava.
"Bukankah dia yang memukulmu Diana?" tanya Dava dan menatap Alana tajam.
"Iya. Dia yang menamparku." ucap Diana dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Alana kaget dengan pengaduan Diana pada Dava. Alana tidak mungkin memukul tanpa sebab, Alana tau caranya membela diri.
Dava menghampiri Alana dengan tatapan tajamnya membuat Alana menelan ludahnya kasar. lni tatapan yang paling mengerikan menurut Alana.
Plak.
Alana memegang pipinya yang terasa panas. Alana tak menyangka Dava akan menamparnya seperti ini.
"Ini balasan karena kamu sudah buat Diana terluka." ucap Dava membuat Alna takut.
Tanpa diminta air mata Alana luruh begitu saja. Mengapa Dava seperti ini? Mengapa Dava sekasar ini padanya?
Sedangkan Diana menatap Alana dengan senyuman iblisnya. Diana menyilangkan tangannya menatap Alana kasian.
"Kamu jangan nangis lagi. Aku udah kasih dia pelajaran." ucap Dava duduk disamping Diana.
"Alana." pekik Jihan saat melihat Alana menangis sambil menunduk.
Jiham yang tadi sedang menurunkan barang-barang milik Dava. Saat Jihan masuk menemukan Alna yang terisak membuat Jiham menaruh barangnya asal.
"Dava. Kamu apain dia?!" tanya Jihan berteriak.
"Itu balasan buat dia karena udah bikin Diana terluka." ucap Dava.
"Aku mukul Diana karena dia emang salah." ucap Alana membela diri.
"Kamu biarin istri kamu terluka? Demi membela wanita sialan itu?!" ucap Jihan marah.
"Berhenti! Kalo kehadiran aku bikin kalian bertengkar mending aku pulang aja." ucap Diana bangkit dan berjalan menuju pintu.
Dengan segera Dava mengejar Diana. Dava fikir Diana akan meninggalkannya lagi.
"Diana." panggil Dava mengejar Diana dan memeluknya.
Sungguh Alana tak kuat melihat adegan di depannya. Alana menangis, Jiham yang peka langsung memeluknya.
__ADS_1
"Sabar sayang ini cuma masalah waktu. Kamu harus kuat demi anak kalian." ucap Jihan menenangkan Alana.
"Sampai kapan Ma? Sebelum berjuang saja Alana sudah sakit. Alana masih belum siap untuk kedepannya." ucap Alana lirih.
Dava mengajak Diana kembali duduk. Diana menangis. Diana berpura-pura tersakiti padahal dia adalah pelaku disini, tapi ia berakting menjadi korban.
Diana dan Jihan sudah pulang, kini tinggal Alana dan Dava saja. Alana menghampiri Dava yang sedang duduk dan menonton televisi.
"Mas." panggil Alna pelan.
Dava menatap Alana sebentar lalu kembali menatap televisi. Alana lebih baik dimarahi dari pada Dava mendiamkannya seperti ini.
"Mau makan apa? Biar aku masakin." ucap Alana berusaha meluluhkan hati Dava.
"Gausah. Bentar lagi Diana datang bawa makanan. Kamu gausah sok baik."
"Kenapa sih Diana terus yang kamu pikirin? Aku masih istri kamu mas." ucap Alana menahan emosinya.
"Istri? Tapi saya gak pernah ngerasa pernah menikah. Kalau pun kamu memang benar istri saya, itu gak akan pernah bisa misahin saya dengan Diana kamu paham?" ucap Dava membuat hati Alana tertusuk.
"Sejauh apa sih Diana racunin pikiran kamu mas? Apa kamu gak inget sama sekali sama aku?" ucap Alana hampir saja tak terdengar.
"Saya gak inget kamu. Saya gak kenal kamu." ucap Dava mengacuhkan Alana.
"Aku hamil anak kamu mas." ucap Alana lirih membuat Dava langsung menatapnya.
"Bohong. Kenal saja tidak, ngaku ngaku hamil anak saya." ucap Dava menaikan pita suaranya.
Alana pasrah, semakin dipaksa untuk mengingat membuat Dava semakin parah. Biarkan saja seperti ini dulu.
Alana berjalan ke arah dapur, perutnya bergejolak dan ingin mengeluarkan isi dari perutnya.
Alana berusaha memuntahkan apapun dalam perutnya namun nihil, hanya cairan putih yang keluar dari mulutnya. Alana duduk di kursi meja makan sambil memijit keningnya yang terasa pusing.
”Harusnya saat aku hamil aku bermanja-manja dengan mas Dava. Tapi kayaknya sekarang aku harus buangjauh-jauh pemikiran itu. " batin Alana bermonolog.
"Oh sekarang lo hamil?"
Alana tersentak kaget saat melihat Diana sudah ada di sampingnya.
Bahaya, Diana sudah tau tentang kehamilannya. Wajah Alna berubah pucat saat Diana mengambil sebuah pisau di dekat buah.
"Muka lo pucet. Sakit? Uh Alana kasian banget sih hidup lo." ucap Diana sambil mengambil buah apel.
Diana memotong apel menjadi beberapa bagian kecil.
"Tubuh lo enaknya dipotong jadi berapa bagian ya?" ucap Diana membuat Alana melotot tak percaya.
"Sikopat."
"sutt. Jangan ucap fakta tentang gue Al." ucap Diana sambil menyodorkan pisaunya ke depan wajah Alana.
Alana memundurkan wajahnya, Alama takut sekarang. Diana benar-benar sudah gila, wajah angel miliknya tersimpan devil dihatinya.
"Jangan takut Alana. Gue gak akan bunuh lo sekarang kok. Gue masih punya hati, dan biarin lo bisa liat anak lo dulu." ucap Diana berbisik, membuat siapapum yang mendengarnya merasakan merinding.
"Kamu gila Diana." ucap Alana kencang.
__ADS_1
Tak.
Diana memotong apelnya kasar membuat Alana takut. Alana bangkit untuk menjauhi Diana namun tangannya ditahan.
"Jangan buru-buru gitu Alana. Temenin gue dulu ya." ucap Diana.
Alana menepis genggamannya, menarik tangannya dari cengraman Diana yang cukup kuat.
"Gila. Kamu benar-benargila. Aku akan laporkan kamu ke polisi." ucap Alana gusar.
Jangan tanyakan apa Dava mendengar perbincangan keduanya atau tidak. Jarak dapur dan ruang tamu lumayan jauh, sehingga Dava tak akan mendengar perbincangan mereka.
"Haha. Lo mau laporin gue? Itu sama aja lo menjemput ajal lo lebih cepat Alana." ucap Diana sambil tertawa jahat.
Alana bungkam saat Diana mulai menghampirinya dan berjalan memutari kursi Alana.
Diana mencengram pipi Alana kasar, membuat Alana meringis kesakitan. Diana memangtidak punya hati.
"Alana kasian banget sih lo. Lagi hamil tapi suami lo gak inget sama lo." ucap Diana meledek.
"Ck ck. Kalo gue jadi lo sih gue udah pergi dan cerai. Buat apa bertahan dalam keadaan kayak gini,hm?" ucap Diana membuat Alana marah.
"Kamu gak ngerti diposisi aku Diana." ucap Alana marah.
"Jelas. Dan gue gak mau tau dan gak mau ngerti posisi lo. Yang terpenting bagi gue adalah, melihat lo menderita." ucap Diana.
"Akh."
Alna memekik saat Diana menggesekan pisau kejari tangannya, tapi Diana sama sekali tak menunjukan rasa sakitnya itu.
"Permainan dimulai Alana." ucap Diana meletakan pisau di depan Alana lalu Diana pergi dari dapur.
Alana masih diam mematung, ia masih tak percaya atas tindakan Diana yang menurutnya sangat gila.
"Diana kamu kenapa?" pekik Dava saat melihat tangan Diana yang mengeluarkan banyak darah.
"Alana. Alana mau bunuh aku." ucap Diana sambil menangis.
Hal itu membuat Dava langsung pergi ke dapur dan menghampiri Alana. Alana masih diam tak berguming, dirinya masih tak menyangka.
Brak.
Alana tersentak kaget saat mendengar suara gebrakan. Alana berbalik menatap Dava dengan wajah yang memerah.
"Saya tau kamu memang tak suka dengan Diana. Tapi bukan berarti kamu membunuhnya! Kamu sikopat." bentak Dava.
Alana menangis. Alana tipe orang yang tak bisa dibentak, Alana lemah saat ini.
Diana yang meihat itu hanya tertawa dalam hati.
"Aku gak ada niatan bunuh dia. Tapi dua yang mau bunuh aku dan anak kita!" ucap Alana tak tahan dengan tuduhan yang dilemparkan Dava untuknya.
"Bohong. Dav, tadi dia bilang mau bunuh aku. Dia mau bikin aku menderita." ucap Diana sambil menangis.
Dava menghampiri Diana dan memeluknya. Dava menatap Alana tajam.
"Urusan kita belum selesai." ucap Dava membuat Alana terisak.
__ADS_1
"Gue menang Iagi Alana. "