Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 21


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 7 pagi, sementara Alana dan Dava belum ada tanda-tanda mereka sudah bangun.


"Pengantin baru kok belum turun." tanya Malvin.


Keluarga Alana dan keluarga Dava sedang menunggu di meja makan hotel untuk sarapan bersama.


"Mungkin mereka kecapean. Wajarlah pengantin baru pasti lagi anget-angetnya." ucap papa Dava sambil menarik tempat duduknya.


"Maksudnya?" tanya Malvin.


"udahlan Vin, kamu jomblo gak bakal paham. Makanya cari calon." sindir Sari kepada Malvin.


"iyah bun iya." balas Malvin sekenannya.


"pasti turun Alana susah jalan." ucap papa Dava langsung mendapatkan pukulan dari Jihan.


"Kok di pukul sih?"


"Lagian papa kalo ngomong suka ngga di filter dulu." ucap Jihan.


"Pagi semuanya." sapa Alana yang baru turun dari tangga.


Semuanya menatap Alana dari atas sampe bawah membuat Alana mengerutkan alisnya.


"kenapa ngelihatinnya gitu banget?" tanya Alana heran.


"Gapapa, ayo duduk." titah Sari menunjuk dua kursi.


Mereka makan sarapan dengan hening.


"Gimana Dav semalam? Lancar?" tanya papa Dava saat sarapan sudah selesai.


"lancar apanya?" tanya Dava sambil minum.


"Ya itu, malam pertama kamu." bisik papa Dava padanya.


Uhuk-uhuk!


Dava tersedak minumannya. Refleks Alana memukul punggung Dava.


"Dava kalo papa kamu ngomong macem-macem jangan di dengerin! Dia belum minum obat gilanya." teriak Jihan dari atas tangga.


"jadi papa itu sebenarnya gila?" tanya Alana polos.


"Ya enggak lah mantu ku yang cantik." ucap papa Dava dan langsung meninggalkan meja makan.


Alana menatap Malvin yang tumben-tumbennya ia diam saat ada Alana.


Jauh di lubuk Malvin ia merasa belum rela, Alana masih terlalu muda untuk menikah. Tapi apa boleh buat ini keputusan Alana ia hanya cukup mendukung tanpa harus mencampuri urusannya.


Sebenarnya saat akad Malvin menangis saat melihat Alana sudah menjadi milik orang lain.


"Abang." panggil Alana saat Malvin hendak meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Malvin berbalik menghadap Alana mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.


"Abang marah sama Alana? Kenapa abang diem aja kok gak jailin Alana? Udah tiga hari Abang diem aja saat ada Alana." tanya Alana seolah kehilangan narsisme Malvin.


Dava yang melihat pun paham akan perasaan Malvin ia meninggalkan Alana dan Malvin berduan.


"inget ya Al, lu udah punya suami. Kurangin sifat manja lu, Alana harus nurut apa kata suaminya Alana ya. Abang ngga selamanya jagain kamu." ucapan Malvin membuat tangis Alana pecah.


Alana berlari memeluk Malvin dari belakang.


"Alana sayang Abang."


®®®®


Alana dan Dava sedang membereskan barang-barang mereka, siang ini mereka akan pindah. Mereka akan pindah ke rumah yang sudah Dava beli untuk mereka berdua.


"kenapa kita harus pindah? Tinggal di rumah Alana aja mas." ucap Alana sambil bergelayut manja di lengan Dava.


Apakah Dava tak salah dengar? Istri kecilnya ini memanggil dirinya dengan sebutan mas.


"kamu manggil aku Mas?"


Alana mengangguk menatap Dava yang lebih tinggi darinya.


Aku buka internet, terus nyari nama yang bagus buat nyebut suami. Pas Alana baca kok agak geli soalnya ada Beb, Ayang, Cinta, Aa, Honey." tutur Alana menyebutkan sambil menghitung jari.


Dava terkekeh mencubit hidung Alana.


"Kok dicubit sih?"


Blush. Bayangkan pipi Alana memerah tersipu malu atas perkataan Dava.


Dava menarik koper miliknya dan milik Alana, berjalan ke arah lift.


"Kita cuma tinggal berdua?" tanya Alana.


"kalo sekarang yah berdua, kalo punya anak nanti pasti rame." ucap Dava seraya mengode. Namun Alana hanya mengangguk polos membuat Dava melongo.


"mas aku mau nanya dong."


"iya nanya aja." ucap Dava sambil berjalan meninggalkan lift. Mereka berjalan menuju parkiran.


"malam pertama itu apa mas?"


Ucapan dari bibir Alana membuat Dava menghentikan langkahnya.


"kamu tau dari mana?" tanya Dava menatap Alana serius.


"Rika smaa Nadia nanya, aku jawab aja udah." Alana membuka bungkus coklat dan memakannya santai.


"MasyaAllah Alana." ucap Dava gusar.


"Hah kenapa mas?"

__ADS_1


Alana menatap Dava heran, mengerutkan alisnya.


"Gapapa kok." jawab Dava.


Dava mengendarai mobil nya, tujuan pertama yaitu rumah Alana untuk mengambil barang-barangnya.


"Besok mas kerja?" tanya Alana menatap Dava.


"Iya, aku cuma ambil cuti tiga hari."


"Yha, Alana sendirian dong di rumah." Ucap Alana memelas.


"nanti saat aku kerja aku anter kamu kerumah Bunda. Aku gak tenang kalo harus tinggalin kamu sendrian."


Cup


Dava terkejut dengan perlakuan Alana mencium pipi nya secara tiba-tiba. Alana pun heran mengapa ia melakukan itu.


"Sweet nya pak dokter ini." Ucap Alana seraya mencubit pipi Dava.


"kok cuma sebelah? Satunya gak di cium?" Dava menaik turunkan alisnya menggoda Alana.


Alana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"mas! Alana malu."


®®®®


Raka membuka galeri handphone nya, bibirnya tersenyum saat melihat foto seorang gadis yang selama 3 tahun ia perjuangkan.


Tak terasa air matanya menetes saat foto demi foto ia geser, foto Alana yang selama ini ia potret diam-diam.


Raka berjalan ke arah balkon apartemen miliknya, menatap padatnya jalanan Amerika.


"Maaf Al, gue nggak dateng saat pernikahan lo. Gue cuma gak bisa liat lo bersanding sama orang lain."


Raka menatap sebuah postingan, disana terdapat dua mempelau yang terlihat sangat bahagia.


"Biarin gue menata hati Al, sulit sangat sulit. Semoga berbahagia Al."


Raka menghapus semua foto Alana yang ada di ponsel miliknya.


"Gue mundur. Sekarang dia udah ada pemiliknya."


Raka menutup pintu balkon dan berjalan ke arag kasur. Ia sangat berharap saat ia bangun maka kenangan tentang Alana lenyap dalam pikirannya.


Cinta bukan tentang siapa datang lebih awal, bukan tentang siapa yang paling unggul. Namun cinta tau pada siapa takdir berpihak.


Rasa yang selama ini Raka pendam, selalu berharap mendapatkan buah saat ia menananm pohon cinta dalam hatinya. Namun salah, bukan pohon cinta yang tumbuh tapi malah pohon kaktus yang tertanam disana.


Raka mengambil handphone nya lagi, mencari nomor yang menjadi paling ia sering hubungi.


Raka...

__ADS_1


Selamat atas pernikahannya. Sorry, gak bisa dateng.


Setelah mengirim pesan Raka mencoba menutup matanya.


__ADS_2