Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 38


__ADS_3

"Bang jagain Vina, aku mau bantu bunda masak. Bye." Alana meletakan Vina di paha Malvin dan langsung meninggalkan Kevin.


Alana berjalan menghampiri Sari dan ikut bergabung. Alana memeluk Sari dari belakang.


"Bunda Alana mau bantu." ucap Alana membuat Sari mengangguk.


"Kamu potongin wortel sama daun bawang ya." ucap Sari memberikan sayuran kepada Alna.


Alana dan Sari fokus kepada pekerjaan masing-masing.


"Ayah pulang kapan bun?" tanya Alna.


"Jam lima." jawab Sari sambil mengaduk masakannya.


"Oh."jawab Alana lalu kembali memotong sayurannya.


Setelah semua beres Alana mencuci kedua tangannya di wastafel.


Tok tok tok.


Alana mendengar suara ketukan, dengan segera Alana berlari membuka pintu. Alana tersenyum dan langsung memeluk tubuh Zahran.


"Assalamualaikum anak Ayah." ucap Zahran sambil mencubit hidung Alana.


"Waalaikumsalam Ayahnya Alna." ucap Alana.


Alana menggandeng tangan Zahran masuk kedalam.


"Ayah hari ini Alana yang masak buat Ayah." ucap Aina membuat Zahran tersenyum.


"Wah, pasti enak nih." puji Zahran membuat Alana tersenyum.


Alana malah menempel dengan Zahran.


"Alana Ayah bau belum mandi." ucap Zahran membuat Alana semakin mengeratkan pelukannya.


"Gapapa, Alna kangen Ayah. Dan Alana kangen keringet ayah, hehe."


®®®®


Hoek hoek.


Dua bulan berlalu Dava sama sekali tak mengabari Alana, membuat Alana cemas dan tak memikirkan kondisinya.


Sudah tiga hari, Alana merasakan mual-mual, perutnya terasa keram dan lebih cepat lelah.


Sari segera masuk ke kamar putrinya saat mendengar suara orang muntah.


"Muntah lagi?" tanya Sari melihat wajah pucat Alana.


"lya, tapi cuma air yang keluar." ucap Alna sambil bengong.


"Terakhir kamu datang bulan kapan?" tanya Sari.


"Bulan lalu. lni udah mau bulan akhirtapi Alana belum haid bun." ucap Alana duduk di tepi ranjang.


"Ke dokter yuk." ajak Sari membuat Aina bingung.


"Untuk apa? lni paling masuk angin. Soalnya akhir-akhir ini, Alana susah buat nerima makanan kedalam mulut Alana." ucap Alana menyandarkan kepalanya di bahu Sari.


"Apa jangan-jangan Alana hamil?" ucap Sari membuat Alana terkejut.


"Ha...ha..mil?" tanya Alana gugup dan Sari mengangguk.

__ADS_1


Alana tersenyum lalu mengelus perut ratanya, Alana berjalan ke arah kaca dan mengangkat sedikit bajunya.


"Yuk ke dokter." ucap Alana antusias membuat Sari tersenyum.


"Nanti bunda ajak Malvin dulu." Sari pergi meninggalkan Alana.


Alana mengambil heandponenya. Sungguh, Alana tak tenang saat mendengar berita 6 dokter di Jakarta meninggal dunia.


Alana berusaha menelepon Dava, mungkin sudah ribuan kali Alana mengirim kabar. Tapi, tidak satupun mendapatkan jawaban.


Terakhir Dava memberi kabar sebulan yang lalu, sekarang hampir tiga bulan dan Alana sama sekali tak tau kapan Dava pulang.


"Alana ayok." ajak Sari yang sudah siap.


Malvin yang melihat Alana tersenyum.


"Ngapain senyum-senyum?" tanya Alana.


"Gue bakal jadi om dong ya?" ucap Malvin sumringah.


Sari menabok kepala Malvin membuat si empu meringis kesakitan.


"Belum juga periksa. Kamu bakal jadi kakek Vin." ucap Sari membuat Malvin cemberut.


Sepanjang perjalanan Alana terus tersenyum. Jika benar Alana hamil ia akan sangat bahagia.


Mereka sampai di rumah sakit tempat Dava bekerja. Alana melangkahkan kaki ke dalam sana diikuti oleh Sari dan Malvin.


Setelah mendapatkan nomor antrian Alana, Sari dan Malvin duduk di kursi depan ruangan.


”Nyonya Alana. "


lni adalah giliran Alana. Alana sudah masuk bersama Sari. Sedangkan Malvin hanya duduk termenung di depan ruangan.


Alana naik kesana dan tidur terlentang, hatinya sangat berdebarar saat sebuah alat berjalan di atas perutnya membuat Alana tertawa karena geli.


"Kita tunggu hasilnya, silahkan duduk." ucap Dokter dan di angguki oleh Alana.


Alana dan Sari duduk bersebelahan menunggu hasil tes yang belum keluar. Sungguh hati Alana sangat berdebar.


Dokter datang dengan sebuah surat di tangannya, lalu membuka di depan Alana dan Sari.


Sang dokter tersenyum menatap Alana. Dokter yang sudah seumuran dengan bundannya itu menjabat tangan Alana.


"Selamat, kamu hamil. Usia kandungannya masih tiga minggu." ucapan dokter itu membuat Alana menangis haru.


Alana masih tak percaya bahwa di dalam sana ada seorang bayi mungil. Refleks, Alana langsung mengusap perutnya.


"Karena Nyonya Alana masih sangat muda, tolong jangan terlalu banyak kerja. Minum susu hamil dan makannya di jaga." ucap dokter itu menatap Alana seperti menatap anaknya.


Alana mengangguk dan tersenyum lalu berterima kasih.


"Dokter kenal dokter Dava?" tanya Alana begitu saja.


"Dava? Apa dia dokter bedah?" tanya Dokter itu.


Alana mengangguk, semoga saja dokter ini kenal.


"Dia mendapatkan tugas di Jakarta selama tiga bulan. Seharusnya seminggu lagi dia pulang." ucap Dokter itu membuat Alana


tersenyum lagi.


"Makasih ya dok." ucap Sari.

__ADS_1


"lya, kalo boleh tau ini siapanya Davat?" tanya Dokter itu kepo.


"Saya istrinya dok." ucap Alana bangga.


Dokter itu tersenyum melihat Alana.


"Pantas saja, wajah kamu mirip. Semoga kamu sama dia baik-baik saja ya."


Setelah berbincang cukup lama, mereka akhirnya pergi dari ruangan itu. Baru saja membuka pintu sudah mendapatkan Malvin yang tengah memejamkan matanya.


"Dasar *****." ucap Sari membuat Malvin melotot kaget.


"Wah, gimana hasilnya?" tanya Malvin antusias.


"Rahasia." ucap Alana membuat Malvin berdecak.


Setelah membayar administrasi. Mereka akan segera pulang.


"Jangan bilang Mas Dava ya. Alana mau ngasih dia kejutan soalnya." ucap Alana di dalam mobil.


"Gaya lo. Ngasih kejutan segala. Emang lo tau kapan dia balik?" tanya Malvin Judes membuat Sari tertawa.


"Tau dong. Seminggu lagi dia pulang yey." girang Alana membuat Malvin ikut senang mendengarnya. Setidaknya Malvin sudah tak akan di ganggu olehnya.


Alana turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah dengan berlari.


"Alana jangan lari!" teriak Sari namun tak di gubris oleh Alana.


Alama duduk di ruang keluarga, Alana mengusap perutnya lagi.


"pasti mas Dava seneng. ”-batin Alana.


"Setres ya lo senyum-senyum sendiri." sindir Malvin saat melihat Alana tersenyum sambil mengusap perutnya.


"iri aja." ucap Alana.


Alana merasa tak enak dengan perutnya langsung berlari ke arah wastafel dapur. Dirinya sangat mual, seperti ada gejolak yang ingin keluar dari perutnya.


Hoek hoek


Malvin yang merasa khawatir langsung memijit leher ALana supaya ia bisa mengeluarkannya. Malvin sangat sedih melihat Alana menderita seperti itu.


"Jangan banyak-banyak nanti panas." ucap Malvin melihat Sari mengoleskannya lumayan banyak.


"Enggak akan." ucap Sari sambil menutup botol minyak angin.


Sari menuntun Alana menuju kamarnya agar Alana bisa beristirahat. Alana merebahkan diri sambil memegang kepalanya yang sangat pusing.


"Kamu tidur aja, kalo butuh apaapa panggil bunda atau Malvin." ucap Sari di angguki oleh Alana.


JujurAlana merasa sangat rindu pada Dava, mengapa ia tak memberinya kabar hampir satu bulan setengah.


"Apa dia udah makan? Tidurnya teratur gak ya?" gumam Alana sambil melihat foto Dava yang suaminya kirimkan sebulan yang lalu.


"Mama kangen papa kamu sayang." ucap Alana sambil mengusap perutnya.


Alana meletakan heandponenya dan berusaha memejamkan matanya. Mencoba tak memikirkan Dava dahulu, apapun Alana jangan sampai stres.


®®®®


Haiii, update nih.


Pergi kemana kah Dava?

__ADS_1


__ADS_2