Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 50


__ADS_3

5 bulan kemudian.


Usia kandungan Alana sudah menginjak 9 bulan. Itu tandanya sebentar lagi Alana akan melahirkan.


Alana merasa takut untuk melahirkan. Tapi, ini adalah tugasnya sebagai perempuan. Perempuan mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat malaikat kecil titipan tuhan.


Jam menunjukan pukul 3 dini hari . Alana merasa gelisah dengan posisi tidurnya. Perutnya terasa tak enak, miring ke kiri sakit begitupun ke kanan.


Alana merubah posisinya menjadi duduk lalu mengusap perutnya yang besar seperi balon.


Alana merasa mulas, ia berjalan ke kamar mandi dan menguncinya. Ia kira rasa mulas di perutnya ini adalah rasa seseorang ingin membuang hajat.


Alana tersadar saat melihat cairan bening mengalir di kakinya, buruburu Alana keluar kamar mandi dan berjalan untuk membangunkan Dava.


Sebenarnya Dava baru saja pulang jam 1 dini hari, itu berarti Dava baru memejamkan matanya 2jam yang lalu.


"Mas~" ucap Alna lirih, suaranya nyaris tak terdengar.


"Mas. Perut Alana sakit." Alana mengguncangkan tubuh Dava.


Dava membuka sedikit matanya lalu melenguh ngantuk. Matanya langsung terbelak melihat Alana yang meringis kesakitan.


Dava langsung duduk dan melihat cairan yang mengalir di kaki istrinya.


"Mau lahiran ya?" tanya Dava santai.


"Iya lah. Pake nanya, kamu kan dokter masa gak tau kalo istrinya mau lahiran." ucap Alana mengomel.


"Kan aku dokter bedah bukan kandungan." ucap Dava sambil mengucek matanya.


Alana yang merasa kesal dengan Dava langsung menarik rambutnya hingga Dava meringis.


"Aduh--duh. Lepas." Alana melepaskan genggamannya dari rambut Dava.


Alana duduk di pinggir kasur sambil mengusap perutnya, dengan cepat Dava mengambil kunci mobilnya dan menggendong tubuh Alana.


Dada bidang Dava di pukul kencang oleh Alana membuat Dava menurunkan Alana.


"Kenapa?" tanya Dava panik.


"Masa kamu ke rumah sakit pake kolor gitu. Warna kuning lagi." ucap Alana mengomel.


Dava segera masuk ke kamarnya dan mengganti celanannya dengan celan bahan panjang. '


Dava menghampiri Alana dan menggendong Alana. Mbak Mia yang mendengar ringisan Alana langsung keluar dari kamarnya.


"Non Alana mau melahirkan ya?" ucap Mbak Mia sambil membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Mbak tolong telepon orang tua saya ya. Bilang Alana mau melahirkan di rumah sakit biasa." ucap Dava sebelum menancapkan gas mobilnya.


Alana tak kuat menahan rasa sakit di perutnya. Tangan Dava terulur mengusap perut Alana untuk meredakan rasa sakitnya.


"Tahan ya sayang. Anak papa jangan dulu keluar, bentar lagi kita sampai rumah sakit nih." ucap Dava membuat rasa sakit Alana berkurang meski hanya 0,1%.

__ADS_1


Mobil terparkir di halaman rumah sakit, Dava segera memanggil para suster dan membawa Alana kedalam.


Dava menggenggam tangan Alana sepanjang jalan memasuki ruangan bersalin. Hanya Dava yang diizinkan masuk kedalam.


Dokter Layla sudah siap dengan alat-alatnya. la memasukan jarinya kedalam organ intim Aina untuk mengetahui Alana sudah masuk pembukaan berapa.


"Alana sudah masuk pembukaan sembilan." ucap Layla.


Sebenarnya Alna sudah merasakan tak enak diperutnya sejak siang namun tak Alana hiraukan.


"Terus kapan dimulainya?" tanya Dava sambil mengusap keringat di dahi Alana.


"Satu jam lagi. Kita menunggu pembukaan sepuluh." ucap Layla di angguki oleh Dava.


Satu jam berlalu, kini para dokter dan suster sudah siap untuk bertempur (Abri kali ah).


Alat-alat sudah di siapkan, sebelumnya Alana menolak untuk oprasi sesar. la ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan normal.


"Ayo tarik nafas dalam-dalam." dokter Layla memberi instruksi kepada Alana.


"Aaaaaaaa...." teriak Alana sambil mencakar tangan Dava.


"Kamu pasti bisa!" ucap Dava memberi semamgat layaknya suoprter bola.


"Diem kamu aku lagi lahiran bukan lagi gocek bola. Aaaa..." Alana menarik rambut Dava kencang.


’Botak pala gue.’batin Dava meringis menahan sakit.


"Mas, Alana gak kuat." ucap Alana pasrah.


Melihat itu Dava langsung mencium tangan Aina untuk menyalurkan energi pada istrinya.


"Kamu pasti bisa. Cakar dan pukul aku, lampiasin aja supaya aku juga bisa merasakan sakitnya Sayang." ucapan Dava membuat Alana terharu.


Alana mengeluarkan seluruh energi yang dimilikinya. Rasanya seperti 19 tulang punggung yang dipatahkan berbarengan. (ltu sih kata orang, author belum ngalamin wkwk.).


Owek owek.


"Alhamdulillah." Daba tersenyum melihat bayi mungilnya terlahir sempurna tanpa cacat sedikit pun.


"Bayinya cowok, sehat dan tanpa ada yang kurang sedikit pun." ucap Layla membuat Alana tersenyum dan meneteskan air matanya.


"Makasih sayang." ucap Dava mencium seluruh wajah Alana, menyalurkan rasa bahagianya.


Dava keluar membiarkan Alana yang sedang di urus oleh dokter, dan bayinya tengah dibersihkan.


Di luar sudah ada keluarganya dan keluarga Alana. Dava kaget saat melihat Malvin yang hanya memakai kolor. Tak masalah jika warna hitam, tapi Malvin memakai kolor berwarna hijau. Untungnya, Dava sudah mengganti celananya.


"Gimana Dav? Alana baik-baik aja?" tanya Sari.


"Alhamdulillah, ibu dan anak sehat. Sekarang mereka sedang di urus." ucap Dava membuat semuanya tersenyum.


"Ponakan gue cewek apa cowok Dav?" tanya Malvin masih dengan wajah bantalnya.

__ADS_1


"Cowok." ucap Dava membuat Malvin senyum semringah.


"Alhamdulillah, gue dapet ponakan cowok." ucap Malvin bangga.


Dulu saat Sari hamil Malvin berharap adiknya laki-laki, namun malah Alana yang keluar. Makannya, saat mendengar keponakannya cowok membuat Malvin bahagia lahir batin.


"Lo gak ganti celana?" ucap Dava membuat Malvin nyengir.


"Noh, gue di buru-buruin. Pas gue mau pake celana langsung ditarik." ucap Malvin menunjuk Sari dengan dagunya.


Dokter Layla keluar, suster mendorong kasur Alana dan bayinya untuk dipindahkan ke ruang rawat biasa.


Mereka mengikuti dari belakang. Malvin sepertinya yang paling bahagia disini, apalagi saat melihat bayi itu dibalut kain.


Setelah selesai mengurus Alana, dokter memperbolehkan semuanya masuk kedalam.


Dokter memberikan bayi itu pada Dava untuk di adzani. Tangan Dava gemetar saat melihat putranya yang persis mirip seperti Alana.


"Allahuakbar, Allahuakbar~" suara Dava bergetar, nada yang Dava keluarkan begitu indah.


Alana meneteskan air matanya, ia masih tak menyangka bahwa dirinya baru saja melahirkan malaikat kecil.


Selesai adzan Dava mencium anaknya gemas. Malvin ikut mendekati ponakannya dan mencubit pipinya pelan.


"Gimana udah ada nama untuk dia?" tanya Jiham mengambil bayi itu dari gendongannya.


"Udah." ucap Dava membuat Alana heran.


Pasalnya, setiap Alana tanya tentang nama bayinya Dava selalu menjawab belum kepikiran.


"Namanya, Keano Mahesa Dirgantara. Gimana? Dipanggilnya Keano." ucap Dava membuat Alana mengangguk senang.


"Halo Keano." ucap Alana mengusap pipi anaknya, senyuman tipis terbit di bibir anaknya.


"Lucunya." ucap Alana menciumnya gemas.


Owek owek


Keano menangis karena haus, semuanya paham dan keluar ruangan, kecuali Dava.


"Mas keluar." ucap Alana.


"Kenapa?" ucap Dava dengan wajah santainya.


"Alana mau menyusui." ucap Alana dengan wajah memerah.


"Yaudah, lagian aku udah pernah liat kok." ucap Dava membuat Alana memukul bibir Dava dan menatapnya tajam.


Dengan berat hati Dava berjalan keluar dan baru lah Alana menyusui anaknya.


Mata dan alisnya mirip seperti Dava, hidung dan bibirnya mirip seperti Alana. Anaknya sangat tampan seperti ayahnya.


Bulu mata dan alisnya tebal seperti Dava. Alana gemas sendiri dengan anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2