Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 29


__ADS_3

Dava dan Alana memasuki lift, dan Dava menekan tombol lima.


"Kita di lantai lima?" tanya Alana dibalas anggukan oleh Dava. 


Ting.


Bunyi lift, menandakan bahwa mereka telah sampai dilantai 5. Dava sengaja memesan lantai 5 supaya Alana bisa melihat betapa indahnya pantai di dekat hotelnya. 


Tempat hotelnya sangat strategis, Dava membuka kamar nomor 158. Alana langsing berlari ke arah kasur dan tiduran. 


"Akhirnya. Alana rindu rebahan." ucap Alana.


"Coba deh kamu buka jendelanya!" ucap Dava, dengan semangat 45 Alana langsung berlari ke arah jendela kamar hotelnya.


Alana menutup mulutnya kagum saat membuka gorden jendela kamar hotelnya. Disana terlihat jelas sekali sunset indah, dan pantai yang memukau. 



Alana berlari kearah Dava dan memeluknya erat. Terus saja Dava membalas pelukannya. 


"terima kasih udah bikin Alana banyak senyum hari ini." ucap Alana masih setia memeluk Dava.


Dava mendorong bahu Alana pelan dan menatapa Alana sambil tersenyum. 


"ini udah tugas aku buat bikin kamu senyum." ucap Dava sambil mengusap rambut Alana penuh sayang.


Alana tersenyum dan kembali memeluk Dava erat


"kebahagian itu seperti senja, meski hanya sesaat ia tetap berjanji untuk datang dihari esok dalam keadaan yang sama." ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Alana.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang, rupanya dari tadi Dava mandi. Sekarang Dava hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian bawahanya saja,  badan kekarnya terskepos begitu saja di depan wajah Alana. 


Bulu kuduk Alana meremang saat Dava membisikan sebuah kata yang membuat Alana mematung. 


"Aku gak sabar ada Baby di perut kamu." Ucap Dava sambil mengusap perut rata Alana.


®®®®


Hari sudah malam, Alana dan Dava masuk kedalam kamar hotelnya. Baru saja mereka selesai makan malam di restoran hotel. 


Alana melepaskan sepatunya, menaruh tasnya di atas meja. Sedangkan Dava membuka kancing kemejanya. 


Jam menunjukkan pukul 10 malam, mata Alana sudah tak bisa dipaksa terbuka lagi. Alana langsung merebahkan diri ke kasur. 


Baru saja Alana memejamkan matanya, Dava sudah bawel menyuruh Alana untuk gosok gigi dan cuci muka. 


"Gosok gigi sebelum tidur, cuci tangan, cuci kaki, sama cuci muka. Mau pas bangun jerawatan? Mau giginya bolong? Padahal udah aku ser--"


"iya mas laksanakan! Jangan bawel lagi!" Alana langsung berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Dava terkekeh melihat wajah Alana yang menahan kantuk.

__ADS_1


Dava mengambil handphonenya, Dava mencari nomor seseorang disana. Dava membuka foto seseorang yang ia rindukan, Dava menatapnya intens dan tersenyum sendu. 


Alana kembali dari kamar mandi, dengan segera Dava menutup handphonenya meletakannya kembali ke nakas. 


"udah?" tanya Dava


"Hm," Alana langsung merebahkan diri di kasur dan memejamkan matanya.


Tak butuh waktu lama Alana sudah datang ke alam mimpi, Dava bangun dan berjalan ke balkon kamar hotelnya. Menatap bintang disana, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. 


Tujuannya untuk bulan madu ke lombok malah membuatnya ingat seseorang. Seseorang yang pernah mengisi hari-harinya dulu, seorang periang, dan cantik. 


"Aku udah dapetin seseorang yang sama kayak kamu. Aku sekarang sudah menikah, tapi sayang kamu tak hadir di pernikahan ku. Aku menyayangi kamu dan dia." Dava segera menutup pintu balkon karena angin malam semakin menusuk.


Dava berjalan ke kasur ikut merebahkan diri bersama Alana, Dava mengisap pipi gembul Alana, lalu mengusap bibir ranum Alana. 


Cup.


Dava mengecupnya singkat, hanya sebuah kecupan tidak lebih. Dava menarik selimut hingga dada, menutup dirinya dan Alana. 


"Selamat malam. Sayang," kata itu yang terakhir Dava ucapkan sebelum tidur.


tok tok tok.


Tidur Alana terusik oleh ketukan pintu kamar hotelnya, ia melirik jam di nakas. Dengan mata yang masih sayu Alana berjalan menuju pintu kamarnya, lalu membukanya. 


"Pagi saya membawakan sarapan," ucap pelayan hotel membawakan dua porsi makan untuk sarapan paginya.


"Makasih ya mas," ucap Alana.


"iya mbak," ucap pelayan itu, bukannya segera pergi ia terus menatap Alana sambil tersenyum.


"Kenapa masih berdiri?" tanya Alana heran membuat pelayan itu gelagapan.


"Mbak nya cantik," ucapnya begitu saja.


"mas umur saya udah tigapuluhan, anak saya idah lima. Suami saya galaknya ngalahin thanos," ucap Alana membuat pelayan itu melotot lebar.


Dengan segera pelayan itu pergi dari pintu kamar Alana, dengan segera Alana menutup pintunya. 


"Siapa yang galaknya kayak thanos? Hm."


"Astagfirullah, kapan bangun nya?"


Alana terkejut saat ia berbalik dan mendapatkan Dava yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Sejak pelayan itu bilang kamu cantik." ucap Dava mengikuti Alana ke meja dekat jendela kamarnya.


Alana mengangguk, dan menyiapkan sarapannya untuk Dava. Saat Alana ingin menaruh nampan tiba-tiba saja tangan Alana digenggam Dava membuat Alana menghentikan aktivitasnya. 

__ADS_1


"kalo kamu bangun tidur, bangunin aku juga. Kamu memang sangat cantik kalo habis bangun tidur, jadi cuma aku yang boleh lihat wajah kamu pas bangun tidur."ucap Dava lebar membuat Alana gemas dengan sifat Dava yang seperti ini.


"Ya mas~" ucap Alana gemas sambil mencubit kedua pipi Dava kencang. Sedangkan Dava hanya terkekeh.


"kamu mandi dulu, habis itu sarapan," ucap Dava diangguki oleh Alana.


Alana berjalan ke lemari untuk mengambil baju gantinya dan mengambil handuknya. Alana masuk kedalam kamar mandi. 


"Tuhanku cinta dia~"


Dava menatap kamar mandi saat mendengar seseorang bernyanyi. Yup, orang itu adalah Alana, sudah menjadi kebiasaan yang sulit sekali di rubah.


"Ku ingin ber~"


"Alana jangan nyanyi di kamar mandi!  Pamali," teriak Dava membuat Akana langsung menghentikan nyanyiannya.


"iya mas, Alana khilaf." ucap Alana.


"Khilaf kok sering," cibir Dava pelan.


Alana sudah tak terdengar suaranya, suara gemercik air dan kamar mandi sudah tak terdengar. Tapi mengapa Alana belum keluar dari kamar mandi.


Dengan khawatir Dava mendekat ke pintu kamar mandi dan mengetuknya. 


"Alana kamu baik-baik aja?"tanya Dava sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"im fine mas," jawab Alana membuat Dava bingung.


"Tapi anu mas..." Alana menggantung perkataannya.


"Anu apa?" tanya Dava yang makin bingung.


"Alana boleh minta tolong gak?" tanya Alana dari dalam.


"iya apa?"


"Alana lupa bawa bh mas. Maaf seribu kali, ambilin ya," ucap Akana malu-malu.


"Jadi kamu lama karena gak bawa bh?" ucap Dava kencang membuat Alana berteriak.


"Jangan kenceng-kenceng tetangga denger."


"orang ruangan ini kedap suara kok,"


Dava berjalan sambil meneteng dua bh milik Alana lalu mengetuk pintu kamar mandi. Alana membukanya dengan tubuh yang hanya ditutupi handuk.


"Mau yang item apa merah,"ucap Dava mengangkat keduanya di depan wajah Alana. Tak banyak cek cok, Alana langsung mengambil keduanya dengan wajah yang memerah menahan malu.


5 menit kemudia Alana keluar dari kamar mandi dan menyuruh Dava agar segera mandi, lalu sarapan. 

__ADS_1


Mandi Dava hanya membutuhkan waktu 10 menit, berbeda Alana yang mandinya hampir 40 menit. 


__ADS_2