Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Bimbang


__ADS_3

Haidar melepaskan Belva dan nengambil kemejanya yang tergeletak di Kursi. Memakainya di depan Belva tanpa merasa canggung.


Belva yang terus memperhatikannya semakin di buat penasaran sedang apa Haidar di rumah kecil itu.


"Tidak mungkin kan pemilik hotel rumahnya seperti ini?" batin Belva.


Setelah selesai berpakaian, Haidar melihat Belva yang masih terpaku menatapnya. Haidar pun kembali mendekati Belva dan membuatnya tersentak dari lamunannya.


"Pulanglah, Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang."


"A-hah!"


"Kamu sudah tahu kan kemana harus menemui ku, Jadi sekarang pulanglah dan temui Aku ketika kamu sudah memiliki jawaban."


"A-a-apa yang kamu katakan benar-benar serius?" tanya Belva yang masih tak percaya.


"Apa Aku terlihat bercanda?"


"T-tidak."


"Jika tidak sekarang pulang lah, Jangan sampai kemaleman di jalan, Jangan sampai keluarga mu mencari mu di kantor polisi." Haidar membimbing Belva agar keluar dari rumah Itu meskipun Belva masih enggan untuk pergi. Bahkan untuk memastikan Belva pergi, Haidar membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Belva masuk.

__ADS_1


Setelah Belva duduk, Haidar langsung menarik sabuk pengaman dan memakaikannya, Membuat wajah Haidar hanya berjarak beberapa centi darinya. Mereka pun sempat saling memandang sejenak sebelum akhirnya Haidar mengalihkan pandangannya Kemudian menutup pintunya.


Jebrettt...


Belva pun kembali membuka kaca mobilnya melihat Haidar yang masih berdiri menunggunya pergi.


"Bisakah kita saling mengenal terlebih dahulu?" tanya Belva.


"Kenapa, Apa kamu merasa takut padaku?"


"A-tidak, Aku hanya..."


"Aku tidak memaksa mu untuk menikah dengan ku, Tapi jika kamu mencintai ku maka menikahlah denganku dan jika kamu tidak mencintai ku berhenti mengejar ku!"


•••


Sesampainya di rumah Belva langsung melawati keluarganya yang tengah makan malam. Hal itu pun membuat orang termangu menatap Belva yang tidak ceria seperti biasanya.


"Ada apa dengannya?" tanya Zia.


"Biar Aku cari tau." saut Ziyan yang langsung bangkit dari duduknya. Namun Bryan langsung menghentikannya.

__ADS_1


"Biar Papa saja," ucap Bryan yang kemudian menyusul Belva ke kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


"Sayang..." tanpa menunggu Belva menjawabnya, Bryan langsung masuk mendekati Belva yang berbaring memeluk guling ya.


"Ada apa sayang, Kenapa kamu murung?"


Tanpa menjawab pertanyaan Bryan, Belva langsung berpindah posisi dan menjadikan pangkuan sang Papa menjadi bantalnya. Seperti biasa, Bryan pun mengusap-usap kepala Belva dan berharap putri kesayangannya itu akan menceritakan apa yang terjadi seperti biasanya. Namun kali ini Belva enggan menceritakan kegundahan di hatinya karena ia sendiri pun masih merasa ragu dengan perasaannya. Bryan pun tidak memaksanya dan terus mengusapnya lembut hingga Belva tertidur di pangkuannya.


Zia yang melihat pemandangan itu dari depan pintu mendekati Bryan dan duduk di sebelahnya.


"Belva sangat nyaman dengan mu Mas, Bahkan Aku sebagai ibu kandungnya pun tidak bisa membuat dia nyaman seperti ini."


Tidak menjawab perkataan Zia, Bryan memindahkan kepala Belva ke bantal dengan sangat hati-hati. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Zia dan mengajaknya keluar dari kamar Belva.


Di luar kamar, Bryan mengusap pipi Zia yang di basahi air mata. Kemudian meraih tubuhnya ke pelukannya. Masih seperti saat mereka baru menikah, Bryan memperlakukan Zia dengan sangat lembut meskipun Zia tidak begitu telaten mengurus Belva karena usianya yang saat itu masih terbilang muda, Apa lagi sejak kehilangan Belvana, Zia lebih banyak murung dan meratapi kesedihannya.


"Kita kembali ke kamar," ucap Bryan.


Zia hanya mengangguk pelan dan mengikuti Bryan yang terus menggenggam tangannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2