
Haidar terdiam mendengar apa yang Belva tuduhkan kepadanya.
Ia memang telah membuat banyak rencana untuk mendapatkan Belva demi membalaskan dendamnya, Tapi kali ini ia sama sekali tidak tahu menahu rencana apa yang Belva bicarakan.
Melihat Haidar hanya diam saja, Belva semakin yakin orang-orang itu adalah suruhan Haidar. Bahkan saat orang-orang itu menghajar Haidar yang berusaha melindungi dirinya, Belva tak bergeming dan meninggalkan Haidar begitu saja hingga ia nyaris tertabrak mobil.
"Belva awasss!!!" teriak Haidar yang langsung melompat meraih tubuh Belva hingga keduanya terjatuh ke aspal.
"Aowhhh..." ringis Haidar menahan rasa sakitnya.
Masih tidak peduli dengan Haidar, Belva bangkit dari atas tubuh Haidar dengan kesal.
"Belva kau..."
"Apa? Apa kamu pikir trik mu ini bisa membuat ku luluh dan kembali mempercayai mu, Tidak akan, Bahkan kamu pernah berakting menyerahkan nyawa demi diriku kepada para penjahat, Jadi hanya untuk akting jatuh seperti ini bagimu tidak lah sulit."
"Belva... Aku telah menyesali semua perbuatan ku padamu, Jadi Aku tidak akan pernah mengulanginya."
"Tapi Aku tidak percaya lagi padamu."
__ADS_1
Orang-orang itu kembali mendatangi Haidar dan meminta benda berharganya. Melihat Belva terus berjalan dan tidak peduli lagi dengannya. Haidar hanya membiarkan orang-orang itu menghajarnya dan mengambil benda berharga yang melekat pada tubuhnya.
Belva menghentikan langkahnya dan melihat ponselnya kembali menerima panggilan. Melihat nama Papanya tertera di layar ponselnya Belva tersenyum bahagia. Tapi seketika senyum itu memudar ketika Belva mendengar Bryan langsung memarahinya.
"Belva! Apa kamu sudah lupa apa yang sudah kamu alami, Kenapa tidak belajar dari pengalaman, Kenapa kamu masih saja keluar diam-diam di tengah malam begini..."
Belva yang tidak sanggup lagi mendengar omelan Bryan, Dengan sedih menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Baru kali ini Bryan memarahinya dengan begitu tegasnya. Dan itu membuat Belva berpikir jika kemarahan Bryan ada sangkut pautnya dengan permintaan Belvana yang menyuruhnya menunggu di luar, Tapi dia sendiri tidak jadi datang. Memikirkan itu semua Belva berbalik badan dan melihat Haidar yang tengah di injak-injak orang-orang tak dikenal itu.
"Haidar..." teriak Belva yang langsung berlari kearahnya dan memukuli orang-orang itu sebisanya.
"Tolooooong... Tolooooong..." teriak Belva sekencang mungkin, Membuat orang-orang itu langsung lari dengan barang berharga yang telah mereka dapatkan dari Haidar.
"kenapa kamu diam saja, Dasar bodoh!" maki Belva sembari membangunkan Haidar.
Belva hanya diam menundukkan kepalanya.
"Jika dengan hilangnya nyawa ku bisa menebus kesalahanku pada mu, Maka biarlah mereka mengambil nyawaku."
"Pembual! Jangan bicara omong kosong, Ayo kita pulang."
__ADS_1
"Pulang, Ke rumah ku?" tanya Haidar tak percaya.
Belva hanya menganggukkan kepala dan melangkah mendahului Haidar tanpa mempedulikan Haidar yang terluka. Saat ini Belva hanya tidak ingin kembali ke rumah karena hatinya begitu sakit mendengar kemarahan Bryan.
Melihat Belva terdiam murung, Haidar hanya membukakan pintu mobil tanpa bertanya apapun. Meskipun Haidar tahu Belva ingin kembali ke rumah bukan karena dirinya, Tapi Haidar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk kembali merebut hati sang istri.
Sesampainya di rumah, Haidar mempersilahkan Belva masuk, Ke kamar dimana Haidar saat itu menyiksanya. Mengingat kejadian itu, Belva berbalik badan dan kembali ingin keluar, Tapi ia menabrak Haidar yang sudah berdiri di depannya.
"Aku tahu, Kamar ini memiliki kenangan pahit untuk mu, Jika kamu tidak ingin di kamar ini, Kamu bisa memilih kamar manapun yang kamu inginkan. Biar Aku yang pindah ke kamar lain."
"A-e... Tidak, Kamu di sini saja, Aku bisa di kamar lain." Belva kembali melangkah melewati Haidar. Tapi Haidar langsung melingkarkan tangannya ke perut Belva untuk menghentikannya. Kemudian Haidar kembali berdiri di depannya.
"Untuk yang kesekian kalinya, Aku minta maaf. Jika kamu tidak bisa memaafkan ku karena Aku pernah menjual mu kepada orang-orang itu, Maka kamu bisa menjual ku kepada wanita mana pun yang kamu inginkan."
Mendengar itu, Belva terbelalak memarahi Haidar.
"Apa kamu bilang? Menjual mu kepada wanita yang ku inginkan? Yang ada itu bukan suatu siksaan untuk mu, Tapi itu sebuah keberuntungan yang bisa kamu nikmati!" dengan kesal Belva memukul-mukul Haidar.
Haidar hanya terdiam pasrah dan menatap wajah Belva yang di anggapnya sedang cemburu kepadanya.
__ADS_1
Setelah cukup lama, Haidar memegang kedua pergelangan tangan Belva dan memeluknya dengan erat.
Bersambung...