Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Melebihi Ekspektasi


__ADS_3

Setelah mengurai pelukannya, Haidar mencopot jarum infus yang menancap di tangannya. Membuat Belva yang melihat menjadi panik.


"Apa yang kamu lakukan, Kenapa di lepas?"


"Aku hanya terluka, Bukan sekarat Ayo kita pulang."


"Tapi..." Haidar langsung menarik tangan Belva keluar dari ruang rawat.


"Tapi kita harus bicara dulu pada Dokter untuk memastikan kondisimu."


Haidar langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Belva. "Kamu lihat Aku baik-baik saja, Bisa jalan, Jadi untuk apa?" Haidar kembali melangkah dan meninggalkan Belva yang tertatih-tatih mengejar langkahnya.


Sesampainya di administrasi, Haidar mengeluarkan sejumlah uang dan langsung pergi begitu saja. Ia tidak perduli meskipun petugas mengejar dan menanyakan namanya.


Melihat hal tersebut Belva menjelaskan kepada petugas. Sementara Haidar begitu sampai di lobby merasa bingung dan menoleh ke belakang mencari-cari Belva.


Tak lama kemudian Haidar yang melihat Belva, Berbalik arah dan mendekatinya.


"Dimana kunci mobil mu?"


"Kunci mobil ku?"


"Iya, Kalau kunci mobil ku sudah jelas tidak ada mobilnya kan, Sudah tentu kamu tidak membawa serta mobilku ke rumah sakit."


"Ya itu benar, Aku meninggalkan mobilmu di sana."


"Maka dari itu, Berikan kunci mobil mu."


Belva pun memberikan kunci mobilnya tanpa bertanya. Kemudian ia membuntuti Haidar yang melangkah ke arah mobilnya. Melihat punggung Haidar Belva merasa berdebar, Ia mengingat bagaimana Haidar melindunginya dari para penjahat. "Benar-benar suami impian." batin Belva tersenyum.


Karena khayalannya itu, Belva menabrak Haidar yang sudah berhenti berjalan. Membuat Haidar sedikit memekik kecil karena lukanya tersundul kepala Belva.


"A-m-maaf maaf, Aku tidak melihat."


"Apa yang kamu lihat, Aaa..."

__ADS_1


Belva menepuk keningnya sendiri, Ia merasa benar-benar payah karena berjalan sambil menghayalkan Haidar.


"Hey apa yang kamu tunggu, Ayo masuklah."


Belva mengangguk patuh dan masuk ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan Belva terus menatap Haidar seakan ingin meyakinkan hatinya jika ia benar-benar siap menikah dengan pria yang belum lama ini ia kenal.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Belva tersentak ketika Haidar menghentikan mobilnya. Belva semakin di buat terkejut ketika membuka kaca mobil dan melihat rumah tiga lantai yang ada di depannya bukanlah rumahnya. Membuat Belva bingung dan menoleh kearah Haidar yang bersiap turun.


"Turunlah," ucap Haidar tanpa menatap Belva.


"Kamu membawa ku ke rumah siapa? Hey... King..." Belva langsung menyusul turun ketika Haidar tidak mendengarkan pertanyaannya.


Meskipun penuh kebingungan, Belva mengikuti Haidar yang melangkah masuk. Begitu gerbang terbuka penjaga keamanan langsung membungkukkan badan menunjukkan tanda hormatnya, Begitu pula ketika pintu utama terbuka yang langsung mendapat sambutan dari beberapa asisten rumah tangga, Membuat Belva mengingat perkataan pemilik rumah kecil yang pernah Haidar datangi hanyalah menyewa beberapa hari.


"Tapi untuk apa?" batin Belva.


"Kita ke atas," ucap Haidar.


Belva langsung menghadang Haidar dengan menaiki anak tangga.


"Aku ingin menanyakan satu hal."


"Katakan."


"Rumah kecil yang kamu datangi itu?"


"Terkadang Aku ingin merasakan bagaimana tinggal di rumah kecil, Tanpa kipas angin, Tanpa pendingin ruangan, Maupun tanpa fasilitas mewah yang ada di rumah ini."


Mendengar itu Belva tercengang bukan kepalang "Bagaimana mungkin ada orang yang sudah hidup nyaman di rumah besar dengan segala fasilitasnya masih ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal di rumah kecil? Ya Tuhan... Aku tidak akan ragu lagi, Dia benar-benar sosok suami yang sempurna, Dia bukan hanya mampu melindungi ku seperti Papa, Tapi dia juga sangat rendah hati, Dimana lagi Aku akan menemukan suami sepertinya jika kesempatan ini ku sia-siakan." batin Belva.


Melihat Belva yang hanya terpaku menatapnya Haidar menggelengkan kepala dan langsung menarik lengannya untuk baik ke atas.


"Kenapa kamu suka sekali berdiam diri seperti patung?"

__ADS_1


"Hah! A-aku... Aku hanya..."


"Sudahlah, Ayo Aku tunjukkan semua sudut rumah ini."


Belva mengangguk dan mengikuti kemanapun Haidar membawanya, Ia mendengarkan setiap apa yang Haidar jelaskan.


"Jadi ini benar-benar rumah mu?"


"Apa kamu meragukan ku?" tanya Haidar.


"E-tidak, Aku hanya asal bertanya."


"Wajar saja kalau kamu ragu, Kemarin kamu melihat ku di rumah kecil dan sekarang Aku membawa mu ke rumah besar, Tapi jangan khawatir akan ku tunjukan bukti jika ini benar-benar rumah ku."


"E-tidak perlu, Untuk apa kamu melakukannya?"


"Tentu ini perlu, Bukankah kamu sudah bersedia menikah dengan ku?"


"E-ya."


"Maka dari itu ikuti Aku."


Belva pun mengangguk dan kembali mengikuti Haidar, Setelah melewati banyak ruangan akhirnya Haidar memasuki sebuah kamar yang luasnya melebihi kamarnya di rumah.


Haidar pun langsung menuju lemari yang tingginya setara dengan plafon kamarnya. Ia mengambil sebuah map coklat dan membawanya ke hadapan Belva.


"Sertifikat rumah, Hotel dan beberapa aset yang ku miliki. Semua jelas tertera atas nama ku."


Belva mengambil map tersebut dan melihatnya satu persatu.


"Jika kamu sudah merasa yakin, Sekarang kita ke rumah mu, Aku akan meminta restu untuk menikahi mu."


Belva kembali terpaku, Lagi-lagi ia tidak menduga jika pria yang begitu ia idamkan begitu cepat bertindak melebihi ekspektasinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2