
Faraz yang menerima kabar dari Ziyan tentang keinginannya menikah dengan pria matang yang usianya melebihi usia Belva langsung mendatangi rumah Bryan mengajak serta Alia dan mengumpulkan semua orang. Ia tidak habis pikir kenapa Belva mengulangi kisah cinta Zia yang membuatnya selalu naik darah karena sulitnya menerima perbedaan usia mereka sekalipun pria itu adalah temannya, Apalagi jika pria itu adalah orang asing yang tidak di kenal.
"Apa di usiaku saat ini Aku harus kembali melihat kisah cinta antara anak kecil dan pria dewasa berusia 40th lagi?!"
Bryan mengerutkan keningnya sambil menggaruk-garuk kepalanya mendengar omelan Papa mertuanya.
"Bryan! Tidak bisakah kamu bersikap tegas melarang putri mu untuk tidak mengambil keputusan yang salah?"
"Salahnya di mana Pa?" tanya Zia menyela.
"Zia... Papa sedang bicara dengan Bryan."
"Apa Papa mertua cukup tegas melarang Zia untuk tidak menikah dengan ku?"
"Bryan kau..."
"Papa..."
Belum sempat Faraz meluapkan kekesalannya, Ia terdiam mendengar suara Belva. Begitupun dengan semua orang, Mereka menoleh ke arah pintu dan melihat Belva menggandeng tangan Haidar melangkah mendekati mereka.
"Papa... Mama, Oma Opa.... Kenalin ini Haidar."
"Selamat siang Om... Tante..." dengan sopan Haidar menangkup tangannya seraya mengangguk kepalanya kepada Zia. Dan mengulurkan tangannya pada Bryan. Meskipun dengan tatapan tidak senang Bryan menjabat tangan Haidar yang menurutnya lebih pantas menjadi Ayah Belva.
"Dan ini adalah...."
"Biar ku tebak..." Haidar langsung memotong ucapan Belva.
"Tuan pasti Kakek nya Belva kan?"
__ADS_1
"Ya." jawab Faraz sinis.
"Sudah ku duga. Anda masih terlihat sangat tampan seolah usia hanyalah sebuah angka." puji Haidar.
"Benarkah?" seketika perkataan itu merubah suasana hati Faraz yang langsung memegangi kedua pipinya. Ia benar-benar merasa tersanjung dengan pujian yang Haidar ucapkan.
Melihat itu Bryan tau betul jika ucapan Haidar hanyalah untuk mengambil hati papa mertuanya agar mendapatkan restu darinya.
"Jangan merasa senang dulu Papa mertua, Dia sengaja mengatakan itu agar kita setuju dengan pernikahan ini."
"Kenapa tidak, Dia terlihat sangat baik, Sopan, Dia juga tahu bagaimana berbicara dengan orang tua, Tidak menyebalkan seperti mu."
"Jadi Papa mertua langsung menyetujui pernikahan ini hanya dengan satu pujian?"
"Ini bukan hanya sekedar pujian." Faraz langsung memotong ucapan Bryan.
"Ya ya ya... Kamu benar... Kemarilah duduk di dekat ku." dengan senyuman lebar Faraz meminta Haidar duduk di sebelahnya membuat Bryan merasa kesal karena sikap Faraz berbanding terbalik pada saat ia baru datang.
"Apa rahasia Tuan Faraz bisa awet muda seperti ini?"
"Hehehe... Tidak ada rahasia, Hanya saja lakukan itu secara rutin."
Haidar mengernyitkan keningnya memahami apa yang coba Faraz katakan.
"Dasar penjilat." batin Bryan yang merasa kesal.
"Dengarnya Haidar semua itu bisa kita miliki asal ada duitnya, Jadi tidak perlu berlebihan."
"Kenapa kamu terlihat tidak terima Haidar memujiku?"
__ADS_1
"Bukan masalah tidak terima, Ingat awal tujuan dia kesini untuk apa, Aku Papa-nya Belva, Kenapa dia sibuk memuji Papa mertua, Ini kan terlihat sekali jika dia ingin mengambil hati Papa mertua."
"Bukankah itu bagus?" celah Belva.
"Apanya yang bagus sayang?"
"Opa Faraz, Orang tertua di rumah ini jadi King Haidar harus bisa mengambil hati Opa."
"Ini bukan masalah mengambil hati atau tidak, Tapi Aku hanya mengucapkan apa yang ku lihat, Semua mengalir begitu saja tanpa ku rencanakan."
"Kamu lihat itu Bryan, Dia bicara dengan sangat sopan. Nak Haidar Aku setuju jika cucu ku menikah dengan mu."
Bryan begitu terkejut mendengar Faraz yang dengan gampangnya memberikan restunya hanya dari kata-katanya.
"Tidak bisa main setuju aja dong Pa, Kita harus selidiki dulu latar belakangnya."
"Aku sudah tahu latar belakangnya, Dan Aku tidak mempermasalahkannya." saut Belva menyela pembicaraan.
"Sayang... Biarkan Papa bicara sama Opa mu dulu."
Belva mengangguk-anggukkan kepalanya dan mendekati Mamanya kemudian duduk di sebelahnya.
"Aku tahu kekhawatiran Anda sebagai orang tua, Tapi percayalah Aku benar-benar ingin menikahi putri Anda."
"Atas dasar apa kamu ingin cepat-cepat menikahi putri ku yang masih begitu muda?"
Haidar terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Bryan.
Bersambung...
__ADS_1