
Haidar baru saja menyelesaikan meetingnya stelah berjam-jam lamanya. Untuk menghilangkan rasa letihnya Haidar menyandarkan tubuhnya di kursi seraya merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal. Namun tak sengaja netranya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas dua puluh menit sehingga Haidar langsung bangkit mengingat tadi pagi ia mengurung Belva di kamar mandi.
"Oh shittt...!!!" Haidar langsung berlari meninggalkan hotel.
Dengan kecepatan tinggi, Haidar merasakan kekhawatiran di dalam hatinya. "Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?" batin Haidar yang kemudian semakin menambah kecepatannya.
Tidak sampai tiga puluh menit akhirnya Haidar sampai di rumahnya, Ia berlari secepat mungkin menuju kamarnya. Melihat kamar yang masih kosong, Haidar kembali berlari ke kamar mandi. Karena rasa paniknya, Ia kesulitan membuka kunci sehingga ia mendobraknya dengan paksa.
Begitu pintu terbuka, Haidar terperangah melihat Belva yang sudah tak sadarkan diri di lantai. Ia pun bergegas masuk dan mendekap tubuh Belva hingga duduk bersandar di bahunya. Melihat bibir Belva yang putih pucat serta tubuhnya yang begitu dingin, Haidar segera membawanya keluar dan membaringkannya di ranjang.
Dengan penuh rasa khawatir Haidar menyelimuti tubuh Belva menggunakan selimut tebalnya. Tidak cukup sampai di situ, Haidar juga mengambil bed cover di lemari dan mematikan pendingin ruangan. Setelah itu Haidar duduk di samping Belva menunggunya bereaksi. Namun hingga beberapa menit berlalu, Belva tidak juga menunjukkan kesadarannya sehingga membuat Haidar semakin merasa khawatir.
Ragu-ragu Haidar mendekati Belva dan menepuk-nepuk pipinya perlahan. Tapi itu tidak juga berhasil membuat Belva bereaksi. Tidak tahu apa lagi yang harus di lakukan, Haidar pun mendekatkan bibirnya berniat memberinya nafas buatan. Namun belum sempat Haidar melakukannya, Tiba-tiba Belva membuka matanya. Membuat Haidar seketika mematung tak tahu apa yang harus di lakukan.
"Apa kamu mau menci'um ku?"
Mendengar itu Haidar langsung menarik diri dan duduk mengalihkan pandangannya kesana-kemari.
"Apa kamu pikir Aku sudah tidak waras sampai Aku harus menci'um mu?"
"Tapi kamu terlihat khawatir."
__ADS_1
"Ya, Aku memang khawatir. Aku khawatir kamu tiada secepat itu, Makanya Aku tidak akan membiarkannya. Kamu pantas mendapatkan penderitaan lebih dari ini."
Belva yang masih merasa lemas hanya terdiam sedih mendengar apa yang Haidar ucapkan.
Tidak lagi mendengar jawaban dari Belva Haidar melirik ke arahnya. Melihat Belva memijit-mijit pelipisnya. Haidar pun teringat jika seharian belum memberi Belva makan. Ia pun segera bangkit dan keluar kamar untuk mengambilkan makanan.
Karena malam yang sudah sangat larut, Haidar yang tidak lagi melihat ada asisten rumah tangganya, Pergi ke dapur dan mengambil makanan sendiri. Kemudian membawanya ke atas.
Ia meletakkan di samping Belva dan memintanya untuk makan.
"Makan!"
"Aku bilang makan!"
"Biarkan saja Aku tiada, Bukankah itu yang kamu inginkan?"
"Jadi kamu ingin tiada sekarang? Baiklah, Tidak usah makan. Percuma saja Aku menolong mu dari kedinginan!"
Mendengar itu Belva langsung membuka seluruh selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian ia beranjak turun hingga hampir terjatuh.
Haidar yang melihatnya refleks mengulurkan tangan untuk menolongnya. Namun Belva segera menepis dan langsung keluar menuju balkon.
__ADS_1
Dari kaca pintu, Haidar melihat Belva melepas pakaiannya dan menjadikannya alas untuk ia tidur. Sementara tubuhnya hanya terbalut tank top dan celana panjang.
Belva menjadikan kedua tangannya bantal. Kemudian tubuhnya meringkuk untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulangnya.
Setelah itu ia berusaha memejamkan mata meskipun perutnya merasa sangat kelaparan.
Melihat itu Haidar yang sebenarnya memiliki perasaan yang lembut dan welas asih, Menurunkan egonya dengan mendatanginya ke balkon. Setelah berdiri di samping Belva, Haidar menarik nafas dalam-dalam sebelum bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Masuklah dan tidur di ranjang ku."
Belva hanya diam, Mengabaikan apa yang Haidar katakan.
"Aku bilang masuk dan tidur di ranjang ku."
"Tidak perlu repot-repot King... Kamu ingin melihat ku mati kan? Jadi biarkan saja."
Mendengar itu Haidar kembali merasa kesal dan meninggalkan Belva masuk. Ia baik ke ranjangnya sambil terus melihat dari pintu kaca yang memperlihatkan Belva meringkuk membelakanginya.
"Terserah saja, Aku tidak peduli!" Haidar langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, Tak terkecuali kepalanya yang juga ia tutup rapat agar tidak lagi melihat Belva.
Bersambung...
__ADS_1