
Ziyan yang melihat Belva terusir dari kamarnya sendiri bergegas mendekati Belva. Ia menanyakan apa yang kali ini Belvana lakukan sehingga mengusirnya dari kamar dan membanting pintu dengan begitu kerasnya. Tapi Belva hanya menjawab santai karena apapun yang ia lakukan, Belvana tidak akan pernah menyukainya.
"Tapi bukan begini caranya, Dia mengusir mu dari kamarmu sendiri," ucap Ziyan kesal.
"Tidak masalah, Masih banyak kamar lain, Lagipula Aku hanya sementara tinggal di sini karena tidak lama lagi Aku akan pergi bersama suamiku."
"Apa kamu sudah tidak betah di rumah ini, Apa kamu sudah tidak menyayangi Kakak mu ini?" tanya Ziyan sedih.
"Kak Ziyan..." Belva langsung memeluk Ziyan dan mengatakan bahwa ini yang terbaik untuk mereka. Belva menjelaskan jika dengan kepergiannya maka Belvana akan merasakan kasih sayang penuh dari seluruh keluarganya. Sementara dirinya akan mendapatkan cinta seutuhnya dari Haidar.
"Tapi itu tergantung restu Papa," ucap Ziyan.
"Ya itu benar, Tapi Aku yakin tidak akan membutuhkan waktu lama karena jika Papa terus menahan ku di sini maka Belvana akan langsung mengeluarkan tanduknya."
Ziyan tertawa mendengar apa yang Belva katakan kemudian merangkul pundak Belva dan mengajaknya ke kamarnya.
"Tidurlah di kamarku Aku sangat merindukan mu."
Belva tidak bisa lagi menolak permintaan kakaknya karena Ziyan langsung mendorongnya masuk ke kamarnya.
Terkadang mereka memang sesekali menghabiskan malam bersama dengan bercerita ketika sudah lama tak bertemu.
•••
Pagi harinya semua orang berkumpul di meja makan, Kecuali Belvana yang masih belum keluar kamarnya. Hal itu membuat Zia khawatir dan meminta izin untuk melihatnya di kamar.
__ADS_1
"Untuk apa Ma?" tanya Ziyan hingga membuat Zia yang baru berdiri menoleh kearahnya.
"Kenapa bertanya seperti itu, Bukankah tadi Mama bilang ingin melihatnya, Mama khawatir dia kenapa-kenapa."
"Untuk apa khawatir, Dia itu tidak pantas di khawatirkan maupun di kasihani..."
"Ziyan!" Bryan memotong ucapan Ziyan. Namun Ziyan terus melanjutkan ucapannya.
"Apa Mama dan Papa tahu, Belvana mengusir Belva dari kamarnya, Padahal Belvana sudah dia sudah di berikan kamar sendiri tapi kenapa dia ingin memiliki kamar Belva, Kenapa dia selalu ingin merebut apa yang Belva miliki? Sekarang hanya kamar, Bagaimana kalau nanti dia juga ingin memiliki suaminya?"
"Kak Ziyan cukup!" Belva langsung berdiri mengambil tasnya yang ia letakkan di kursi sebelahnya.
"Belvana tidak mengusir ku, Aku sendiri yang keluar dari kamar ku, Kami saudara, Bahkan kami kembar, Jadi apa yang Aku miliki dia bisa memilikinya kecuali suami ku!"
Melihat kedua orang tuanya hanya diam saja, Ziyan merasa kesal dan meninggalkan meja makan. Setelah kepergian Ziyan, Bryan memberikan pendapatnya tentang apa yang baru saja Ziyan katakan.
"Kita tidak bisa membiarkan ini, Kita harus tegas dengannya, Jika Dia ingin tinggal bersama kita maka dia harus mau mengikuti peraturan, Dia tidak bisa seenaknya sendiri apalagi terus memusuhi Belva."
"Lalu kalau dia tidak mau mengikuti peraturan dan tidak mau menurut pada kita apa artinya dia tidak akan tinggal bersama kita?"
"Bukan begitu Sayang..."
"Lalu bagaimana? Dia sudah jauh dari kita lebih dari 18th, Kita baru beberapa bulan bersamanya, Tidak bisakah kita bersabar menunggu dia menyesuaikan diri dengan kita, Dengan Belva khususnya?"
"Apa selama ini kamu lihat, Terutama barusan. Belva selalu membelanya, Selalu mengalah dan menutupi kesalahannya tapi Belvana? Dia..."
__ADS_1
"Aku tahu tapi Aku harap kamu juga bersikap adil kepada Belvana yang tidak mendapat kasih sayang mu seperti Belva mendapatkannya.
Seperti biasanya, Bryan kembali terdiam. Ia tidak tahu bagaimana memberi pengertian pada Zia agar mendidik Belvana supaya tidak terus-menerus menerus bersikap buruk pada Belva.
Tok... Tok... Tok...
Belva yang baru masuk mobil merasa kaget ketika pintu mobilnya di ketuk dari luar. Ia menjadi sangat terkejut ketika melihat yang mengetuk adalah Haidar. Terlebih mobil yang belum jauh meninggalkan rumah, Membuat Belva cepat-cepat membuka pintu dan menyuruhnya masuk.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Belva.
"Aku sangat merindukanmu." Haidar langsung memeluk Belva namun segera di tipesnya karena ada supir di depannya.
"Sebentar saja." tawar Haidar.
"Tidak."
"Ayolah, Aku sangat merindukan mu." Haidar memaksa memeluk Belva hingga ia tak dapat menolak dan hanya tertawa karena Haidar memeluknya dengan sangat erat hingga menimpa tubuhnya.
Sang supir yang mendengar kemesraan keduanya tak bisa menahan mata untuk melihat apa yang sedang majikannya lakukan dari spion dalam mobil.
Bersambung...
📌 Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🤗
Maaf ya kalau update nya lama, Bulan puasa makin rempong 😅
__ADS_1