
Belva yang masih merasa ragu memilih menahan diri untuk tidak mmenemui Haidar untuk sementara waktu. Ia ingin memastikan perasaannya apakah yang ia rasakan benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa penasaran seperti yang Haidar ucapkan.
Akan tetapi setelah satu minggu berlalu Belva tidak bisa lagi menahan perasaannya.
"Aku sudah tidak tahan lagi." Belva bergegas lari dari kamarnya.
"Sayang... Mau kemana?" tanya Bryan yang berusaha menghentikan putrinya yang lari begitu saja. Namun Belva mengabaikan panggilan Papanya dan meninggalkan rumah. Ia memutuskan untuk menemui Haidar di rumah kecil yang pernah ia datangi kala itu.
Sesampainya di sana Belva terkejut melihat rumah kecil itu kini terlihat begitu ramai dengan orang-orang yang berbincang di teras rumahnya. Laki-laki, Perempuan, Tua, Muda semua berkumpul. Membuat Belva semakin bingung apa yang mereka lakukan di rumah yang kemarin hanya di tempati Haidar.
Tidak mau terus merasa penasaran. Belva pun mendekati mereka dengan bahasa yang cukup sopan.
"Permisi Pak Bu..."
"Iya Non..." jawab salah seorang laki-laki paruh baya.
"Kalau boleh tau pemilik rumah ini siapa yah?"
"Rumah saya Non, Memangnya ada apa?" saut seorang pria yang duduk dekat pintu.
"E-tidak, Kemarin Aku kesini ada pria tinggi dan... Berbewok, Ganteng pokoknya kaya orang Pakistan gitu."
__ADS_1
"Oh yang itu, Kemarin dia hanya menyewa untuk beberapa hari, Baru tadi pagi dia mengembalikan kuncinya."
"Sewa? Untuk apa King Haidar menyewa rumah sederhana ini." batin Belva berpikir sesaat. Kemudian ia berterimakasih dan meninggalkan rumah tersebut.
"Jadi sekarang Aku harus menemuinya di hotel? Baiklah King Haidar, Tunggu kedatangan ku." Belva memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Namun tak lama kemudian ia harus lebih bersabar lagi ketika mobilnya terjebak kemacetan.
Mobil yang hanya bisa berjalan beberapa langkah membuat Belva bosan dan membuka kaca mobil untuk melihat sekiranya.
Tidak hanya itu, Belva pun memutar musik mengikuti lirik lagu dan menggoyangkan kepala mengikuti irama musik. Namun tengah asyik-asyiknya ia berdendang tiba-tiba Belva dikagetkan oleh seseorang yang merebut ponsel dari tangannya.
"Hey!" teriakan kaget membuat Belva langsung turun dari mobilnya.
Ia berdiri pria itu berlari belum jauh akibat kemacetan yang terjadi, Karena itu Belva pun berteriak dan berlari mengejarnya dengan penuh keberanian.
Mendengar teriakan Belva orang-orang yang terjebak dalam kemacetan ikut turun dan melihat kesana kemari.
"Tangkap dia, Dia mencuri ponselku, Aku baru membelinya beberapa hari lalu," ucap Belva kepada orang-orang yang menatapnya.
Mendengar itu, Beberapa orang pria pun ikut berlari mengejar. Dan... ketika sampai di ujung lampu merah, Sebuah mobil berwarna hitam membuka pintunya dan tepat mengenai si pencuri.
Melihat pencuri tersungkur semua orang pun berhenti tak jauh darinya. Kemudian tatapan mereka beralih kepada pemilik mobil yang turun dari mobilnya.
__ADS_1
Belva melihat pria menggunakan stelan jas berwarna hitam serta kaca mata hitam yang tersangka di telinganya. Belva pun begitu menantikan pria itu berbalik badan karena merasa pria itu tidak asing di matanya. Dan benar saja ketika pria itu berbalik badan dan membuka kacamata hitamnya, Belva langsung mengulas senyum ketika melihat pria itu adalah pria yang membuatnya terjebak kemacetan.
"Lihatlah... Bagaimana King Haidar menyelamatkan permaisurinya," ucap Belva yang melihat Haidar mendekati pencuri itu menarik kerah belakang dan membuatnya kembali berdiri.
"Pilihan mu hanya dua, Kembalikan ponselnya atau ikut Aku ke penjara!"
"A-a-apakah kalau Aku mengembalikan ponselnya, Anda akan melepaskan ku?" tanya pencuri itu.
"Bukan Aku yang memutuskan, Tapi dia." Haidar mendorong pencuri itu ke hadapan Belva yang langsung melangkah mundur karena hampir tertabrak olehnya.
"E-m-maaaf... M-maafkan Aku," ucap pria itu sambil mengembalikan ponselnya.
Belva hanya mengambil ponselnya tanpa menjawab permintaan maaf nya.
"Bawa dia ke polisi." teriak seseorang.
Belva yang tengah menatap Haidar tersentak dan mengalihkan pandangannya pada pencuri itu. Melihat pencuri itu memohon, Belva pun merasa iba dan memaafkannya. Namun yang terjadi selanjutnya adalah, Pencuri itu menarik Belva dan menodongkan senjata tajam ke lehernya.
"Tolong... " lirih Belva menatap Haidar yang berdiri tak jauh darinya. Namun ketika Haidar maju, Pencuri itu menekan senjata tajamnya hingga leher Belva meneteskan darah segarnya.
"Jika kamu berrani mendekat satu langkah saja, Maka kamu akan melihat lebih banyak darah yang menetes dari lehernya!"
__ADS_1
Bersambung...