
Zia menarik tangan Bryan untuk menghentikan Bryan yang ingin memarahi Belvana, Tapi kali ini Bryan tidak mau lagi mendengar apa yang Zia katakan. "Tidak Zia, Ini sudah cukup!" tegas Bryan mengangkat kelima jarinya pada Zia. Tatapan tegas penuh kemarahan membuat Zia tidak berani lagi menghentikan apa yang akan Bryan lakukan pada Belvana.
Setelah membuat Zia terdiam, Bryan berbalik badan menatap Belvana yang masih terlihat tenang tanpa ekspresi.
"Belvana, Sudah cukup selama ini kami mendiamkan apa yang kamu lakukan khususnya pada Belva, Saudara kembar mu! Selama ini kami diam karena rasa bersalah kami menerima kenyataan jika kamu hidup jauh dari kami, Hidup pas-pasan dengan didikan buruk dari Rina, Tapi dengan sikapmu yang seperti ini kami tidak bisa diam saja. Jadi jika kamu ingin tinggal bersama kami maka ikuti peraturan rumah ini."
"Jadi jika Aku tidak mau Papa akan mengusirku?" Belvana masih menatap Bryan dengan tenang, Seakan tengah menantang Papahnya.
"Bukan begitu Sayang..." Zia langsung menyeka dengan sedih.
"Zia!"
Mendengar ketegasan Bryan, Zia melangkah mundur menjauhi Belvana.
"Papa hanya ingin kamu bersikap yang baik kepada orang tua dan saudara-saudari mu karena memang tidak ada alasan untuk kamu membenci kami, Apa yang terjadi adalah takdir yang tidak bisa di ubah, Seperti kamu yang marah dengan keadaan mu, Kami juga marah kenapa ini bisa terjadi. Asal kamu tahu, Seperti kamu yang tidak mendapat kasih sayang dari Mama, Belva juga tidak."
Belvana mengangkat kepalanya penasaran dengan apa yang Bryan katakan.
"Ya, Mama mu selalu menahan diri untuk mendekati Belva karena Mama mu pikir, Mendekati Belva tidak adil untuk mu yang entah mendapat kasih sayang dari seseorang atau tidak. Meskipun Papa berulangkali mengatakan jika kamu sudah tiada dan fokuslah kepada Belva tapi Mama mu tetap tidak menahan diri untuk Belva karena meyakini jika kamu nasih hidup. Mama sangat menyayangi mu melebihi sayangnya kepada Belva tapi kenapa kamu masih saja membenci Belva yang bahkan meskipun dekat dengan Mama nya, Tapi tidak mendapatkan kasih sayangnya?"
__ADS_1
Mendengar semua itu, Hatinya melunak, Belvana mendekati Zia yang sudah bercucuran air mata.
"Mama..."
"Sayang..."
Keduanya pun berpelukan dengan penuh haru. Membuat Bryan dan Ziyan yang melihatnya merasa lega karena akhirnya Belvana mengerti dengan apa yang Bryan jelaskan.
"Maafkan Belvana ma..."
"Tidak Sayang... Mama yang minta maaf, Mama tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mu maupun Belva."
•••
Sementara Belva dan Haidar meminta supir mengantarnya ke rumah Haidar. Meskipun sebelumnya supir mengatakan takut dimarahin Bryan tapi Belva meyakinkan jika dia hanya akan sebentar dan akan segera pulang.
"Jadi mana baju yang harus ku pakai?" tanya Haidar yang sudah mengeluarkan beberapa stel pakaian di atas ranjang dimana Belva tengah duduk meminta Haidar mencoba berbagai macam pakaian yang ada di lemarinya.
"Eummhhh.... Sepertinya bagusan yang tadi." ujar Belva sembari menempelkan ibu jari dan telunjuknya di dagu sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Ayolah Sayang... Tadi kamu bilang bagusan yang ini, Sekarang bilang yang tadi, Masa Aku harus ganti lagi yang tadi?"
"Loh ya gak papa, Kan mau ketemu camer."
Mendengar itu Haidar menggelengkan kepala dan mendekati Belva.
Kemudian membusungkan dadanya di hadapan Belva sehingga membuat Belva mengernyitkan keningnya karena bingung.
"Kalau begitu kamu yang bukain, Aku udah lelah," ucap Haidar sembari menolehkan wajahnya ke sebelah kiri.
Tanpa menjawab, Belva mulai membuka kancing kemejanya satu persatu hingga memperlihatkan dada bidangnya yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Kamu menginginkannya?" tanya Haidar yang melihat Belva terpaku menatapnya.
"A-a-apaan sih," ucap Belva yang langsung memalingkan wajahnya.
Tanpa kata-kata lagi Haidar membaringkan tubuh Belva dan mengungkung tubuh kecilnya dengan kedua tangan dan lututnya.
"Aku tidak keberatan jika kamu menginginkannya, Bukankah kita sudah menikah?" Haidar langsung menci'umi wajah dan leher Belva yang nampak malu-malu tapi mau.
__ADS_1
Bersambung...