
Belvana merasa kesal melihat Bryan yang terus sibuk menghubungi Belva sampai mengabaikan sarapan yang sudah ia siapkan. Padahal Belvana sengaja bangun pagi untuk menyiapkan sarapan khusus untuk Bryan demi mengambil hati dan perhatiannya supaya tidak terlalu memikirkan Belva, Tapi usahanya seolah sia-sia ketika Bryan sama sekali tidak menyicipi masakannya dan lebih menghawatirkan Belva yang sejak semalam tidak bisa di hubungi lagi.
"Ziyan apa kamu sudah bisa menghubunginya?"
"Belum Pa..."
"Kemana Belva pergi, Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya." sambung Zia yang ikut merasa khawatir.
Melihat semua sibuk dengan ponselnya dan begitu menghawatirkan Belva, Belvana langsung membanting pisau dan garpu ke piringnya. Membuat orang tersentak kaget dan menatap Belva.
"Belvana..." ucap Bryan mendekati.
"Kalian semua hanya mempedulikan Belva! Kalian semua hanya mengkhawatirkannya tanpa menganggap ku ada di sini, Lebih baik Aku pergi daripada Aku disini tapi kalian tidak pernah menganggap ku ada!"
"Belvanaaa..." Zia langsung berlari menghentikan Belvana yang langsung berlari keluar, Zia berusaha memberinya pengertian jika mereka akan melakukan hal yang sama ketika Belvana yang tidak ada di rumah. Namun Belvana tidak mau mendengar alasan itu, Sehingga Bryan bergegas keluar menyusul mereka.
"Belvana, Kembali kedalam."
"Untuk apa Aku kembali kedalam, Ada dan tidak adanya Aku tidak ada pentingnya untuk kalian, Yang ada di pikiran kalian hanya Belva Belva dan Belva!"
"Itu tidak benar Sayang... Kami hanya..."
"Hanya apa Pa, Bahkan Papa tidak mau memakan sarapan yang telah ku buat."
__ADS_1
Bryan menarik nafas panjang dan meminta maaf untuk itu, Ia menjelaskan jika sama sekali tidak berniat untuk tidak memakannya. Bryan hanya mengatakan nanti setelah ia menghubungi Belva. Tapi Belvana tidak mau mengerti sehingga Bryan mengalah agar mereka tidak kehilangan kedua putrinya.
Akhirnya Belvana tersenyum dan setuju untuk kembali masuk dan meneruskan sarapannya. Melihat kelakuan Belvana, Ziyan yang tidak tahan lagi pergi ke kamarnya. Ia menuliskan pesan kepada Belva apa yang baru terjadi di rumah.
Sekitar satu jam berlalu, Belva menyalakan ponselnya dan membaca pesan itu. Mengetahui kenyataan Belvana tidak menyukai keberadaannya di tengah-tengah kedua orang tuanya, Belva menatap Haidar yang tengah sibuk mengemasi Kamar dan langsung melempar senyum padanya ketika Haidar juga melihat Belva menatapnya.
Setelah berpikir beberapa menit, Belva turun dari ranjang dan mendekati Haidar.
"Apa kamu mencintai ku?"
Pertanyaan Belva yang tiba-tiba membuat Haidar mengernyitkan keningnya. "Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"
"Katakan saja, Apa kamu mencintai ku?"
"Ya, Aku mencintaimu, Aku ingin memperbaiki pernikahan kita dan hidup bersama dengan mu selamanya."
"Dan jika kamu kembali menyakiti ku, Hukuman apa yang pantas untuk mu?"
"Aku tidak akan pernah menyakiti mu lagi, Tapi jika itu terjadi kamu berhak atas semua aset yang ku miliki."
"Aku butuh itu."
"Aku tahu, Tapi apa yang bisa ku jaminkan selain itu?"
__ADS_1
"Masa depan mu!"
"Masa depan, Maksud mu?"
"Ya masa depan, Aku akan memotong masa depan mu hingga kamu tidak merasa berguna sebagai laki-laki."
Paham dengan apa yang Belva maksud Haidar tercengang menutup mulutnya yang ternganga.
"Sekarang sudah paham kan, Jadi jangan pernah berani-berani menyakitiku lagi apalagi menganggap ku lemah, Karena wanita kuat berawal dari wanita lemah yang tertindas!" setelah mengatakan itu Belva langsung berbalik badan meninggalkan Haidar, Tapi Haidar langsung menarik tangannya dan memeluknya dari belakang.
"Aku siap menerima hukuman itu karena Aku berjanji tidak akan pernah lagi menyakiti mu. Aku juga siap melakukan apapun agar kamu memaafkan ku dan kembali bersama ku. I love you..." bisik Haidar di telinga Belva hingga hembusan nafasnya membuat tengkuknya meremang.
"Tapi sebelum itu, Izinkan Aku kembali melamar mu dengan cara yang baik kepada kedua orang tua mu."
Mendengar itu Belva melepaskan tangan Haidar yang ada di pinggangnya, Kemudian memutar tubuhnya dan menatap Haidar dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Bukankah kita sudah menikah?"
"Ya, Tapi Aku ingin kembali menikah dengan mu di hadapan orang tua dan keluarga mu, Aku juga ingin membuat resepsi dengan sangat meriah sehingga semua orang tahu jika kamu adalah istri ku."
Mendengar itu Belva langsung memeluk Haidar. Belva tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya dan terus tersenyum di dada Haidar. Ia tidak menyangka jika Haidar telah memikirkan itu semua, Padahal semula Belva mengambil keputusan kembali pada Haidar demi menghindari konflik dengan saudara kembarnya, Tapi yang terjadi justru sangat membahagiakan hatinya, Seolah memupuk kembali hatinya yang hampir layu.
Bersambung...
__ADS_1