Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Mencurigakan


__ADS_3

"Sayang apa yang kamu katakan, Dia Belva bukan Belvana, Belvana sudah lama meninggalkan kita."


"Tidak... Dia bukan Belva, Aku dapat merasakannya."


"A-apa yang Mama katakan?" tanya Belva.


Zia menarik lengan Belva dan mengirup aroma tubuhnya. Menci'um aroma tubuhnya Zia semakin yakin jika yang di hadapannya bukanlah Belva. Namun Belva segera menepis anggapan itu karena selama Belva pergi tidak lagi menggunakan parfum biasanya lantaran ia pergi hanya dengan tangan kosong.


"Zia... Kamu masih belum sehat makanya kamu berpikir yang bukan-bukan, Sekarang kembali istirahat."


"Tidak Ma, Dia bukan Belva, Dia Belvana, Aku dapat merasakannya!"


Mendengar teriakkan itu, Bryan dan seluruh keluarga datang ke kamar. Bryan langsung mendekati Zia dan memeluknya sejenak.


"Ada apa Sayang?"


"Belvana telah kembali... Belvana kita kembali...."


Bryan yang mendengarnya merasa bingung dan menoleh ke arah Belva menatapnya dengan seksama beberapa saat. Namun Bryan tidak dapat memastikannya karena tidak ada yang berbeda dari Belva.


"Apa yang Mama katakan, Aku Belva bukan Belvana.

__ADS_1


Papa... Jelaskan pada Mama dan semuanya jika Aku Belva bukan Belvana seperti yang Mama katakan."


"Tenanglah Sayang, Mama mu sedang tidak sehat."


Bryan pun membujuk Zia dan mengusap kepalanya dengan lembut. Kemudian menyuruhnya berbaring dan kembali beristirahat.


Setelah Zia tenang, Semua orang keluar meninggalkan kamar Zia. Termasuk juga dengan Bryan yang merasa penasaran apa yang membuat Zia berteriak.


"Apa yang terjadi?" tanya Bryan pada Mama mertuanya.


"Zia bersikeras jika Belva adalah Belvana."


"Mama pasti marah kepada ku sehingga Mama menganggap ku Belvana dan tidak mau mengakui sebagai Belva." saut Belva menimpali jawaban Alia.


"Pergi ke kamar mu, Beristirahatlah."


Belva pun mengangguk dan melangkah pergi.


Semua orang terdiam melihat kepergian Belva seolah menyelidiki apa yang Zia katakan. Kecurigaan mereka semakin meningkat ketika melihat Belva berjalan ke arah lain.


"Belva... Kamu mau kemana, Kamar mu ada di sini," ucap Ziyan menatapnya penuh curiga.

__ADS_1


"Oh... A-e... A-aku merasa sangat sedih karena Mama tidak mengenali ku, Aku jadi tidak fokus." Belva mengulas senyum sekilas dan langsung bergegas ke kamarnya.


Melihat sikap Belva semua orang terdiam dengan kecurigaan. Begitupun dengan Bryan yang semula tidak merasa curiga, Kini merasa ragu dan memikirkan apa yang Zia katakan.


Jebrettt...


Belva menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil memegang dadanya yang berdegup dengan begitu kencangnya. Kepalanya menengadah ke atas dan memejamkan mata. Namun dalam hitungan detik ia kembali membuka mata melihat langit-langit kamarnya yang begitu tinggi. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah lemari yang tingginya mencapai langit kamarnya. Meja rias yang mewah lengkap dengan berbagai macam alat kecantikan, Sofa panjang yang empuk, Ranjang besar dan berbagai macam kelengkapan lainnya.


Perlahan Belva melangkahkan kakinya mendekati lemari. Ia membukanya dan tertegun melihat begitu banyak pakaian yang tergantung di dalamnya. Satu persatu ia melihatnya.


Begitu banyak pakaian yang masih tertera harga yang fantastis seolah menandakan jika pakaian itu belum pernah di pakai oleh pemiliknya. Tangannya pun meremas kuat salah satu pakaian itu, Dan menutupnya kembali dengan kesal.


Setelah pintu lemari tertutup, Tanpa sengaja ia melihat wajahnya di cermin. Ia pun mendekati cermin itu dan menatap wajahnya dengan seksama. Ia mengusap wajahnya dengan ujung jemarinya. Kemudian mengambil foto di atas meja rias itu.


"Kamu sudah terlalu lama menikmati kemewahan ini, Sekarang giliran ku!" dengan kesal ia membanting foto itu hingga pecah berkeping-keping. Kemudian ia mengambil foto tersebut dengan tatapan mata yang penuh dengan dendam.


"Kamu telah merebut segalanya dari ku! Kasih sayang Papa, Mama, Kak Ziyan dan seluruh keluarga besar! Kamu membuat mereka semua hanya menyayangi mu dan melupakan Aku, Sekarang lihatlah bagaimana kamu menderita dan Aku bahagia di sini!"


"Belva... Tok... Tok... Tok..."


Mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ia tersadar jika kini harus menjadi Belva. Bukan Belvana kembaran Belva yang di culik 18th lalu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2