
Ckleekkk...
Haidar yang mendengar pintu terbuka menoleh ke arah pintu.
Melihat Belva yang terlihat cemberut, Ia pun mendekatinya dan menanyakan apa yang terjadi. Namun Belva hanya menggeleng dan langsung berbaring memeluk bantalnya. Dengan sabar, Haidar mendekati Belva dan mengusap-usap kepala serta punggungnya.
"Gak mau cerita?" tanya nya lagi.
Belva menarik nafas dalam-dalam meraih tangan Haidar dan melingkarkan ke perutnya.
"Kamu hamil?" tanya Haidar bersemangat.
"Cck! Hamil apaan, Siapa yang hamil."
"Oh ya ampun, Aku pikir kamu hamil sayang."
Belva kembali terdiam mengingat perdebatannya dengan Haidar. Kemudian dengan sikap Belvana selama ini, Entah kenapa meskipun ia belum melihat petunjuk jika Belvana menginginkan Haidar. Tapi kekhawatiran di hatinya begitu besar.
"Lalu apa masalahnya, Kenapa kamu murung begini, Hmm?"
Belva berbalik badan menatap Haidar dan memainkan bulu-bulu halus di rahangnya.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Belva.
__ADS_1
"Ya Aku tau, Akupun juga sangat mencintai mu."
"Apa kamu bisa membedakan Aku dan Belvana tanpa melihat dari dekat maupun menghirup aroma tubuh kami?"
"Oh jadi ini masahnya? Kamu masih belum sepenuhnya memaafkan ku?"
"Bukan begitu, Aku sudah memaafkan mu, Tapi Aku tidak percaya dengan Belvana, Aku takut dia melakukan sesuatu untuk merebutmu dariku."
"Sayang... Aku bukan mainan yang bisa di rebut begitu saja, Aku memiliki perasaan yang tidak bisa di paksakan sekalipun dia memiliki wajah serupa dengan mu, Aku mencintai kepribadian mu, Karakter mu dan semua yang ada di dalam dirimu, Jadi pasti Aku akan bisa membedakan jika Belvana yang berdiri di hadapan ku."
"Kamu yakin?"
"Ya, Aku yakin."
Dimalam hari, Bryan termenung seorang diri memikirkan kekhawatiran Belva akan nasib rumah tangganya. Bryan pun mulai kilas balik menginat bagaimana saat dirinya baru menikahi Zia dan selalu di campuri oleh Faraz Papa mertuanya. Itu sangat menjengkelkan dan membuat dirinya tertekan. Mengingat itu semua, Bryan pun menyadari keputusannya tidak lah benar jika ia terus bersikeras mempertahankan Belva di rumahnya. Oleh karena itu Bryan berniat mengatakan keputusannya pada Belva. Namun sebelum ia sampai ke kamar Belva, Langkah kakinya terhenti ketika melihat Belvana tengah berbicara di dalam kamarnya, Karena merasa penasaran, Perlahan Bryan membuka sedikit pintu kamarnya dan mengintai dengan siapa Belvana berbicara. Akan tetapi Bryan menjadi sangat heran ketika tidak melihat diapain di kamar Belvana, Belvana juga tidak sedang berbicara di telepon. "Lalu dengan siapa Belvana bicara?" batin Bryan.
"King... Bagaimana penampilan ku hari ini?"
Bryan kembali menatap lekat putrinya yang masih bicara seorang diri di depan cerminnya, Dengan gestur tubuh yang seakan-akan tengah berhadapan dengan seseorang membuat Bryan semakin bingung dengan apa yang tengah Belvana lakukan.
"Yeahhh... Aku rasa cara bicara ku sudah seperti Belva,"
Mendengar itu, Bryan terkejut bukan kepalang, Membuatnya mengingat tentang kekhawatiran Belva dan kata-kata Belva yang mengatakan semoga dirinya tidak akan pernah menyesal karena melarangnya tetap tinggal bersamanya.
__ADS_1
"Apa yang Belva khawatirkan benar-benar akan terjadi?" batin Bryan yang menjadi resah.
Tidak mau terlambat dalam mengambil tindakan, Bryan bergegas ke kamar Belva untuk bicara dengannya. Tapi yang terjadi adalah Bryan tak mendapat jawaban dari Belva maupun Haidar meskipun sudah mengetuk pintu berkali-kali.
"Kemana mereka, Apa Belva nekat pergi dari rumah tanpa seizinku?" batin Bryan yang kemudian membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci. Perlahan Bryan memasuki kamar dan melihat ranjang yang terlihat kosong dengan bantal dan selimut yang berantakan, Terlihat juga pakaian Haidar dan juga Belva berserak di atas ranjang dan juga lantai. Hal itu membuat Bryan langsung menebak jika mereka sedang berada di kamar mandi melakukan hal yang ia juga sering lakukan bersama Zia. Namun meskipun hatinya merasa yakin, Bryan masih ingin memastikan jika mereka benar-benar ada di dalam. Oleh karena itu Bryan mendekati pintu dan menempelkan telinganya di daun pintu.
"Ahhh... Ahhh... Ahhh..."
Seketika itu juga Bryan langsung membulatkan matanya mendengar desa han jahanam dari dalam sana, Ia segera berlari untuk meninggalkan kamar. Namun karena terburu-buru Bryan menabrak meja dan menjatuhkan gelas yang berada di atasnya.
"PRAAANKKKK...!!!"
Haidar dan Belva yang mendengar itu secara bersamaan melihat kearah pintu. Menghentikan permainan yang sedang berlangsung.
Merasa penasaran, Belva berniat keluar dari kamar mandi. Namun Haidar kembali menarik ke sisinya.
"Kita belum selesai."
"Tapi..."
Tidak memberikan Belva kesempatan untuk menolak apalagi meninggalkannya. Haidar kembali menuntaskan permainannya yang sempat terjeda beberapa menit.
Bersambung...
__ADS_1