Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Pertemuan


__ADS_3

Setelah sekian lama, Akhirnya Zia mau berhias diri.


Di depan cermin besarnya, Ia memoles wajahnya yang semula nampak pucat menjadi berseri. Begitupun bibirnya yang ia poles warna merah, Serta eyeliner untuk mempertajam tatapan matanya.


Ckleekkk...


Bryan yang baru masuk nampak terkejut melihat Zia dari pantulan cermin. Ia berdiri di ambang pintu menatap sang istri yang sudah begitu lama tidak terlihat begitu berseri seperti hari ini. Hatinya benar-benar merasa begitu bahagia akhirnya Zia mau menerima kenyataan yang ada. Terlebih Zia juga melempar senyum padanya membuat Bryan langsung berlari memegang kedua bahunya dan mengecup kepalanya.


"Kamu terlihat sangat cantik seperti saat pertama kali mendatangi kantor menggunakan seragam sekolah."


Zia tersipu mengingat momen itu, Momen dimana dirinya rela hujan-hujanan demi bisa bertemu Bryan yang tak lain teman papanya.


"Kamu mengingatnya?" goda Bryan.


Zia menganggukkan kepala dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.


"Kita ulang masa-masa indah itu." Bryan langsung membopong tubuh Zia dan membaringkannya di ranjang. Setelah kehilangan bayinya hubungan mereka di atas ranjang memang tak se panas dulu sehingga Bryan selalu merindukan masa-masa itu.


Tau akan hal itu, Zia mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan dan membiarkan Bryan tenggelam dalam lehernya.


Zia memejamkan mata mencoba menikmati setiap sentuhan Bryan dan mengingat momen saat hari-hari mereka di punuhi cinta dan gair'ah yang membara. Dan Zia pun berhasil melakukannya karena akhirnya ia benar-benar terbakar gair'ah dan membuat malam itu menjadi seperti malam-malam saat mereka muda dulu.

__ADS_1


Sementara tanpa sepengetahuan kedua orang tua dan juga Kakak nya. Belva tengah menghadiri pesta yang di adakan oleh teman kampusnya di sebuah hotel. Semula pesta itu nampak biasa-biasa saja hanya menyediakan minuman tanpa alkohol. Namun semakin malam suasana menjadi riyuh ketika salah satu dari mereka mengeluarkan minuman beralkohol untuk yang kalah dalam permainan game yang mereka adakan. Dan yang harus meminumnya tak lain adalah Belva. Membuat gadis itu secara tegas menolak karena seumur hidupnya ia tidak pernah mencicipi minuman seperti itu. Akan tetapi mereka terus memaksanya sehingga Belva menepis gelas itu hingga pecah berkeping-keping.


Melihat semua orang menatapnya. Belva berlari meninggalkan pesta. Ia mencari kunci mobil di tasnya namun sebelum ia menemukan kuncinya. Tiga orang preman berjalan mendekatinya.


Belva pun menjadi panik dan berusaha lari dari mereka, Akan tetapi kedua dari orang itu mencekal tangannya sehingga tubuh kecilnya tak mampu melawannya.


"Tolooooong..." hanya jeritan minta tolong yang bisa Belva lakukan sebelum pria-pria itu membungkam mulutnya. Ketika Belva merasa tidak ada harapan lagi tiba-tiba seorang pria dengan tinggi badan sekitar 178cm berjalan mendekat kearah mereka.


Semakin lama semakin dekat hingga wajah pria itu terlihat jelas dan membuat Belva terpesona meskipun dalam keadaannya yang terancam.


Seperti pahlawan dalam film-film yang Belva tonton, Pria itu menarik preman-preman itu dan menghajarnya satu persatu. Membuat Belva seperti menemukan sosok yang selama ini ia cari. Pria matang dan mampu melindungi dirinya dari bahaya apapun seperti Papa-nya.


Tanpa Belva sadari, Ketiga preman itu telah terkapar tak berdaya di tanah. Dan tanpa mengatakan sepatah kata pun pria itu langsung berjalan pergi meninggalkan Belva yang baru tersadar dari khayalannya.


Pria itu berhenti tanpa menoleh ke belakang.


Belva pun berlari ke hadapannya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Akan tetapi pria itu hanya menatap dingin tanpa berkata-kata.


"Terimakasih telah menolongku."


Tanpa menjawab apa lagi menjabat tangannya pria itu kembali melangkah pergi.

__ADS_1


"Hey... Kita harus berkenalan, Papa ku harus tau jika Anda telah menolong ku." Belva terus mengejar pria itu meskipun selalu di abaikan. Karena saking semangatnya dan tidak melihat jalan Belva pun tersandung dan membuatnya hampir tersungkur.


"Hati-hati..." dengan sigap pria itu menangkap tubuh Belva. Membuat pria itu tidak dapat menghindari tatapan Belva yang juga melempar senyum kepadanya.


"Akhirnya Aku bisa mendengar suara mu."


Dengan kesal pria itu melepaskan Belva. Namun Belva tidak menyerah. Ia terus membuntutinya hingga sampai ke mobilnya.


"Hey apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu melihat Belva memotret plat mobilnya.


"Anda menolak untuk berkenalan, Maka Aku akan mencari tau nama Anda dengan plat nomor ini."


"Apa kamu sudah gila?"


"Aku menjadi gila ketika Aku bertemu dengan mu."


"Seharusnya tadi Aku tidak menolong mu!" ujar pria itu yang kemudian masuk ke mobilnya.


Belva mengetuk kaca mobilnya. Dan entah kenapa pria itu pun membukanya meskipun ia tidak mau menatap wajah Belva.


"Aku suka pria dingin seperti mu, Meskipun terlihat garang tapi hati penyayang."

__ADS_1


Tanpa ekspresi pria itu kembali menutup kaca mobilnya dan meninggalkan lokasi. Belva hanya tersenyum melihat mobil itu yang terus menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Bersambung...


__ADS_2