Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Tak Di Restui


__ADS_3

Malam harinya Bryan masih memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Di tengah lamunannya itu, Bryan teringat jika tadi siang ia belum selesai membaca profil Haidar dan keluarganya. Untuk itu Bryan mengambil ponselnya dan membaca profil lengkap tentang Bryan.


Bryan cukup terkejut ketika membaca berita tentang Haiden Dhanurendra yang tak lain adalah putra Haidar Dhanurendra. Hal tersebut membuat Bryan semakin ragu untuk memberikan restunya kepada Belva. Karena itu Bryan bergegas ke kamar Belva untuk bertanya tentang berita tersebut. Namun sesampainya di kamar Belva, Berkali-kali Bryan mengetuk pintu, Belva tidak juga membukakan pintunya.


"Belva Sayang... Buka pintunya, Papa ingin bicara." bujuk Bryan yang mengira Belva masih marah karena siang tadi Bryan belum mau memberikan restunya.


Zia yang baru naik ke atas melihat Bryan yang terus membujuk Belva pun menghampiri Bryan.


"Belva masih ngambek?"


"Sepertinya."


"Biarkan saja dulu, Kita berikan dia waktu, Besok pagi kita bicarakan lagi."


"Ya, Sepertinya kamu benar. Baiklah Ayo kita ke kamar." Bryan pun merangkul Zia dan meninggalkan kamar Belva.


Sementara Belva yang di kamarnya tidak menyahut panggilan Papanya, Rupanya memang tidak berada di kamarnya. Ia sedang jalan bersama Haidar di restoran hotel milik Haidar, Kali ini restoran itu sengaja di tutup karena Haidar ingin menikmati waktu kebersamaannya dengan Belva.


Belva pun merasa sangat spesial karena dalam waktu singkat Haidar bisa menyiapkan segalanya untuk dirinya.


Tak henti-hentinya Belva menatap seluruh isi ruangan yang di hias dengan berbagai macam pernak-pernik khas untuk pasangan yang tengah di mabuk cinta. Menjadikan suasana malam itu semakin terasa romantis.


"Kamu menyukainya?"


"Sangat...." saut Belva sembari menangkap Balon yang terbang di atasnya.


"Aku ingin malam ini menjadi malam yang tak terlupakan oleh mu, Karena Aku tidak tahu apakah besok kita masih bisa bertemu atau tidak."

__ADS_1


Mendengar itu Belva langsung melepaskan balon berbentuk love dari tangannya. "Apa maksud mu, Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Belva yang seketika merasa di banting dari ketinggian.


"Sebelumnya Aku sudah mengatakan, Menikah dengan ku atau menjauh dari ku. Orang tua mu tidak memberikan restunya maka dari itu, Kamu tidak boleh lagi mengejar ku. Aku bukan anak remaja yang bisa berpacaran secara sembunyi-sembunyi ketika tidak mendapat restu dari orang tua.


"Tidak! Aku tidak bisa berpisah dengan mu, Aku akan memastikan jika Papa akan setuju dengan pernikahan kita." Belva segera bangkit dan meninggalkan Haidar.


Di rumah, Bryan masih memikirkan tentang berita yang ia baca tentang putra Haidar, Apakah itu masuk dalam pertimbangannya untuk menikahkan Belva dengan Haidar atau tidak. Di samping itu, Bryan juga belum siap jika harus hidup jauh dari Belva karena pernikahan ini. Ia benar-benar merasa khawatir jika Belva salah memilih karena terlalu tergesa-gesa.


"Ini terlalu cepat," ucap Bryan.


Zia yang sebelumnya sudah memejamkan mata membelakangi Bryan, Menoleh dan ikut duduk di samping Bryan.


"Mungkin ini juga yang di rasakan Papa saat Aku bersikeras ingin menikah dengan mu."


Mendengar itu Bryan menatap Zia dan tertawa merangkul pundak Zia ke sisinya.


Rasanya sudah begitu lama mereka tidak tertawa lepas seperti itu semenjak di culiknya salah satu bayi kembar mereka. Namun seketika senyum itu terhenti ketika tiba-tiba pintu terbuka.


Bhraakk...


Bryan dan Zia terkejut melihat Belva yang membuka pintu dengan kerasnya, Terlebih melihat kemarahan di wajah Belva membuat Bryan bergegas turun dan mendekatinya.


"Ada apa sayang..." Bryan menatap Belva dari ujung rambut hingga ujung kaki, Menyadari jika putrinya baru saja pergi.


"Apa kamu habis keluar?"


"Ya, Menemuinya!"

__ADS_1


"Dan kamu tidak meminta izin dari kami?"


"Apa kalau Aku minta izin, Papa dan Mama akan mengizinkannya?"


Bryan dan Zia terdiam. Mereka cukup terkejut melihat putri mereka membentak mereka untuk pertama kalinya.


"Tidak kan? Seperti kalian tidak merestui pernikahan ku dengan Haidar Papa dan Mama juga tidak pernah mengizinkan ku keluar malam!"


"Belva pelankan suaramu!" tegas Zia.


"Kenapa, Kenapa Aku harus memelankan suaraku jika suara lantang ku saja tidak kalian dengar?!"


"Kami selalu mendengarkan apapun yang kamu katakan, Tapi untuk masalah pernikahan kami harus mempertimbangkannya dengan matang kami tidak mau salah nengambil keputusan."


"Selalu saja itu yang menjadi alasan, Padahal Papa sendiri yang baru mengatakan kemarin jika Mama juga mengejar Papa satu tahun lebih muda daripada Aku, Tapi kenapa kalian tidak memahami perasaan ku?"


"Belva! Papa menunggu Mama mu sampai satu tahun lebih, Sampai Mama mu lulus sekolah, Sedangkan kamu, Kamu baru mengenalnya beberapa hari!"


"Lalu kenapa jika Aku mengenalnya beberapa hari, Bukankan kita tidak boleh menunda sesuatu yang baik?"


"Belva, Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh cinta mu, Kamu berrani melawan Papa dan Mama demi pria yang baru kamu kenal? Yang belum tentu baik untuk mu?"


"Terserah Papa mau bilang apa, Aku akan tetap menikah dengan Haidar baik dengan restu maupun tanpa restu dari Papa!"


"Belva... Belva..." Zia langsung berlari mengejar Belva yang berniat meninggalkan rumah. Begitupun dengan Bryan yang juga berusaha menghentikan Belva. Namun Belva terus menuruni anak tangga tanpa menghiraukan kedua orang tuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2