
Tidak tahan lagi dengan omelan Faraz, Bryan pun meninggalkan ruangan membawa serta amarahnya. Ia berniat meninggalkan rumah untuk menghindari pertengkarannya dengan Faraz. Akan tetapi Ziyan yang melihat hal tersebut segera mencegahnya.
"Jangan pergi Pa..."
"Biarkan Papa pergi Ziyan."
"Tidak Pa."
"Ziyan... Papa bilang biarkan Papa pergi!"
"Ziyan tidak akan membiarkan Papa pergi dengan kemarahan. Mama sedang sakit, Kalau terjadi sesuatu kepada Papa bagaimana dengan Mama, Bagaimana dengan Ziyan?"
"Ziyan menyingkirlah! Tidak akan ada yang terjadi pada Papa, Papa hanya ingin..."
"Papaaa..." teriak seseorang dari arah lain.
Bryan dan Ziyan pun menoleh secara bersamaan ke arah suar. Dan alangkah terkejutnya Bryan ketika melihat Belva ada di depannya.
"Belva..." lirih Bryan.
Masih belum hilang rasa terkejutnya, Belva tersenyum ceria dan berlari ke arahnya. Belva langsung memeluk Bryan yang masih terdiam bingung melihat kepulangan Belva yang seakan tidak terjadi masalah apapun antara mereka.
"Setelah semua kekacauan yang kamu ciptakan, Sekarang kamu pulang dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa?" tanya Ziyan kesal.
Dengan tenang Belva melepaskan pelukannya dan tertawa menatap Ziyan.
"Hay... Kak Ziyan? Kamu benar-benar terlihat tampan, Persis seperti Papa Bryan."
__ADS_1
Mendengar itu Ziyan merasa aneh dengan sikap Belva yang selama ini tidak pernah memujinya.
"Belva... Apa yang terjadi?" tanya Bryan membuat Belva kembali menatap dirinya.
"Apa?"
"Belva... Papa tau kamu marah sama Papa, Tapi jangan bersikap seperti ini, Kamu tidak bisa berpura-pura tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan mu seperti ini, Katakan apa yang terjadi? Apa Haidar membatalkan pernikahannya dengan mu?"
Belva langsung menangis dan kembali memeluk Papanya. Hanya tangis bersuara yang cukup keras seperti anak kecil, Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
Sementara dari arah lain, Faraz dan seluruh keluarga juga turut terkejut ketika melihat Belva yang telah kembali ke rumah.
Faraz yang sebelumnya menyalahkan Bryan atas perginya Belva bergegas menghampirinya.
"Belva, Kamu sudah kembali?"
"Akhirnya kamu kembali sayang, Bagaimana kabar mu, Mama mu sangat merindukan mu."
"Mama...?"
"Ya, Sejak kamu pergi Mama mu jatuh sakit, Sekarang Ayo kita lihat,
Dia pasti sangat bahagia melihat mu kembali." ujar Alia yang kemudian membimbing Belva ke atas untuk menemui Zia.
Bryan hanya diam menatap Belva yang menuju kamarnya bersama Alia. Kemudian pandangannya beralih kepada Faraz yang sedang menatapnya.
Masih merasa kesal dengan Faraz, Bryan pun kembali pergi menghindarinya.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan, Alia dan Belva yang telah sampai kamar mendekati Zia yang terus memejamkan mata dengan sisa air mata yang masih ada di ujung matanya. Alia pun duduk di tepi ranjang dan membangunkan Zia dengan mengusap kepalanya.
"Sayang..."
Satu kali panggilan, Zia tidak menjawab Mamanya seperti hari yang sudah-sudah, Ia seolah enggan membuka mata dan menerima kenyataan jika kedua putri kembarnya telah pergi meninggalkannya.
"Sayaaang... Buka mata mu nak, Lihat siapa yang datang."
Mendengar itu, Perlahan Zia membuka matanya.
Samar-samar ia melihat wajah putrinya di depannya. Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Zia pun berusaha bangkit untuk menatapnya dari jarak yang lebih dekat.
"Hati-hati Sayang," ucap Alia membantu Zia duduk.
Setelah melihat Belva dengan jelas, Zia pun menangis haru dan lngsung menarik tangan Belva ke pelukannya.
"Sayang... Kamu kembali..." tangis Zia memeluknya dengan erat. Namun tiba-tiba Zia terdiam dan melepaskan pelukannya.
Ia kembali menatap Belva mengamati setiap inci wajah putrinya. Kemudian kembali memeluknya dan merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Ia melakukan itu berkali-kali sehingga membuat Belva dan Alia bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Alia.
"Belvana..."
Alia yang mendengarnya merasa bingung dengan apa yang Zia katakan.
Bersambung...
__ADS_1