Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Mengganggu


__ADS_3

Setelah keputusan Bryan yang mengharuskan Haidar tinggal di rumahnya, Belva mengajak Haidar ke kamarnya, Kamar yang baru ia tempati beberapa hari setelah terusir dari kamarnya. Oleh sebab itu, Tidak banyak barang-barang Belva selain pakaian dan beberapa alat kecantikan di meja riasnya. Namun meskipun begitu kamar itu tidak kalah besar dari kamar Belva sebelumnya.


"Maafkan Aku, Aku belum mengisi kamar ini dengan banyak barang sehingga kamar ini masih terlihat kosong."


"Tidak masalah jika kamar ini kosong, Yang penting hatiku tidak lagi kosong," ucap Haidar yang langsung memeluk Belva dari belakang.


Mendengar itu Belva tersenyum dan memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Haidar yang tidak melepaskan kedua tangannya dari pinggang Belva.


"Kamu tidak keberatan tinggal bersama keluarga ku?"


"Kenapa keberatan? Asal Aku bisa terus bersama mu mau tinggal dimana pun Aku akan menjalaninya dengan senang hati."


"Kamu sudah bisa merayuku?" dengan manja, Belva mengalungkan kedua tangannya di leher Haidar. membuat tubuh keduanya kian rapat dan hanya menyisakan jarak beberapa centi untuk keduanya saling menatap menyelami dalamnya tatapan masing-masing. Ntah siapa yang memulai terlebih dahulu, Kini bibir keduanya telah terpaut satu sama lain.


Semakin lama tautan itu semakin meng*airahkan hingga tubuh Belva terdorong ke atas ranjang sehingga tautan itu terlepas. Namun itu hanya beberapa detik karena Haidar kembali melu mat bibir Belva dan sesekali merangsek masuk menye sap daging tak bertulang yang ada di dalamnya tertarik keluar. Membuat si empunya membulat sempurna dan kesulitan bernafas.


"Emmhhh... Emmmhh..." hanya suara itu yang sedikit terdengar dari sela-sela aksi Haidar yang begitu mengg airah kan, Serta tangan Belva yang memukul-mukul lengan Haidar meminta di lepaskan.


Mengerti apa yang Belva maksud, Haidar melepaskan esa* pan nya dan tersenyum memberi jeda sesaat untuk Belva bernafas. Setelah beberapa menit kemudian, Haidar kembali menc umbu Belva di bagian leher dan meninggalkan beberapa bekas merah di sana, Tangannya pun tak tinggal diam menyingkap dress yang Belva kenakan, Memainkan jari jemarinya sesuai nalurinya sehingga membuat Belva kembali menggeliat kesana-kemari seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


"King... Ahhh..." suara desa han Belva yang tak bisa lagi tertahankan membuat Bryan yang memang sengaja datang ke kamar Belva dapat mendengar suara itu cukup jelas. Membuat Bryan tidak dapat menahan diri untuk mengetuk pintu kamarnya.


"Bhraakk... Bhraakk... Bhraakk..."


Seketika Haidar dan Belva menghentikan aktivitas nya dan melihat ke arah pintu.


"Siapa?" pekik Belva.


"Papa, Buka pintunya sebentar." saut Bryan dari luar.


Haidar dan Belva saling menatap mendengar jika Bryan yang datang ke kamar mereka Setelah itu Belva mendorong tubuh Haidar dari atas tubuhnya dan beranjak dari tempat tidurnya sembari merapikan diri sekedarnya. Kemudian Belva melangkah membuka pintu dengan hanya sedikit menimbulkan kepalanya.


"A-e... Sedang apa kalian di dalam, Inikan masih sore, Kenapa kalian sudah masuk kamar, Kenapa tidak berbincang-bincang dulu di luar, Keluarga besar kan sedang berkumpul, Bukankah kamu juga sudah lama tidak bertemu Opa dan Oma?"


Belva menoleh ke arah jam dinding kamar yang memang masih menunjukkan jam tiga sore, Kemudian kembali melihat kearah Bryan yang masih menunggunya di luar.


"Papa baru tinggal sebentar ke kamar mandi, Kamu langsung pergi ke kamar, Ini pasti idenya Haidar kan? Dasar otak mesum." umpatnya kesal.


"Papa... Sejak pagi kita sudah berbincang, Jadi kami pikir Papa juga akan beristirahat, Seperti Oma dan Opa..."

__ADS_1


"Jangan samakan Papa dan Opa yang memang sudah tua dan harus banyak istirahat, Papa masih kuat untuk mengawasi mu 24jam, Kemana suami tua mu itu, Kenapa bersembunyi, Beginikah sikap di rumah mertua?"


Belva berdecak sebal dan membuka pintunya lebih lebar. Di saat bersamaan, Haidar juga melangkah mendekat ke arah pintu mengapa Papa mertuanya yang menatapnya penuh selidik.


Tidak menemukan apapun yang mencurigakan di dalam diri Haidar, Bryan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Belva, Ia mulai menelisik anggota tubuh yang ia curigai, Hingga netranya tertuju pada bekas merah di leher Belva yang Haidar buat di sana.


"Jadi tadi Aku tidak salah dengar, Si lelaki tua ini sedang melukis warna di kulit putriku." batin Bryan.


Melihat tatapan mata Papanya, Belva teringat atas apa yang tadi Haidar lakukan, Meskipun Belva sendiri belum melihat tanda itu, Namun Belva menjadi merasa tidak nyaman dan mencoba menutupi lehernya dengan rambut panjangnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" pertanyaan Haidar mencairkan suasana yang membeku. Meskipun Bryan merasa kesal dengan Haidar. Namun ia tidak menunjukkannya di depan Belva.


"E-ya, Ikutlah denganku, Aku perlu memberitahu beberapa peraturan di rumah ini."


Haidar mengangguk dan melangkah keluar melewati Belva yang masih berdiri di ambang pintu.


"Dan kamu Belva, Pergilah mandi, Jangan sampai kuman yang menempel di tubuh mu menyebarkan penyakit."


Belva yang mengerti apa yang Papanya maksud mencebikan bibirnya sembari menutup pintu dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2