
Melihat piring yang telah kosong Bryan merasa yakin jika yang ada dihadapannya bukanlah Belva. Hatinya menjadi dilema antara sedih dan penasaran siapa dia sebenarnya.
"Apakah Aku masih memiliki harapan jika yang ada di hadapan ku adalah Belvana seperti keyakinan Zia yang selama ini mengatakan jika ia tidak meninggal?" batin Bryan.
"Tapi jika dia bukan Belva, Dimana Belva sekarang, Apa dia jadi menikah dengan Haidar?" seketika lamunan Bryan buyar saat menyadari Belvana muntah-muntah.
"Belva..." Bryan memijit-mijit tengkuk lehernya untuk membantu Belvana. Ia menjadi sangat terkejut tatkala melihat bintik merah mulai bermunculan di tangannya.
"Jadi benar dia Belva?" batin Bryan yang kembali ragu jika dia bukanlah Belva. Setelah itu Bryan menawarkan Belvana untuk ke Dokter. Namun Belvana menolak dan hanya ingin beristirahat.
Bryan setuju dan membantunya berbaring ke ranjang. Dan pada saat Belvana membenarkan posisinya, Bryan melihat tahi lalat di leher belakang yang Zia bicarakan. Melihat lagi-lagi Bryan kembali ragu jika dia adalah Belva. Tidak ingin terus menerus berada dalam keraguan, Akhirnya Bryan memutuskan untuk mengambil rambut Belvana. Dengan pura-pura mengusap kepalanya, Bryan membelai rambut Belvana hingga beberapa helai rambut menyangkut di jemarinya.
"Aku akan melakukan tes DNA untuk memastikan siapa dia sebenarnya, Tidak peduli dia Belva atau bukan yang jelas Aku tahu dia putri ku atau bukan." batin Bryan menatap jemarinya.
"Papa..."
Melihat Belvana menoleh kearahnya Bryan pun kaget dan langsung menyembunyikan tangannya.
__ADS_1
"Papa kenapa?"
"E-tidak. Baiklah, Kamu beristirahatlah, Papa juga mau istirahat. Semoga cepat sembuh." Bryan bergegas keluar dan membuat Belvana menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
Sementara Belva tengah memikirkan cara agar Haidar tidak membawanya pergi, Ia bisa menerima siksaan apapun dari Haidar karena cintanya, Karena kesalahannya tapi tidak untuk tidur bersama laki-laki lain yang tidak ia kenal.
"Aku Belva Putri Isaac puteri dari Bryan Zacky Isaac dan cucu Faraz Shehzad Shaikh tidak mungkin tidur dengan laki-laki yang tidak ku kenal apalagi demi uang, Kekayaan Papa dan Opa bahkan bisa untuk membeli hotel yang King Haidar miliki." Belva mulai memberontak dengan apa yang akan Haidar lakukan. Ia berpikir untuk melarikan diri dari rumah Haidar. Namun baru saja ia membuka pintu kamarnya Haidar telah berdiri di sana.
Belva terdiam melihat Haidar menenteng paper bag yang menunjukkan merek pakaian ternama.
Haidar yang melihat itu pun langsung melemparkan kepada Belva hingga gaun merah yang berada di dalam paper bag tersebut jatuh ke kakinya. Belva pun mengambil gaun itu dan menjembrengnya.
"Pakailah, Itu gaun kesukaan mu kan?"
"Apa kamu pernah melihat ku dengan gaun murahan seperti ini?"
"Tidak usah sok alim di depan ku, Jika kenyataan kamu menghianati putraku dengan tidur bersama pria lain."
__ADS_1
"Sudah cukup Haidar! Sejak kita menikah kamu terus saja menuduhku dengan tuduhan-tuduhan yang sama sekali Aku tidak tahu, Sudah berapa kali Aku bilang Aku tidak pernah mengenal Haiden, Bagaimana mungkin Aku yang menyebabkan dia bunuh diri jika kenal saja tidak!"
Tanpa menjawab, Dengan kesal Haidar melangkah menuju lemari pakaiannya. Kemudian ia mengambil sesuatu di dalam lemarinya dan kembali ke depan Belva.
"Lihat! Apa ini bukan kamu?!" tanya Haidar menunjukkan foto di tangannya.
Belva melihat dengan seksama dan memang benar wajah itu persis dengan wajahnya. Namun Belva tidak merasa jika ia pernah memakai pakaian seperti yang dikenakan dalam foto itu.
"Apa kamu masih ingin menyangkal?!"
"Ya, Wajahnya memang seperti ku tapi...
"Tapi apa? Sudah cukup kamu mengulur waktu ku, Sekarang pergi dan ganti pakaian mu!" Haidar mendorong Belva ke kamar mandi dan menunggunya di depan pintu.
"Hukuman ini akan membuat mu tidak ingin lagi hidup di dunia ini." batin Haidar sembari menonjokkan tangannya ke dinding.
Bersambung...
__ADS_1
📌 Terkadang mau Update gak semangat, Karena update sekali maupun dua kali sehari tetap saja sepi gak ada yang komen, Apakah Novel ku kurang menarik? 😔