Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Memaksa


__ADS_3

Setelah Belvana pergi, Rina ingin meninggalkan tempat itu tapi langkah kakinya terhenti ketika Bryan tiba-tiba berdiri didepannya.


Rina sempat mengulas senyum ketika tidak melihat siapapun di belakang Bryan. Tapi beberapa menit kemudian senyumnya memudar ketika ia melihat beberapa anggota polisi datang mendekatinya.


Bryan menoleh ke belakang sesaat dan kembali menatap Rina yang terlihat panik. Bryan tersenyum karena akhirnya wanita yang telah memisahkan kedua bayi kembarnya akan segera di ringkus polisi.


Lebih dari itu, Bryan akhirnya dapat bernafas lega karena kini Belvana telah melihat wajah asli Rina yang di anggapnya sebagai ibu.


"Apa-apaan ini, Lepas!" ucap Rina memberontak ketika kedua tangannya di pegang polisi.


"Jangan melawan. Cepat ikut kami!"


"Atas tuduhan apa kalian menangkap ku, Aku tidak melakukan kejahatan apapun!" Rina masih berusaha memberontak namun polisi tetap memasukkan kedalam mobilnya.


Melihat polisi telah membawa Rina, Akhirnya Bryan dapat bernafas lega. Untung saja Bryan memergoki Belvana yang diam-diam keluar dari rumah sehingga Bryan membuntuti Belvana dan melaporkannya ke polisi atas kejahatan yang sudah Rina lakukan.


Tiga hari kemudian Belva kembali melanjutkan kuliah yang sudah lama ia tinggalkan. Ia ingin melupakan hari-hari pahit yang ia lalui ketika bersama Haidar. Bryan pun sangat senang karena akhirnya Belva mau berusaha melupakan Haidar dan menggunakan akal sehatnya dengan tidak hanya mengikuti perasaannya.


"Lalu bagaimana nasib pernikahannya?" tanya Zia.


Bryan yang sedang bersiap kembali meletakkan tasnya.

__ADS_1


Setelah berpikir beberapa menit Bryan menemukan jawaban atas pertanyaan Zia.


"Kita tidak tahu pernikahan itu tercatat di negara atau tidak, Ataukah pernikahan itu hanya pernikahan siri atau hanya sekedar akal-akalan Haidar untuk membuat Belva terikat. Tapi apapun itu untuk sementara ini biarkan saja, Belva sudah mau kembali kuliah jadi biarkan dia fokus kuliah dan bertemu dengan banyak orang, Siapa tahu kan dia jatuh cinta dengan yang lain."


Zia tersenyum dan tidak yakin akan hal itu.


"Apa yang membuat mu tersenyum?"


"Dulu kita juga pernah berada di posisi sekarang, Tapi kita kembali bersama."


"Apa maksud mu kamu berpikir bahwa Belva dan Haidar akan kembali bersama?"


"Aku tidak tahu, Tapi bagaimana jika itu terjadi, Apa Babe siap menerimanya?"


Sepulang kuliah Belva yang tidak boleh lagi mengendarai mobil sendiri menoleh kesana-kemari mencari supirnya. Karena tidak melihat supirnya datang, Belva pun berniat menghubunginya. Namun baru mencari nama supir di kontaknya tiba-tiba tangan Belva di tarik dan di masukkan kedalam mobil.


"Kau!" ucap Belva yang terkejut melihat Haidar yang melakukan itu.


"Maafkan Aku, Tapi Aku harus melakukan ini agar Aku bisa bicara dengan mu."


"Tidak akan!" Belva bergegas membuka pintu mobil namun Haidar kembali menutupnya dan mencengkeram kuat pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Belva ku mohon, Selama tiga hari Aku terus berusaha meminta maaf kepada mu berdiri di depan rumah mu dari pagi sampai malam, Baik Hujan ataupun panas Aku tidak peduli, Tapi kamu sedikitpun tidak memiliki merasa iba kepada ku."


"Rasa iba? Untuk apa, Apa kamu merasa iba saat Aku memohon agar kamu tidak meninggalkan ku bersama pria-pria itu?"


Mendengar itu Haidar menundukkan kepala. Hal itu juga yang membuat penyesalan terdalam di hatinya.


Melihat Haidar yang sudah merenggangkan cengkramannya, Belva kembali membuka pintu membuat Haidar tersentak dan kembali menariknya.


"Jangan pergi..." ucapnya memelas.


Tapi Belva tidak peduli dan kembali ingin turun dari mobilnya.


Terlebih Belva telah melihat supirnya datang, Membuat Belva berteriak memanggil namanya.


"Belva percuma kamu berteriak, Tidak ada yang bisa mendengar suara mu."


"Benarkah, Kalau begitu akan ku pecahkan kacanya agar semua orang tau kalau kamu ingin menculik ku." Belva mencari sesuatu untuk memecahkan kaca mobilnya. Namun ia menjadi begitu terkejut ketika Haidar tiba-tiba menyambar bibirnya.


Belva hanya terdiam membulatkan kedua matanya lebar-lebar.


Seketika hatinya berdebar kencang merasakan bibirnya mereka menyatu untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2