Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Merayu


__ADS_3

Melihat Bryan semakin marah karena Belva menutup ponselnya sebelum ia selesai bicara, Belvana tersenyum jahat, Karena akhirnya rencananya menjauhkan Belva dari Bryan berhasil. Namun senyum itu di lihat oleh Ziyan yang langsung mendekati Belvana.


"Apa ini rencana mu?" tanya Ziyan berbisik.


"E-Apa maksud kak Ziyan?"


"Aku dapat melihat senyuman jahat di wajah mu. Asal kamu tahu, Sekalipun Belva keluar rumah secara diam-diam di tengah malam, Dia tidak pernah berbuat macam-macam, Aku Belva juga sering melakukan hal yang sama, Tapi kami saling melindungi satu sama lain, Tidak pernah mengadu dan membuat Papa marah seperti ini!"


Mendengar Ziyan membela Belva, Belvana kembali merasa kesal pada Belva, Ia tidak ingin satu orang pun berpihak kepada Belva. Karena menurutnya sudah cukup yang Belva dapatkan selama ini, Dan kini gilirannya.


•••


Belva yang terdiam kaget membiarkan wajahnya menempel di dada Haidar, Merasakan detakan jantung Haidar yang terdengar begitu cepat. Tidak adanya jarak diantara keduanya, Seolah meruntuhkan pertahanan Belva dan ingin mengakhiri kemarahannya saat itu juga, Terlebih saat Haidar membelai lembut punggungnya, Mengecup kepalanya dan memperlakukan dirinya seperti yang selama ini Belva inginkan, Membuat Belva tidak bisa lagi menahan diri untuk membalas pelukan Haidar.


"King..." air mata Belva jatuh membasahi kemeja yang Haidar kenakan, Perasaan haru, Ragu dan sedih menjadi satu. Tapi saat ini Belva hanya ingin mengikuti apa yang kini di rasakan.


"Maafkan Aku..." ucap Haidar.


"Kamu sudah sering kali meminta maaf."


"Tapi kamu belum sekalipun memaafkan ku."

__ADS_1


"Aku tidak perlu mengatakan."


"Baiklah Aku tidak akan memaksa mu. Oh ya, Apa kamu lapar?"


"Tidak."


"Baiklah kalau begitu beristirahatlah, Aku tidur di kamar sebelah, Jika kamu perlu sesuatu kamu bisa memanggil ku, Atau katakan saja kepada pelayan."


Belva hanya diam saja dan hanya melihat Haidar mengambil pakaian ganti dan membawanya keluar.


Setelah Haidar keluar, Belva membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Belva mencoba memejamkan mata.Tapi baru beberapa menit terpejam, Belva kembali membuka matanya. Hatinya kembali merasa gelisah ketika ingatan saat Haidar menyiksanya kembali datang. Belva pun segera melempar selimutnya dan bergegas keluar.


Setelah berpikir beberapa menit akhirnya Belva memutuskan kembali ke kamar.


Keesokan harinya, Belva membuka matanya, Samar-samar ia melihat Haidar datang membawa nampan berisi makanan. Semakin lama semakin mendekat dan semakin jelas terlihat jika ia benar-benar melihat Haidar, Tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi.


Dengan senyum mengembang, Haidar meletakkan nampan itu dan mengusap kepala Belva kemudian menciumnya.


"Selamat pagi..." ucapnya lembut.


Belva hanya menyunggingkan senyum tipis dan menatap Haidar seolah tak percaya apa yang Haidar lakukan padanya.

__ADS_1


"Aku membawa sarapan kesukaan mu," ucap Haidar tersenyum.


"Darimana kamu tahu Aku suka roti panggang daging mozarella?"


"Aku sudah mempelajari semua tentang mu, Apa makanan kesukaan mu, Minuman favorit mu, Hobi mu, Warna kesukaan mu, Ukuran baju mu bahkan pakaian dalam mu Aku telah mengetahuinya."


"Haidar kau...!!!"


"Oh..." Haidar menutup mulutnya seolah baru sadar dengan apa yang ia ucapkan.


"Darimana kamu mengetahui itu semua?"


"Saat kamu berada jauh dariku, Aku sangat merindukan mu, Aku berusaha datang secara baik-baik kepada mu, Kepada orang tua mu, Tapi kalian tidak memberiku kesempatan, Karena itu Aku hanya bisa memandangi mu dari kejauhan, Mengikuti segala kegiatan mu, Mencari tau apapun tentang dirimu, Dan pada malam harinya Aku hanya bisa memeluk pakaian mu yang tertinggal di sini. Disitulah Aku melihat ukuran apa yang kamu kenakan." Haidar tertawa mengakhiri ceritanya.


Melihat Belva yang masih diam saja, Haidar mulai memasang wajah serius. Ia meraih kedua tangan Belva dan mengusap-usap jemarinya.


"Entah sejak kapan ini terjadi, Tapi perlu kamu tahu, Aku mencintaimu. Aku benar-benar merasakan itu ketika kamu berada jauh darimu, Aku selau terbayang tawa ceria mu, Sikap kekanak-kanakan mu dan bagaimana agresifnya kamu saat pertama jatuh cinta kepada ku, Aku merindukan itu semua Belva, Kembalilah seperti dulu."


Belva menarik nafas dalam-dalam mendengar apa yang Haidar katakan. Meskipun di hati kecilnya sangat bahagia karena akhirnya Haidar membalas cintanya, Tapi hatinya masih terluka dengan apa yang sudah Haidar lakukan kepadanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2