
Di tempat lain, Haidar yang telah menyelesaikan akad nikahnya, Bergegas masuk menuju kamarnya. Dengan kedua tangan mengepal serta rahang mengeras Ia menendang pintu kamar dengan kasarnya hingga membuat Belva yang berada di dalam terlonjak dari duduknya.
Belva berdiri menatap tegang wajah tampan yang membuatnya tergila-gila kini berubah menjadi sangat menakutkan. Melihat Haidar melangkah maju, Belva yang merasa takut melangkah mundur hingga menabrak dinding.
"Apa kamu pikir bisa membatalkan pernikahan ini sebelum Aku membalas apa yang sudah kamu lakukan pada putra ku!?" dengan penuh amarah Haidar mencengkeram kuat lengan Belva dan menghempasnya ke ranjang.
"Aowhhh...." Belva meringis kesakitan. Di dalam ketakutannya, Belva merasa bingung dengan apa yang Haidar katakan.
Tak peduli dengan ketakutan Belva, Haidar membungkukkan setengah badannya dan menaikan satu kakinya di sisi kanan tubuh Belva. Kemudian tanpa belas kasih Haidar mencengkeram wajah Belva hingga tubuh gadis itu terangkat dan hanya menyisakan beberapa centi dari wajahnya.
Dengan air mata yang mulai mengalir di sudut matanya Belva hanya bisa menatap Haidar dengan penuh kebingungan. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang Haidar katakan.
"Kamu telah membuat putraku tiada, Maka bersiaplah kamu menjalani hari-hari mu seperti di neraka!" Haidar kembali menghempas tubuh Belva hingga tubuhnya melambung dari ranjang empuknya.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan." tangis Belva.
"Jangan berpura-pura polos di hadapan ku, Aku bukanlah Haiden yang bisa kamu tipu dengan wajah cantik mu!"
__ADS_1
"Haiden? Siapa Haiden."
"Cukup Belva!" Haidar kembali mencengkeram kuat wajah Belva hingga bibir mungilnya mengerucut.
Untuk sesaat Haidar terdiam melihat itu. Namun segera ia memalingkan pandangannya dan kembali melepaskan cengkeramannya.
"Malam ini malam pertama kita, Jadi Aku akan membiarkan mu beristirahat. Tapi bersiaplah untuk malam-malam yang akan datang, Karena Aku akan membuat mu mati perlahan." setelah mengatakan itu, Haidar keluar dari kamar. Meninggalkan Belva yang masih terdiam dalam kebingungan. Di dalam kebingungannya itu tak sengaja netranya melihat ke sebuah bingkai foto yang terletak di atas nakas. Belva pun bergegas mengambilnya dan melihat foto itu. Foto yang memperlihatkan Haidar dengan pria muda berusia sekitar 20th. Mengingatkan Belva tentang artikel yang ia baca setelah mengetahui nama Haidar.
"King Haidar pulang ke Indonesia untuk mengelola hotel yang sebelumnya di tangani putranya..." Belva kembali mengingat artikel itu. Namun ia tidak membaca baris berikutnya dan langsung melihat biodata lengkap Haidar.
Belva terdiam dan berpikir apa yang baru saja Haidar katakan. Beberapa menit kemudian Belva membulatkan kedua matanya dan menutup mulutnya.
"Apa jangan-jangan... Ini anaknya King Haidar yang tadi ia bicarakan?"
"Oh ya ampun Belva... Kamu bodoh sekali, Kenapa tidak membaca artikel itu dengan lengkap." sesal Belva.
Karena rasa sesalnya, Belva pun mengingat Papanya yang berusaha berbicara dengannya ketika ia pulang. Namun saat itu dirinya langsung marah dan tidak mau mendengar apa yang Papanya ingin bicarakan.
__ADS_1
"Apa Papa saat itu Papa akan membahas ini?"
"Oh ya ampun Belva... Kenapa kamu begitu tergesa-gesa, Sekarang apa yang bisa kamu lakukan?" Belva terduduk lesu menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
•••
Sementara Belvana yang kini menggantikan posisi Belva di rumahnya bergegas membuka pintu ketika pintu kamarnya terus di ketuk.
"Sayang... Papa dengar ada yang pecah?" belum juga Bryan mendapat jawaban, Netranya tertuju pada bingkai foto yang pecah di lantai. Bryan pun bergegas masuk dan mengambil foto itu.
"Bagaimana ini bisa pecah?"
"A-e... A-aku tidak sengaja menyenggolnya."
Melihat kegugupannya Bryan melihat jemari Belva yang terlihat saling memainkan kuku antara jemari kanan dan jemari kirinya. Membuat Bryan merasakan keanehan dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1