
Sesampainya di kamar, Belva langsung mengambil ponselnya dan menulis pesan untuk Haidar tentang hasil pembicaraannya dengan kedua orang tuanya.
"Hai King... Aku sudah bicara dengan kedua orang tua ku, Tapi Papa bilang ingin bertemu dengan mu terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah Papa akan memberikan restunya atau tidak."
Begitulah bunyi pesan yang Belva kirimkan kepada Haidar.
Dengan perasaan resah, Belva menunggu balasan dari Haidar.
Ia terus menatap layar ponselnya hingga tidak bisa tidur. Namun satu hingga dua jam berlalu Haidar tidak juga membalas pesannya.
Hingga akhirnya Belva pun tertidur dengan menggenggam ponselnya.
Pagi harinya Belva terkejut ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ia yang langsung mengingat jika pesannya belum di balas langsung mencari ponselnya. Ia menemukan ponsel yang semula berada di genggamannya kini berada di ujung ranjangnya.
"Belva..."
"Ya Ma..." teriak Belva sambil membuka pesan. Berharap pesannya telah di baca. Namun lagi-lagi Belva di buat kecewa karena pesannya tidak juga di balas.
"kemana King Haidar itu," ucap Belva sedih.
"Belva... Papa sudah menunggu mu."
"Ya Ma..." pekik Belva yang terpaksa meninggalkan ponselnya dengan rasa gundah di hatinya.
"Kamu baru bangun? Cuci muka mu dan turun. Papa dan Ziyan udah menunggu mu untuk sarapan."
Belva mengangguk dan kembali masuk ke dalam untuk membasuh wajahnya. Setelah itu ia turun dan melihat seluruh keluarga susah berkumpul di meja makan.
"Pagi Sayang..."
"Pagi Papa..."
"Pagi anak Papa..." goda Ziyan.
"Pagi anak Mama." balas Belva.
"Sudah-sudah jangan bercanda Mulu, Cepat mulai sarapannya," ucap Zia.
Mereka pun memulai sarapan bersama dengan tenang.
Melihat Belva yang hampir menghabiskan sarapannya, Bryan pun menanyakan tentang permintaannya tadi malam.
__ADS_1
"Bagaimana Sayang, Jadi kesini jam berapa?"
Ziyan yang tidak mengetahui apa yang Papa nya bicarakan serius mendengarkan. Sementara Belva bingung harus menjawab apa karena hingga pagi ini Haidar belum membalas pesannya.
"Sayang... Kok diem aja? Apa kamu berubah pikiran?"
"T-tidak... Aku tidak berubah pikiran, Dia akan datang."
"Siapa dia?" tanya Ziyan menyela pembicaraan.
"Mau tau aja." saut Belva yang langsung bangkit dari duduknya.
"Sayang mau kemana, Bukankah hari ini kamu libur?"
"Ada urusan."
"Tapi Papa belum selesai bicara... Jam berapa pria itu akan kemari?"
Belva tidak menghiraukan pertanyaan Papa nya karena ia ingin buru-buru ke rumah Haidar, Mencari tahu kenapa dia tidak membalas pesannya.
Sementara Ziyan yang masih bingung semakin merasa penasaran dengan pria yang Papanya bicarakan.
"Pria idaman Belva, Belva bilang ingin menikah, Entahlah."
"Hah! Menikah? Belva masih kecil Pa, Ziyan aja belum mikirin pernikahan, Mama kenapa diam saja?"
"Bagaimana Mama mu bisa bicara apa lagi melarang putrinya, Saat usianya 17th saja sudah ngejar-ngejar Papa yang usianya hampir dua kali lipat darinya."
Mendengar itu Ziyan tertawa menatap Mamanya. Membuat Zia memerah dan meninggalkan meja makan.
"Hey Sayang... Apa kamu marah?" tanya Bryan menyusulnya.
Ziyan hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Kemudian mengambil ponsel di sakunya dan menceritakan apa yang baru Papanya bilang kepada Opa Faraz.
•••
Belva yang telah sampai di rumah Haidar langsung di sambut oleh penjaga keamanan. Dengan ramah penjaga keamanan mempersilahkan masuk dan mengatakan jika Tuan nya sudah menunggu kedatangannya.
Belva pun langsung menuju kamar sesuai perintah asisten rumah tangga yang mengantarnya ke atas. Begitu kamar di buka, Belva melihat Haidar yang tengah berbaring di bawah selimut dan hanya memperlihatkan kepalanya.
"Kamu datang?" tanya Haidar dengan suara berat tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Melihat itu Belva bergegas mendekati Haidar.
"Apa kamu sakit?"
"Aku hanya merasa demam." saut Haidar.
"Sejak kapan, Bukankah semalam kamu terlihat baik-baik saja?"
"Kamu tidak percaya? Coba kamu pegang ini?" Haidar menarik tangan Belva untuk menyentuh lehernya. Namun Belva yang duduk terlalu jauh darinya membuat tubuh Belva jatuh di atas Haidar.
"Hah! pekik Belva.
Posisi wajah mereka yang begitu dekat membuat keduanya terdiam menatap satu sama lain.
"Gila dari jarak dekat begini pun dia masih terlihat sangat tampan." batin Belva.
"Apa kamu merasakan sesuatu?"
"A-a-apa?"
"Aku merasakan jantung mu berdebar dengan sangat cepat."
Mendengar itu Belva langsung mengalihkan pandangannya dan berusaha bangkit dari atas tubuh Haidar. Namun Haidar menahan kedua pergelangan tangannya hingga Belva kembali jatuh di atasnya.
"Apa kamu merasa khawatir jika Aku sakit?"
"Tadinya iya, Tapi sekarang tidak, Sepertinya kamu hanya pura-pura sakit."
Mendengar itu Haidar tertawa dan melepaskan Belva. Kemudian ia membuka selimutnya dan duduk menatap Belva.
"Kenapa kamu melakukan ini, Bukannya membalas pesan ku tapi kamu malah pura-pura sakit seperti ini?"
"Karena Aku ingin tahu apa kamu meragukan ku atau tidak, Apa kamu khawatir ketika melihatku terbaring sakit atau tidak, Dan Aku sudah melihat keduanya, Sekarang bersiaplah kita berangkat ke rumah mu."
"Benarkah?"
"Aku yang ingin menikahi mu secepatnya, Masa Aku hanya bercanda."
Mendengar itu Belva bersorak kegirangan dan langsung memeluk Haidar serta memberinya kecupan di pipinya. Membuat pria matang itu hanya menatap heran Belva yang sama sekali tidak ada rasa malu-malunya meskipun ia sudah sering menasehatinya.
Bersambung...
__ADS_1