
Melihat kemarahan Haidar, Leli sama sekali tidak merasa gentar.
Leli ikut berdiri dan mengeluarkan bukti-bukti yang telah di siapkan.
"Sudah ku duga, Anda pasti tidak akan percaya begitu saja, Maka dari itu Aku sudah menyiapkan ini semua." ujar Leli sembari meletakkan bukti-bukti itu di meja.
Haidar melirik map coklat itu. Seakan takut untuk membukanya. Hatinya merasa tidak siap jika apa yang dikatakan Leli adalah sebuah kebenaran. Namun rasa penasarannya membuat Haidar memutuskan untuk membukanya.
Bukti pertama ia melihat hasil tes DNA dari rumah sakit yang menunjukkan akurasi 99,9 persen jika Bachri adalah Ayah biologis Haiden. Membuat Haidar seketika mengingat bagaimana ia menyambut kelahirannya dengan penuh suka cita, Mengajarinya bicara, Berjalan, Bermain bersama hingga tumbuh kembang menjadi anak yang cerdas dan mandiri. Karena itu juga setelah Haidar melihat dengan mata kepala sendiri jika istrinya tidur dengan laki-laki lain, Haidar tidak pernah lagi pulang ke Indonesia dan mempercayakan bisnisnya kepada Haiden. Baru setelah mendengar kabar kematian putranya Ia kembali dan menetap di Jakarta dengan tujuan membalaskan dendam atas kematiannya.
#Flashback
Setelah pemakaman Haiden selesai dan orang-orang meninggalkan pemakaman, Haidar masih tak beranjak dari sana. Haidar menatap batu nisan Haiden dengan tetesan air mata yang tidak bisa di bendung. Haidar merasa sangat menyesal karena permasalahannya dengan istrinya membuat ia jarang pulang untuk menemuinya.
Bahkan terakhir kali mereka bertemu setahun lalu ketika Haiden yang datang ke Kanada untuk menemuinya.
Haidar menundukkan kepala, Memijit pelipisnya seakan ingin mengulang waktu agar ia bisa mendampingi putranya meskipun dirinya tidak lagi bisa tinggal satu atap bersama istrinya. Dan di tengah kesedihan itu, Haidar tersentak mendengar tangisan seseorang wanita. Ia pun mengangkat kepalanya dan melihat Rina menangis sejadi-jadinya memeluk makam Haiden.
"Haiden... Maafin Bibi, Jika Bibi melarang mu sejak awal ini semua tidak akan terjadi..."
Mendengar itu Haidar terperanjat dan langsung mendekati Rina.
__ADS_1
"Apa maksud perkataan mu?"
"A-e... Bukan apa-apa Tuan,"
"Katakan yang sebenarnya atau Aku akan menyeret mu ke kantor polisi!"
"Se-sebenarnya Den Haiden mengakhiri hidupnya bukan karena perceraian Tuan dan Nyonya, Melainkan ia merasa patah hati karena cintanya di khianati."
"Katakan dengan jelas!"
"Ya, Seperti halnya Tuan, Den Haiden juga melihat kekasihnya tidur bersama pria lain. Karena cinta, Den Haiden tetap memaafkannya dan menerimanya kembali. Tapi lagi-lagi wanita itu kembali berselingkuh dengan pria yang berada dan melakukan hal yang serupa. Den Haiden yang sudah benar-benar patah hati berhari-hari mengurung diri di kamar hingga pada akhirnya, Tubuhnya di temukan gantung diri di kamarnya." Rina kembali menangis sejadi-jadinya.
Mendengar penderitaan putranya karena seorang wanita. Haidar mengepalkan kedua tangannya. Rina yang melihat itu di sela akting tangisnya tersenyum dalam hatinya. "Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya Aku akan segera membalaskan dendamnya kepada Zia dan keluarganya.
"A-e... Aku akan mengirimkan fotonya ke nomor Tuan."
Begitu foto itu sampai, Haidar membukanya dan melihat beberapa foto wanita yang memiliki wajah serupa dengan Belva tengah memeluk erat Haiden.
Tidak juga melihat reaksi yang Haidar tunjukkan, Rina kembali meracuni pikiran Haidar dengan berbagai macam fitnah yang tidak pernah wanita itu lakukan. Membuat Haidar semakin tambah marah.
"Siapa dia sampai berrrani menjalin cinta dengan putra ku!?"
__ADS_1
"Dia bukan orang sembarangan, Dia adalah putri sekaligus cucu dari salah satu orang terkaya di Indonesia, Maka dari itu dia bisa melakukan ini kepada Den Haiden."
"Tidak peduli siapa dia, Aku akan membalasnya demi putra ku!"
Mendengar itu Rina tersenyum jahat karena ia tidak perlu mengotori tangannya untuk membalaskan dendamnya.
"Namanya Belva Putri Isaac, Puteri dari Bryan Zacky Isaac, Cucu dari Faraz Shehzad Shaikh."
Haidar menatap Rina dengan tatapan tegasnya, Membuat Rina sedikit gugup karena Haidar tidak menanyakan nama mereka.
"E... Sejak kecil Aku sudah mengasuh Den Haiden, Tuan jarang berada di Indonesia, Sementara Nyonya selalu sibuk dengan kegiatannya, Jadi Den Haiden selalu menceritakan apapun kepada saya, Hanya pada saat-saat terakhirnya saja Den Haiden tidak mau berbicara dengan siapapun termasuk saya."
Melihat Rina sedih, Haidar menganggukkan kepalanya dan berterimakasih karena telah merawat putranya sejak bayi. Haidar juga berterimakasih karena telah memberitahu penyebab Haiden mengakhiri hidupnya dengan bukti chat yang Rina tulis sendiri melalui ponsel Haiden yang di kirimkan ke nomor nya.
#Flashback End
Mengingat itu semua Haidar masih tak percaya dengan apa yang Leli katakan. Namun Leli kembali memberikan bukti jika Belva memiliki saudara kembar yang ia culik untuk kepentingan Rina yang ingin membalas dendamnya kepada Zia.
"Sebelumnya Rina membesarkan Belvana untuk memeras kekayaan mereka, Namun pada saat Den Haiden mengakhiri hidupnya Rina jadi memiliki ide untuk mendapatkan keduanya melalui kekuatan yang Anda miliki, Ya itu menghancurkan keluarganya dan memiliki hartanya melalui Belvana."
Haidar termangu menatap foto Belva saat bayi bersama bayi lainnya yang memang memiliki wajah serupa. Di foto itu Bryan dan Zia masing-masing menggendong Belva dan Belvana menjadi bukti kuat jika memang Belva memiliki saudara kembar yang baru Haidar ketahui.
__ADS_1
Bersambung...