Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Pertemuan Si Kembar


__ADS_3

Dengan susah payah, Haidar bangkit dan mendekati orang-orang suruhannya yang masih terkapar di tanah. Haidar mencengkeram salah satu dari mereka dan menariknya hingga berdiri.


"Bangun! Buka matamu!" hardik Haidar.


Samar-samar pria itu menatap Haidar yang wajahnya telah di penuhi darah.


"Siapa yang menyuruhmu bertindak lebih dari apa yang Aku perintahkan! Bukankah Aku hanya menyuruh kalian untuk menakut-nakuti nya seolah kalian telah membayarnya kepadaku?"


"Maaf Tuan, Saya juga sudah melakukan sesuai apa yang Tuan perintahkan, Tapi Baron yang sudah terlalu mabuk mencoba menyentuh Non Belva sehingga Non Belva memberontak dengan melemparkan botol kepada kami, Kami tidak punya pilihan untuk membuat Non Belva diam, Tapi dia terlalu licin sehingga dia berhasil melarikan diri dari kami."


Mendengar apa yang orang suruhannya katakan, Haidar terdiam memikirkan hubungan yang sudah terlanjur terjalin dalam beberapa hari ini. Entah kenapa hatinya khawatir jika Belva tidak akan pernah memaafkannya.


•••


Menjelang dini hari, Akhirnya Bryan dan Belva sampai di rumah.


Zia yang menunggu kedatangan Bryan sejak beberapa jam lalu langsung berlari keluar begitu mendengar suara mobil Bryan datang.


Zia langsung memeluk Bryan karena merasa sangat khawatir Bryan tidak bisa di hubungi.


"Kenapa baru pulang?" tanya Zia.

__ADS_1


Belum sempat Bryan memberikan jawabannya, Bryan melihat Zia yang terperangah ketika melihat Belva yang juga turun dari mobil, Karena sepengetahuan Zia, Dirinya hanya pergi seorang diri.


"Mas..." ucap Zia bingung.


"B-bukankah Belva sedang tidur di kamarnya, Lalu..." tidak menunggu jawaban dari Bryan, Zia langsung berlari kedalam untuk memastikan Belva tengah tidur di kamarnya.


Ckleekkk...


Zia terdiam menatap Belvana yang tengah tidur pulas di kamarnya. Membuat Zia merasa bingung siapa yang datang bersama Bryan. Masih merasa itu hanyalah halusinasinya Zia mencoba menepis dari dalam pikirannya.


"Ini pasti hanya halusinasi ku yang sangat berharap Belvana masih hidup." batin Zia yang kemudian kembali keluar. Namun baru saja ia berbalik badan, Zia melihat Bryan dan Belva sudah berdiri di depannya. Kemudian ia kembali menoleh kebelakang menatap Belvana, Dan kembali melihat kearah Belva.


"Mas mereka?"


"M-maksud Mas?"


"Belva dan Belvana."


Zia yang mendengarnya hampir tak percaya, Tangannya langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar. Begitupun dengan Belva yang melihat saudara kembarnya tengah berbaring di ranjang kamar yang sebelumnya menjadi kamarnya.


"B-bagaimana ini bisa terjadi, Aku tidak sedang bermimpi kan?"

__ADS_1


Bryan tersenyum dan mencubit pipi Zia hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Sakit kan?"


Zia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap-usap pipinya.


"Kamu sedang tidak bermimpi sayang, Kedua putri kita telah kembali."


Zia menatap Belva yang berdiri di belakang Bryan. Mengamati dia itu Belva atau Belvana. Kemudian Zia mendekat dan memegang wajahnya.


"Belva?"


Belva mengangguk-angguk haru dan memeluk Zia. Air matanya tak bisa lagi ia tahan mengingat bagaimana saat dirinya meninggalkan rumah.


"Maafin Belva Ma..."


"Tidak papa Sayang, Cinta terkadang mengalahkan akal sehat kita."


Belvana yang sayup-sayup mendengar seseorang berbicara, Perlahan membuka matanya dan melihat kedua orang tuanya berdiri di depan pintu. Penasaran apa yang sedang meka lakukan, Belvana pun duduk dan memanggil Zia.


"Mama..."

__ADS_1


Mendengar itu, Zia melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya Belvana ketika melihat Belva juga berada di tengah-tengah mereka.


Bersambung...


__ADS_2