
Haidar yang semula hanya menempelkan bibirnya kini mulai membuka mulut Belva dengan ujung lidahnya, Merangsek masuk dan menjelajahi setiap inci rongga mulutnya, Tangannya mencengkeram kuat kedua sisi wajah Belva dan sedikit mengangkat rahangnya untuk memperdalam ci*umannya.
Belva yang sudah terbawa ga*rah menikmati setiap sapuan lidah Haidar. Namun itu hanya beberapa menit karena Belva kembali tersadar dan mendorong Haidar menjauh darinya. Namun Haidar yang telah di kuasai ga*rah kembali melu*at bibir Belva dengan ganas. Tidak itu saja, Haidar juga menurunkan sedikit kursinya untuk membuat pergerakannya lebih leluasanya.
"Lepaskan Aku Haidar! Apa kamu mau memperkosa ku?" tanya Belva ketika Haidar mengungkung tubuhnya.
"Kamu adalah istriku, Aku berhak atas dirimu sekalipun kamu tidak setuju." saut Haidar sembari terus menci'umi Belva.
"Kamu tidak bisa memaksa ku, Lep-paass!!!" meskipun bibirnya menolak dan tangannya mencoba memberontak tapi tubuhnya menerima setiap sentuhan yang Haidar berikan. Belva merasakan desiran aneh mengalir dalam tubuhnya. Bahkan miliknya juga terasa sudah basah seakan membuktikan bahwa dirinya juga menginginkan hal yang lebih dari yang Haidar berikan.
Haidar yang sudah cukup berpengalaman dapat melihat semua itu. Membuat ia dapat sedikit tersenyum dan mengecupnya dari luar celananya. Kemudian ia kembali naik ke atas dan menci'um kedua pipi Belva.
__ADS_1
"Maafkan Aku..."
Bisikan Haidar di telinganya membuat Belva membuka mata seolah di jatuhkan begitu saja dari ketinggian.
"Jangan pernah menemuiku lagi!" tegas Belva membuka pintu mobilnya dengan perasaan yang lebih kesal dari sebelumnya.
Namun Haidar malah tersenyum dan membiarkan Belva keluar dari mobilnya.
Dari dalam mobil, Haidar terus menatap Belva yang sesekali melihat kearah mobilnya dengan kesal. Namun hal itu justru membuat Haidar percaya bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Belva.
Sesampainya di rumah, Belva melihat Belvana tengah berada di tengah-tengah keluarga besarnya. Memang sejak Belvana mengetahui kebenaran tentang Rina, Belvana lebih sering menikmati kebersamaan dengan keluarganya. Terutama Zia yang memang hanya berfokus menjadi ibu rumah tangga. Namun meskipun Ia telah menerima seluruh keluarga besarnya, Belvana masih setengah hati menerima Belva yang di anggapnya telah mengambil seluruh perhatian dan hak yang harusnya terbagi kepada dirinya. Seperti saat ini, Belvana yang melihat kedatangan Belva langsung tiduran di pangkuan Zia dengan kaki di atas pangkuan Bryan.
__ADS_1
Bryan pun tanpa memprotes memijit kaki Belvana dan tak menyadari kepulangan Belva.
Merasa di abaikan oleh semua orang, Belva melangkah melewati mereka dan langsung naik keatas tanpa menyapa mereka.
Bryan yang melihat Belva, Menyapanya seperti biasa. Namun Belva hanya menatapnya sinis dan kembali melangkahkan kakinya.
Merasa Belva marah padanya, Bryan segera menurunkan kaki Belvana dan berniat mengejarnya. Akan tetapi Belvana menarik tangan Bryan dan memintanya tetap di sisinya. Memikirkan Belvana yang selama ini merasa kehilangan perhatian darinya, Bryan pun memilih untuk kembali duduk dan menatap Belva yang juga menatapnya. Hal itu semakin membuat Belva merasa tersisih dan merindukan sosok Papa yang selalu ada disisinya setiap saat seperti dahulu.
"Sejak kecil Aku selalu berangan-angan jika memiliki suami kelak, Akan mendapatkan suami seperti Papa, Karena pada saat Papa tidak ada di sisiku, Aku masih punya suami untuk bersandar, Yang menyayangiku dengan tulus dan pengertian seperti yang Papa lakukan kepada ku, Tapi apa dayaku, Haidar yang ku anggap bisa menjadi suami seperti papa, Justru menyiksa fisik dan mental ku."
Belva terus bergumam dalam hatinya. Namun di dalam bergulatan hati dan pikirannya, Tubuhnya kembali berdesir ketika mengingat apa yang Haidar lakukan padanya.
__ADS_1
"Sssshhh.... Aku benci dengan pikiran ku." Belva merutuki dirinya sendiri yang tidak juga melupakan Haidar meskipun ia selalu mengingat perbuatan jahat yang sudah Haidar lakukan kepadanya.
Bersambung...