Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
First


__ADS_3

Setelah selesai mengatasi Belvana, Bryan teringat akan Belva yang seharusnya pulang sejak sore. Namun hingga malam hari ia belum juga melihat Belva pulang. Untuk memastikan itu, Bryan keluar untuk menemui supirnya. Namun penjaga keamanan mengatakan jika mereka belum pulang.


Bryan pun kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Belva. Namun berkali-kali Bryan mencobanya, Belva tidak juga mengangkatnya. Tidak merasa putus asa, Bryan terus mencoba menelpon Belva tak terhitung banyaknya.


"Akhhh... Ponsel ku terus berdering," ucap Belva di sela-sela aktivitas fisik nya bersama Haidar.


"Biarkan saja Sayang, Bagaimana jika itu Papa mu dia pasti akan langsung mengetahui apa yang sedang kita lakukan."


Belva menutup mulutnya merasakan rasa sakit yang kini berganti menjadi nikmat tak terlukiskan. Kematangan dan pengalaman Haidar benar-benar membuat Belva melayang tinggi hingga lupa jika tujuan awal ia ke rumah Haidar untuk meminta Haidar mengganti pakaian dan ikut ke rumah mengambil hati Papa nya.


"Hhhhh.... Hhhhh..." Haidar mengakhiri permainan dengan memeluk erat tubuh Belva yang ada di atasnya. Keduanya saling mengatur nafas yang tak beraturan setelah memainkan berbagai macam posisi yang belum pernah Belva tahu sebelumnya. Membuat gadis remaja itu semakin mabuk akan Haidar yang sejak pandangan pertama menjadi obsesinya.


Sementara Bryan yang tidak mendapat jawaban dari Belva meskipun telah berulang-ulang kali menelpon, Akhirnya menghubungi supirnya.


"Kalian dimana!?" teriak Bryan yang langsung memekakkan telinga sang supir yang baru menempelkan ponselnya di telinga.


"A-e... Saya... E-maksudnya kami sedang..."

__ADS_1


"Katakan dengan jelas dan jangan berrani berbohong apalagi menyembunyikan sesuatu dariku!"


"E-m-maafkan saya Tuan, Non Belva ingin di antar ke rumah suaminya."


"Apa!?"


"E-ya Tuan."


"Bukankah Aku sudah bilang, Jemput dia dan langsung bawa pulang ke rumah, Rapi kenapa kamu berrani mengantar dia ke sana?"


"K-katanya cuma sebentar Tuan."


Mendengar ponselnya kembali berdering Belva yang sempat ketiduran dengan posisi yang belum berubah mengangkat kepalanya dan melihat kesana kemari mencari ponselnya.


Melihat gerakan Belva, Haidar yang juga ikut tertidur, Terbangun melihat Belva yang masih terlihat ngantuk dan lemas meraih ponselnya.


"Hallo..." saut Belva malas.

__ADS_1


"Hallo Non, Kira-kira masih kama nggak, Ini Tuan sudah marah-marah katanya Non Belva harus pulang sekarang."


"Bentar lagi badanku sakit semua, Rasanya gak bisa jalan." saut Belva yang langsung menutup ponselnya.


Mendengar itu, Sang supir membuka mulutnya hingga berbentuk O, Bahkan pikirannya langsung traveling jauh mengingat apa yang mereka lakukan di dalam mobil.


"Jika di mobil ada saya aja berani, Gimana kalau berdua di dalam kamar mereka..." baru saja selesai membatin ponselnya kembali berdering hingga membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya.


"A-h-hallo Tuan..."


"Bagaimana apa kamy sudah bisa menghubunginya?"


"S-sudah Tuan tapi katanya Non Belva badannya sakit-sakit dan tidak bisa berjalan."


"Apa!?" Bryan yang mendengar itu langsung berpikir apa yang baru saja putri kesayangannya dan Haidar lakukan. Tapi disaat bersamaan juga ia mengingat bagaimana ia membawa Zia keluar rumah menjauh dari Papa mertuanya yang selalu menggagalkan malam pertama mereka.


"Oh... Benarkah putriku tidak suci lagi? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana duda tua itu meng gagahi putriku." batin Bryan yang merengek di dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2