Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Curiga


__ADS_3

Setelah Belvana meminta izin untuk masuk terlebih dahulu, Tak lama kemudian Bryan menyusul Belvana. Ia bukan tidak curiga dengan gerak-gerik Belvana, Tapi dia ingin menyelidiki sendiri supaya Zia tidak terus memikirkan salah satu dari putri mereka.


Dengan membawakan makanan Bryan mengetuk pintu kamarnya.


"Tok... Tok... Tok..."


Begitu pintu terbuka Bryan tersenyum sembari menunjukkan makanan yang ia bawa.


"Papa..."


"Hallo Sayang, Lihat Papa bawa untuk mu."


"Cumi saus tiram pedas." lanjut Bryan dengan antusias.


Melihat itu Belvana tersenyum masam mengingat dulu saat Rina memberinya makanan serupa membuat seluruh badannya gatal-gatal.


"Kok diam saja, Bukankah ini makanan favorit mu?"


"E-ya itu memang makanan favorit ku, Tapi sejak Aku gagal menikah, Jadi tidak berselera makan apapun."


Bryan terdiam dan semakin merasa curiga dengan jawaban Belvana. Karena yang sebenarnya adalah Belva sama sekali tidak menyukai berbagai macam masakan dari cumi.


"Baiklah Papa bawa lagi."

__ADS_1


"Papa..." melihat wajah kecewa yang Bryan tampilkan ntah kenapa Belvana merasa tidak tega sehingga ia meminta nampan yang Bryan bawa.


"Biar Belva makan."


"Tidak Sayang, Kamu sedang tidak berselera."


"Tadi Aku tidak berselera, Tapi sekarang Aku sangat ingin memakannya." Belvana langsung mengambil nampan itu dari tangan Bryan dan membawanya masuk. Ia langsung meletakkan di meja dan melirik Bryan yang masih berdiri di depan pintu. Ragu-ragu Belvana menyendok cumi tersebut dan berharap Bryan pergi setelah ia memakannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Bryan kembali masuk dan duduk di depannya seolah menunggu dirinya menghabiskan makanannya.


"Ayo di makan..."


Belvana mengangguk dan memaksakan senyumnya. Kemudian dengan terpaksa Belvana mulai memakannya, Ia mengunyah secara perlahan merasakan enaknya masakan itu di dalam mulutnya, Tidak seperti saat ia makan pemberian Rina. Karena merasa enak Belvana pun terus memakannya hingga habis. Membuat Bryan semakin yakin jika dia bukanlah Belva. Karena jika dia Belva sedikit saja yang masuk ke mulutnya, Maka akan langsung muntah-muntah.


•••


Semula Belva tidak keberatan dan berniat membawa gaun itu ke kamar mandi. Namun Haidar mencegah dan meminta Belva ganti di hadapannya.


Meskipun merasa canggung Belva yang merasa sudah resmi menjadi istri Haidar mulai membuka pakaiannya. Namun belum sempat ia memakai gaun itu, Belva tercengang dengan apa yang Haidar katakan.


"Cepat sedikit, Seseorang sudah menunggu mu, Jadi jangan sampai kamu membuatnya menunggu terlalu lama."


"M-maksudnya?"


"Apa? Apa kamu pikir Aku meminta mu menggunakan gaun ini untuk menghabiskan malam dengan ku? Jangan bermimpi, Aku memang menikahi tapi jangan harap Aku mau menyentuh wanita kotor seperti mu!"

__ADS_1


Seketika Belva mematung, Ia masih tidak mengerti apa yang Haidar bicarakan sejak malam pernikahan mereka, Balas dendam, Kematian putranya, Dan tuduhan-tuduhan lainnya yang begitu menyakitkan hati.


"Kamu masih diam saja?" Haidar menarik gaun itu berniat ingin membuat Belva segera memakainya. Akan tetapi gaun itu justru robek sehingga menampakkan pakaian dalam yang Belva kenakan.


Kondisi itupun membuat Haidar canggung dan langsung membalikkan badan membelakangi Belva. Sementara Belva nampak cuek sembari memungut pakaian yang sebelumnya ia kenakan.


"Apa kamu takut tergoda?" tanya Belva datar.


"Kamu terlalu percaya diri, Aku hanya tidak sudi melihat tubuh mu yang menjijikkan itu."


"Kamu bilang tidak sudi dan menjijikkan, Tapi kenapa kamu tidak mengizinkan ku mengganti pakaian di kamar mandi?"


"Aku hanya...." merasa di skakmat, Haidar kembali menunjukkan wajah garanganya.


"Kamu lihat gaun ini, Kamu telah membuat gaun ini robek! Sekarang bagaimana kamu akan menemuinya?"


"Siapa yang harus ku temui, Kenapa begitu penting?"


"Seseorang yang akan membayar mu untuk menemani tidurnya."


Mendengar hal tersebut Belva tercengang sekaligus tak percaya dengan apa yang Haidar katakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2