Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Efek Menguping


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Bryan langsung memeluk Zia yang sudah tidur. Menci'umi bahunya, Tengkuknya sembari tangannya bergerak aktif menjelajahi tubuh sang istri. Bryan benar-benar terbakar gair'ah setelah mendengar apa yang Belva dan Haidar tengah lakukan di kamar mandi.


Zia yang mulai merasakan sentuhan Bryan menggeliat dan mulai membuka matanya, Ia menoleh ke belakang dan langsung di sambut lum atan oleh Bryan sebelum Zia sempat bicara sepatah katapun.


Kemudian Bryan menarik pinggang Zia sehingga posisi tubuhnya kini berhadapan dengannya.


"Eummhhh... Hhhhh..." Zia menggenggam erat lengan Bryan dan sesekali memukulnya karena ia tidak dapat bernafas.


Menyadari hal itu, Bryan melepaskan Zia, Membiarkannya bernafas beberapa saat dan kembali melu mtanya.


"Mmm... Babe!!!" Zia kembali memukul dada Bryan sehingga Bryan kembali melepaskannya.


"Ada apa dengan mu, Kenapa brutal sekali?" protes Zia.


Mendengar itu Bryan terdiam mengingat desa han yang ia dengar di kamar Belva.


"Babe... Ditanya kok malah bengong?"


"Aku... Sebenarnya..."


"Apa?"


Bryan menggaruk-garuk kepalanya dan mendekati telinga Zia untuk membisikan alasannya kenapa ia begitu berga*irah.


"Apa! Bisa-bisanya menguping anak sendiri." dengan kesal Zia memukul-mukul Bryan menggunakan bantal.


"Yang penting kan gak pengen ama anak sendiri." ujar Bryan sembari melindungi diri dengan satu tangannya.


"Babeee... sudah tua juga, Gak tau malu!"


"Hey apa kamu meragukan kekuatan ku?" Bryan langsung menjatuhkan Zia dan menekan kedua pergelangan tangannya dengan kedua lutut mengungkung tubuh Zia.


"Kita memang sudah tua dan kita sudah lama tidak melakukan ini karena banyaknya masalah yang terjadi, Tapi Aku bisa jamin permainan ku masih bisa membuat mu menjerit seperti dulu."


Mendengar kata-kata Bryan, Susah payah Zia menelan salivanya. Mengingat bagaimana saat hari-hari mereka di penuhi dengan penuh gair*ah bercinta.

__ADS_1


Melihat Zia terdiam pasrah, Bryan pun membuktikan kata-katanya membuat Zia menjerit menikmati setiap permainan yang Bryan lakukan.


•••


Pagi harinya Haidar turun ke ruang makan dan hanya melihat Ziyan ada di sana. Ia pun duduk bergabung dengan Ziyan yang sudah hampir menyelesaikan sarapannya.


"Kemana yang lain?" tanya Haidar sembari mengambil dua lembar roti tawar dan meletakkan ke piringnya.


"Belum pada bangun kali." saut Ziyan dengan santainya.


"Om Haidar sendiri kok cuma sendirian, Kemana Belva?"


"Belva lagi mandi, Ini Om mau bawain sarapan untuknya."


"Manja banget, Kenapa gak suruh sarapan di sini?"


"Gak papa sesekali, Lagian mumpung Papa dan Mama gak ada," ucap Haidar tertawa.


"Udah dulu ya, Om mau antar ini dulu ke kamar."


Melihat Belva mengenakkan dress yang baru ia belikan kemarin, Haidar tersenyum bahagia menyambut Belva yang terlihat semakin cantik di matanya.


"Kamu sangat cantik." puji Haidar.


Belva mengangguk bahagia dan langsung ingin memeluk Haidar sehingga nampan yang Haidar bawa hampir terjatuh.


"Oh... Maaf."


"Kamu tidak lihat Aku membawa ini untuk mu?" tanya Haidar merasakan perasaan aneh dalam hatinya.


"Aku terlalu bahagia sehingga Aku tidak melihatnya."


"Ya, Baiklah... Ayo kita sarapan di kamar."


"Tidak!"

__ADS_1


"Tidak?"


"A-mm... M-maksud ku, Kita sarapan di bawah saja, Papa pasti marah kalau kita sarapan di kamar."


"Bukankah tadi kamu yang ingin sarapan di kamar?"


"A-e... Ya, Tapi... Tapi setelah Aku pikir-pikir lebih baik kita sarapan di bawah sama-sama Ama Papa Mama dan Jak Ziyan."


"Papa dan Mama tidak ada, Ziyan juga sudah sarapan, Sekarang giliran kita, Ayo kita ke kamar nanti Aku kesiangan ke kantor."


"A-e... Haidar... E... King..."


Haidar kembali menoleh ke belakang menatap Belva penuh selidik. Hatinya benar-benar merasa curiga Apakah dia benar-benar Belva, Atau Belvana, Haidar membatin. Kemudian Haidar kembali mendekati Belva dan menarik pergelangan tangannya, Menuntunnya masuk ke kamar tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Sekarang makanlah," ucap Haidar yang langsung melangkah tanpa duduk menemani.


"Kamu mau kemana?"


Haidar semakin merasa curiga dengan sikap Belva yang terlihat begitu mencurigakan.


"Aku mau mengambil dasi ku, Aku harus bersiap ke kantor."


"Oh..." Belva merasa tenang dan mulai menggigit roti tawarnya.


Netranya sembari melihat kesana-kemari seperti menghawatirkan sesuatu. Hal itu pun di sadari oleh Haidar yang kemudian sayup-sayup mendengar suara seseorang meminta tolong di barengi dengan ketukan pintu.


Melihat Haidar berjalan menuju kamar mandi, Belva langsung beranjak menghalangi jalannya.


"Tadi kamu bilang mau berangkat ke kantor, Ini sudah siang jangan sampai kamu terlambat."


Belum sempat Haidar menjawab, Mereka di kejutkan oleh kedatangan Bryan.


"Haidar, Belva... Apa yang sedang kalian lakukan, Kemarilah ada hal penting yang harus Papa bicarakan."


Haidar dan Belva mengangguk dan duduk di depan Bryan yang langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Bukan itu saja, Bryan juga menyampaikan alasan dan juga maafnya karena memaksakan mereka tetap tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2