Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Sesal


__ADS_3

"Jadi Papa mencurigai ku?"


Mendengar itu, Bryan dan Haidar saling menatap bingung. Membuat Belva menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya kesana-kemari.


"Tunggu..." Bryan mendekati Belva untuk memastikan siapa sebenarnya yang ada di depannya. Namun belum sempat Bryan melakukannya. Mereka kembali di kagetkan oleh suara seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi.


Menyadari hal tersebut, Haidar langsung berlari menuju kamar mandi, Diikuti oleh Bryan yang menjadi sangat khawatir.


"Belva apa kamu di dalam?" teriak Haidar berusaha membuka pintunya. Namun pintu itu terkunci sehingga Haidar menggedor-gedor untuk memastikan jika Belva berada di dalam.


"Sayang... Apa kamu di dalam?" tanya Bryan menempelkan telinganya di daun pintu. Tidak mendapatkan jawaban, Bryan mendekati Belva dan menariknya dengan kasar. Kemudian Bryan menyingkap rambutnya untuk memastikan dengan melihat tanda lahirnya.


"Jadi benar kamu Belvana?!" dengan kesal Bryan melepaskan cengkeramannya sehingga Belvana terdorong beberapa langkah hingga nyaris terjatuh.


"Berraninya kamu melakukan ini pada saudara kembar mu!"Hardik Bryan lagi.


"Dimana kamu sembunyikan kunci pintu kamar mandinya?"


Belum sempat Belvana menjawab, Haidar yang sudah tidak sabar telah berhasil mendobrak pintu kamar mandi sehingga membuat Bryan dan Belvana menoleh ke kamar mandi. Bahkan bukan mereka saja, Zia dan juga Ziyan yang mendengar keributan datang dan melihat Belva yang duduk bersandar di dinding dengan lemas.


"Belvaaa!" triak Haidar yang langsung membopong tubuh Belva dan membawanya keluar. Kemudian Haidar membaringkannya di ranjang dan seluruh keluarga mendekatinya dengan cemas.

__ADS_1


"Belva-belva..." ucap Haidar menepuk-nepuk pipinya.


"Belva..." ucap Zia dan Ziyan yang begitu menghawatirkan Belva.


Melihat keadaan Belva yang hanya merespon lirih, Bryan menarik tangan Belvana keluar dari kamar. Kemudian Bryan menghempaskan dengan kasar hingga membuat Belvana terpelanting beberapa langkah dan menabrak Faraz yang baru saja datang.


"Apa-apaan ini?" tanya Faraz sembari menangkap tubuh Belvana.


"Bryan ada apa, Kenapa kasar sekali?" tanya Alia.


"Belvana sudah benar-benar keterlaluan, Aku tidak bisa lagi sabar menghadapinya."


"Apa yang terjadi, Apa yang membuatmu begitu marah?" tanya Alia lagi.


"Apa!?" semua orang terkejut mendengarnya tak terkecuali Zia dan Ziyan yang keluar kamar mendengar kebenaran yang Bryan katakan.


"Tapi apa alasannya?" tanya Faraz yang masih tak percaya.


"Apa lagi, Dia ingin memiliki apa yang Belva miliki, Sebelum ini ia datang menyamar sebagai Belva, Kemudian merebut kamarnya dan semua isinya, Merebut kasih sayang kami hanya untuk dirinya saja dengan alasan Belva sudah cukup merasakan kasih sayang kami sejak masih bayi, Dan sekarang... Sekarang dia ingin merebut sesuatu yang paling Belva cintai..."


Semua orang tercengang tak bisa berkata-kata seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

__ADS_1


"Ya, Dia baru saja berusaha merebut Haidar dengan berpura-pura menjadi Belva, Menggunakan pakaiannya, Parfum nya berdandan seperti Belva kemudian mengurung Belva di kamar mandi, Dia benar-benar telah di didik menjadi jahat, Bahkan Aku sampai tidak percaya jika dia adalah putri ku!"


"Babe!" teriak Zia.


Semua orang menatap Zia yang mendekati Bryan dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah cukup kamu meluapkan kekesalan mu pada Belvana. Kamu bisa mengatakan apapun tapi jangan pernah mengatakan dia bukan putri kita."


Suasana pun menjadi hening, Tidak ada satupun yang menjawab ucapan Zia termasuk Bryan.


Dengan lembut, Zia menggenggam jemari Belvana dan mengajaknya pergi meninggalkan semua orang.


Mengingat kondisi Belva, Bryan kembali masuk kedalam. Di ikuti oleh Faraz dan lainnya.


Didalam kamar Belva terlihat sudah lebih baik di dalam pelukan Haidar. Melihat itu Bryan merasa tenang dan tidak lagi merasa kesal dengan Haidar.


"Papa..." ucap Belva melepaskan pelukan Haidar begitu melihat Bryan.


"Sayang... Bryan memeluk Belva dengan sedih. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah menyepelekan kekhawatiran Belva tentang Belvana.


"Maafin Papa Sayang... Maafin Papa..." sesal Bryan.

__ADS_1


Bersambung...


📌 Terimakasih untuk semua yang sudah setia dan suport terus, maaf kalau gak bisa blz satu persatu komentar kalian, tapi komentar kalian sangat membuatku semangat. 😘❤️


__ADS_2