
Langkah Belva terhenti ketika menabrak Ziyan yang baru masuk. Membuat tubuh kecilnya terdorong mundur beberapa langkah dan menabrak Bryan.
"Ada apa nih?" tanya Ziyan melihat ketegangan di wajah keluarganya.
"Ziyan, Nasehati adik mu agar tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah." tegas Bryan.
"Belva kamu masih bersikeras menikah, Tidak ingin mengenal lebih jauh terlebih dahulu seperti yang Kakak katakan?"
"Tidak! Haidar hanya memberiku kesempatan hari ini, Jika tidak Aku tidak akan bertemu lagi dengan nya."
"Apakah menurut mu itu tidak mencurigakan? Tidak ada laki-laki baik yang asal-asalan dalam menikahi wanitanya, Terlebih ia belum mendapat restu dari orang tuanya, Berpikirlah secara jernih Belva, Papa sangat menyayangi mu bagaimana jika kamu memiliki suami yang tidak seperti Papa menyayangimu?"
Belva terdiam sejenak mendengar apa yang Ziyan katakan. Namun ia kembali teringat akan kata-kata Haidar yang mengatakan mungkin ini malam terakhir mereka bertemu dan hari esok belum tentu mereka bisa bertemu lagi. karena mengingat hal itu, Belva kembali melangkah keluar tanpa menghiraukan seluruh keluarganya.
"Belva.... Belva mau kemana sayang..." teriak Zia mengejar Belva keluar.
"Belva berhenti!" teriak Bryan.
__ADS_1
Belva kembali menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Ia benar-benar merasa kaget karena untuk pertama kalinya Bryan memanggilnya dengan suara membentak.
Bryan pun melangkah ke hadapan Belva dengan kesal. Ia tidak tahu bagaimana lagi cara memberi pengertian jika ia bukan tidak mau memberikannya restu. Hanya saja ia butuh waktu untuk memutuskannya.
"Kenapa kamu begitu tidak sabar Belva, Papa hanya butuh waktu untuk memutuskan ini. Bahkan kita belum membahas tentang putra Haidar yang..."
"Tidak perlu, Belva tahu kok, Haidar juga kembali ke Indonesia karena putranya."
"Papa tidak habis pikir pada mu Belva, Apa yang Haidar lakukan kepada mu sehingga kamu berubah begitu cepat dan tidak mau mendengarkan nasehat Papa?"
"Belva apa kamu mau menggurui Papa?" tanya Ziyan menyela pembicaraan.
"Kamu bicara seolah-olah paling taat dalam agama, Selama ini kamu juga berteman bebas dengan laki-laki. Dan lihatlah pakaian mu apakah itu mencerminkan ajaran kita?"
Seketika Belva terdiam, Ucapan Ziyan benar-benar terasa menampar wajahnya. Apalagi saat menginat bagaimana agresifnya dia yang langsung menci'um Haidar padahal saat itu ia baru mengenalnya beberapa hari. Namun egonya yang terlalu tinggi membuat Belva tidak mau mengakui kesalahannya.
"Sekali lagi Papa tanya padamu, Apa kamu ingin tetap pergi demi pria itu, Atau menunggu keputusan Papa dalam beberapa hari."
__ADS_1
"Menunggu keputusan Papa dalam beberapa hari yang belum tentu Papa memberikan restu, Sama saja memberi kesempatan untuk Haidar pergi meninggalkan ku."
Bryan terhenyak mendengar jawaban dari Belva. Bahkan pada saat Belva melangkah melewatinya, Bryan hanya terpatung seolah tak mempercayai jika putri yang begitu ia sayangi lebih memilih pergi.
Melihat Bryan yang seolah sudah menyerah dan Belva yang benar-benar mau pergi, Zia menjadi panik. Ia kembali berusaha menghentikan Belva dengan menarik-narik tangannya.
"Belva.... Belva... Jangan tinggalkan Mama sayang... Mas... Hentikan Belva, Kita sudah kehilangan Belvana Aku tidak bisa jika harus kehilangan Belva juga." Zia terus menangis diantara Bryan dan juga Belva. Namun baik Bryan maupun Belva tetap teguh dengan pendiriannya masing-masing.
Ziyan yang tidak tega melihat Mamanya menamgis bergegas menghentikan Belva yang akan masuk ke mobilnya.
"Belva...!!! Tidak bisakah kamu melihat air mata Mama?!"
"Ziyan.. Biarkan dia pergi!" tegas Bryan.
Mendengar itu bukan hanya Ziyan dan Zia yang terkejut, Belva pun merasa sangat terkejut karena Bryan lebih memilih dirinya pergi daripada harus memberikan restunya.
Bersambung...
__ADS_1