Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Teratasi


__ADS_3

Menjelang pagi, Sayup-sayup Haidar yang mendengar suara orang menggigil, Membuka selimut yang menutupi kepalanya. Mengingat Belva yang tidur di luar, Haidar langsung bangkit dan bergegas ke balkon. Begitu ia membuka pintu suara rintihan itu semakin jelas terdengar. Haidar pun bergegas mendekati Belva dan memeriksa keadaannya.


"Badannya panas sekali," ucap Haidar yang langsung mengangkat tubuh Belva dan membawanya ke dalam. Kemudian membaringkannya di ranjang, Menyelimutinya dan mematikan pendingin ruangan. Melihat Belva yang terus meracau tak karuan, Haidar pun ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Lalu mengambil handuk kecil dan mulai mengompres Belva.


Disela-sela Haidar mengompresnya, Haidar terpaku menatap wajah Belva. Di sudut hatinya menyangkal jika wajah polosnya mampu berbuat sesuatu yang membuat putranya mengakhiri hidupnya. Tapi fakta yang ia lihat menyatakan jika wajah yang ada dihadapannya telah menyebabkan putranya meninggal. Mengingat hal itu, Haidar kembali marah. Ia langsung meninggalkan Belva dan berbaring di sofa.


Keesokan harinya Bryan yang melewati kamar Belva, Mengingat apa yang Zia katakan. Karena hal itu. Bryan pun berbalik arah dan mengetuk kamar Belva. Cukup lama Bryan menunggu sampai pintu di buka.


Setelah pintu di buka, Bryan mematung melihat Belva yang mengenakan piama berlengan pendek sehingga ia tidak dapat melihat tahi lalat secara langsung.


Melihat tatapan mata Bryan yang tidak biasa padanya, Belvana melihat dirinya sendiri dan menjadi canggung.

__ADS_1


"E-ada apa, Kenapa Papa menatapku seperti itu?"


"Tidak Papa hanya ingin memeluk mu." Bryan langsung memeluk Belvana. Merasa tidak nyaman dengan pelukan itu, Belvana mencoba melepaskan diri. Namun Bryan tidak membiarkan itu. Bryan semakin mempererat pelukannya dan menyibak rambutnya untuk melihat tahi lalat yang Zia katakan. Akan tetapi Bryan kesulitan karena piama yang Belvana kenakan begitu pas di badannya.


Merasa ada yang aneh, Belvana mendorong Bryan sehingga pelukannya terlepas. Bryan yang tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari Belva semakin yakin jika yang ada di hadapannya bukanlah Belva.


Menyadari sikapnya yang mungkin akan membuat Bryan curiga, Belvana pun mendekati Bryan dan meminta maaf.


Mendengar alasan Belvana, Bryan kembali merasa ragu.


"Mungkin benar juga yang di katakan Belva. Karena kegagalan pernikahannya dia merasa kacau sehingga perilakunya berubah. Lagi pula jika bukan Belva, Siapa lagi, Belvana sudah lama tiada, Tidak mungkin ia kembali lagi." Bryan terus bergumam dalam hati dan kembali memeluk Belvana yang kali ini membalas pelukannya.

__ADS_1


Mendapat pelukan dari hangat dari Bryan, Belva yang selama ini tidak mendapat kasih sayang dari Ayah merasakan kenyamanan yang luar biasa. Ia semakin mempererat pelukannya seperti apa yang Belva lakukan. Hal itu membuat Bryan tersenyum dan yakin jika dia adalah Belva. Dan kecurigaannya tidak beralasan.


Sementara Belva yang mendapati dirinya sudah berada di atas ranjang terlonjak bingung mengingat semalam ia tidur di balkon.


ia memegangi kedua ujung keningnya mengingat bagaimana ia bisa berada di atas ranjang. Samar-samar ia mengingat Haidar menggendongnya masuk. Mengingat itu, Belva pun mengalihkan pandangannya ke arah sofa dan melihat Haidar masih tidur di sana.


Melihat itu, Belva tersenyum bahagia. Ia yang jika sebenarnya Haidar orang yang baik dan tidak tega membuatnya menderita. "Lagipula apa salah ku sampai dia ingin balas dendam padaku? Dari kemarin dia selalu mengatakan Aku yang menyebabkan anaknya bunuh diri, Bagaimana mungkin, Aku kenal Haiden saja tidak" Belva terus membatin dan mulai memiliki ide untuk mengatasi ini.


Ia turun dari ranjang dan mendekati Haidar, Kemudian berlutut tepat di depannya dan tersenyum menatap wajah tampan suaminya.


"Kamu ingin balas dendam padaku kan? Lakukan saja kalau bisa karena Aku akan membuat kebencian mu berubah menjadi rasa cinta, Bucin sebucin-bucinnya. Lihat saja nanti." Belva tersenyum yakin hingga senyum itu memudar ketika Haidar membuka matanya saat ia tengah mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2