
Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Bryan menyuapi makan Zia yang sudah semakin membaik. Sebenarnya Bryan ingin membicarakan tentang perasaan anehnya ketika melihat gerak-gerik Belva yang tidak seperti biasanya. Namun Bryan khawatir jika kesehatan Zia kembali menurun mendengar apa yang ia utarakan.
"Ada apa?" tanya Zia yang rupanya melihat keresahan Bryan.
"A-e... Tidak."
"Katakan, Sejak tadi Aku perhatikan kamu terlihat resah?"
"Aku hanya..." Bryan menjeda ucapannya.
"E-Oh ya, Sejak kemarin kamu belum bertemu lagi dengan Belva kan, Biar Aku panggilkan." Bryan bergegas bangkit namun Zia langsung menghentikan Bryan dengan memegang tangannya.
"Ada apa?" tanya Bryan yang kembali duduk.
"Entah kenapa saat kemarin Aku memeluk Belva, Aku merasa dia bukan Belva."
__ADS_1
"Rupanya benar Zia juga merasakan seperti yang ku rasakan, Berarti kemarin Zia tidak sedang berhalusinasi." batin Bryan.
"Di bagian leher belakang Belva tidak ada tahi lalatnya kan?"
"Tidak." saut Bryan cepat.
"Tapi saat kemarin Aku memeluknya, Aku melihat ada tahi lalat di bagian bawah leher belakangnya."
Tidak ingin Zia terlalu banyak berpikir untuk sesuatu yang tidak pasti, Bryan hanya tersenyum dan mengingatkan Zia untuk tidak berpikir sesuatu yang tidak mungkin.
"Ini mungkin saja Mas." Zia bersikeras dengan keyakinannya. Tapi Bryan terus meyakinkan Zia jika yang di rumahnya adalah Belva. Dan tidak mungkin Belvana yang sudah di buang ke sungai belasan tahun lalu.
"Ingat mereka tidak menginginkan mu, Mereka telah membuang mu dan menjadikan saudara kembar mu bak ratu di rumah itu, Sekarang sudah saatnya kamu merebut semua itu, Jangan membuat kesalahan karena rasa gugup mu itu!" setelah berbicara demikian Seorang perempuan menutup sambungan telponnya dengan senyum jahat.
Ia yang kini berdiri di jembatan sungai yang sama di mana Belvana di nyatakan meninggal karena hanyut terbawa sungai menatap jauh ke depan. Mengingat 18th lalu ia menyaksikan dari kejauhan tatkala Leli membuang selimut yang berisi boneka setelah menukar Belvana di dalam taksi online yang ia naiki.
__ADS_1
"Akhirnya... Waktu ku telah tiba."
"Bryan Sayang... Maafkan Aku jika Aku memisahkan mu dari salah satu putri mu, Tapi istri mu Zia telah mempermalukan ku dan memisahkan ku dari mu." wanita itu mengusap foto Bryan dan mengingat bagaimana ketika dirinya menarik tubuh Bryan ke atasnya. Ia pun tersenyum memejamkan mengingat momen itu. Mengingat aroma tubuh Bryan yang sangat memabukkan. Namun seketika itu juga senyumnya memudar ketika mengingat apa yang Zia lakukan kepadanya.
"Kamu masih berani menatap suami ku seperti itu?!"
"Rina! Apa yang ada dalam pikiran mu, Kenapa kamu senekat itu hingga mengabaikan harga diri mu?!"
"Berrrani sekali kau mencintai suamiku!"
"Perasaan yang kau miliki itu hanyalah naf'su! Bukan cinta!"
Kata-kata itu hingga kini masih begitu menusuk telinganya.
Mendarah daging dalam hatinya. Ya, Wanita itu adalah Rina. Mantan Asisten rumah tangga yang pernah menggoda Bryan hingga dirinya di usir dan di permalukan di depan warga. Rupanya dendam itu masih berlanjut hingga kini. Rina masih tidak terima apa yang sudah Zia dan keluarganya lakukan sehingga ia selalu mengawasi gerak-gerik Zia dan sekitar rumahnya. Dan di saat Zia membutuhkan seorang baby sitter, Rina memasukkan di yayasan yang Zia akan datangi. Sesuai rencana Leli yang merupakan sepupu yang di asuh oleh ibu Rina terpilih oleh Zia untuk menjadi baby sitter Belvana. Dan selama Leli bekerja, Mereka telah menyusun rencana dengan matang sehingga eksekusi mereka tidak mengalami kegagalan. Benar saja, Rencana mereka yang matang berhasil memisahkan Belvana dari keluarganya dan membuat anak dan orang tua menderita dengan kondisinya masing-masing.
__ADS_1
"Kini saatnya kalian membayar apa yang telah kalian perbuat kepada ku. Dulu kalian mempermalukan ku di depan umum, Sekarang Aku akan membalasnya melalui putri kandung kalian yang telah ku racuni pikirannya dengan kebencian yang tidak akan bisa kalian bayangkan!"
Bersambung...