
Bryan tidak mengatakan peraturan apapun kepada Haidar seperti apa yang ia katakan di depan Belva. Karena sebenarnya Bryan tidak memiliki peraturan apapun yang harus Haidar patuhi selama tinggal di rumahnya. Selain itu di dalam hati kecilnya Bryan juga memahami apa yang Haidar dan Belva rasakan jika dirinya terlalu ikut campur dalam rumah tangga mereka. Bryan pernah merasakannya ketika awal pernikahannya dengan Zia tapi rasa kebapak'an nya membuat dirinya bersikap seperti apa yang Faraz lakukan kala itu.
Disaat Bryan membuka mulutnya untuk bicara sesuatu, Tak sengaja netranya tertuju pada Belvana yang tengah duduk termenung sendirian di teras. Membuat Bryan seolah baru tersadar jika bukan hanya Belva saja yang memerlukan kasih sayangnya.
Haidar yang melihat Bryan termangu menatap kearah lain, Ikut menoleh ke belakang. Melihat apa yang sedang Bryan lihat. Kemudian memberanikan diri menyampaikan apa yang ada dalam hatinya.
"Aku tahu Anda begitu menyayangi Belva, Sebab itu Anda bersikap seperti ini kepada ku. Tapi Aku sudah berjanji berkali-kali jika Aku tidak akan pernah lagi menyakiti hatinya maupun mengecewakannya. Berikan kepercayaan itu kepada ku Maka Aku akan mewujudkan janjiku. Selama Aku mewujudkan itu, Anda bisa mencurahkan kasih sayang kepada putri Anda yang lainnya."
Bryan yang mendengar itu langsung menatap Haidar dengan tajam.
"Sebelumnya Aku minta maaf, Tapi... Belvana jauh membutuhkan perhatian dan kasih sayang Anda, Dia telah tinggal jauh dari kedua orang tuanya selama belasan tahun, Dia juga harus kehilangan kekasih yang paling ia cintai. Jadi Aku rasa akan lebih baik jika Anda lebih fokus kepada Belvana supaya ia tidak lagi merasa iri hati dan membenci Belva saudara kembarnya."
Bryan terdiam mencerna apa yang Haidar katakan. Dalam hati kecilnya ia membenarkan apa yang Haidar katakan tapi gengsinya mengakui itu, Membuat bibirnya tidak menerima nasehat itu.
"Pergilah, Aku memanggil mu bukan untuk menggurui ku!"
__ADS_1
Haidar hanya bisa menarik nafas panjang dan pergi meninggalkan Bryan. Baru saja Haidar naik ke atas, Kini Haidar di hentikan oleh Ziyan yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Seperti halnya Papa yang begitu khawatir dan menyayangi Belva, Aku juga demikian, Jadi jika kamu berrrani menyakiti adikku maka Aku tidak akan segan-segan menghajar mu sekalipun kamu jauh lebih tua dariku!"
"Hey... Tenang saja jagoan, Aku tidak akan pernah menyakitinya. Tapi jika itu sampai terjadi maka Aku yang akan menghukum diriku sendiri." setelah mengatakan itu, Haidar berlalu pergi sembari menepuk-nepuk bahu Ziyan yang tidak bisa berkata-kata mendengar ucapannya.
Hari-hari berikutnya Bryan mengikuti apa yang Haidar katakan.
Lebih memberikan perhatiannya pada Belvana dibandingkan mengawasi Belva yang semakin mesra dengan Haidar.
"Ternyata kamu di sini," ucap Haidar sembari menghirup pundak dan menaikan ke tengkuk lehernya. Namun seketika itu juga Haidar yang menyadari jika itu bukanlah Belva langsung memutar tubuh Belvana hingga keduanya saling berhadapan.
Haidar menatap canggung atas apa yang baru saja terjadi. Ia sangat merasa bersalahnya kepada Belva meskipun ia tak sengaja memeluk saudara kembarnya. Sementara Belvana terlihat tenang seolah tak keberatan atas apa yang baru saja Haidar lakukan kepadanya.
"King..." Haidar semakin tegang ketika melihat Belva datang.
__ADS_1
Melihat wajah tegang Haidar dan Belvana yang berada di sana, Belva melangkah penuh curiga.
"Ada apa ini, Kenapa kalian terlihat tegang?"
"Bukan kalian, Tapi suami mu." ujar Belvana yang menatap Haidar dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"King...?"
"A-e... Sayang, Aku mencarimu, Di kamar tidak ada di ruangan lain juga tidak ada, Jadi Aku kesini, A-aku pikir kamu yang berdiri disini tapi tak tahuy, E... Belvana."
"Lalu apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat begitu tegang? Apa kamu memeluknya karena mengira Belvana adalah Aku?"
Haidar langsung terdiam tak tahu jawaban apa yang harus ia berikan.
Bersambung...
__ADS_1